Bus terakhir menurunkan Ranu di ujung jalan kampung ketika matahari sudah miring ke barat. Ia berjalan kaki menyusuri pematang yang ia kenal sejak kecil, melewati parit yang dulu jadi tempatnya menangkap ikan cetul, hingga sampai di rumah papan berkelir hijau pudar milik ibunya. Aroma kayu bakar dan pandan menyambutnya dari dapur. Bu Sri sedang menanak nasi di tungku, punggungnya lebih bungkuk dari terakhir kali Ranu pulang, entah berapa purnama lalu.
"Kamu kurus," kata Bu Sri, tanpa menoleh, seolah tahu langkah anaknya di antara ribuan langkah. "Makan tidak teratur lagi."
Ranu tersenyum, meletakkan tas di bangku. "Shift malam, Bu. Sangkala tidak pernah tidur."
Ibunya menuang teh tanpa gula ke gelas belimbing, cara yang sama sejak Ranu masih bocah. Mereka duduk di amben bambu di beranda. Di dinding tergantung foto hitam-putih yang sudah menguning: seorang lelaki berkumis tipis, mengenakan kemeja lengan pendek, menjinjing tas kulit lusuh. Ayah Ranu. Mantri desa yang tak pernah punya gelar dokter, tapi ke rumahnyalah orang mengetuk ketika tengah malam anak demam, ketika perempuan hendak melahirkan, ketika seseorang tersengat ular sawah.
"Bapakmu suka duduk di situ," kata Bu Sri, mengikuti arah pandang Ranu. "Menunggu orang datang. Katanya, orang sakit tidak kenal jam."
Ranu memutar gelas di tangannya. Ia datang bukan tanpa sebab. Di kepalanya masih berputar wajah-wajah pekan ini: pasien stroke yang dioper meja ke meja, formulir yang ditahan Pak Damar, dan yang paling dalam—selalu paling dalam—wajah Wira di brankar dua tahun lalu, remaja Gang Kenanga Tiga yang napasnya habis sebelum satu pintu pun mau terbuka. Ia butuh mengingat mengapa ia masih bertahan di jalan yang begitu banyak menyakitinya.
"Bu masih ingat Pak Kirdi?" tanya Ranu.
Bu Sri mengangguk. "Yang jatuh dari pohon kelapa itu. Bapakmu menggendongnya sampai jalan raya. Tiga kilometer. Tengah malam, hujan."
Ranu ingat malam itu meski ia baru sepuluh tahun. Ia terbangun oleh ribut-ribut, mengintip dari balik pintu, dan melihat ayahnya membelat kaki Pak Kirdi dengan bilah bambu dan kain sarung. Tangan ayahnya tenang, suaranya rendah dan pasti, menyuruh orang-orang berhenti panik. *Yang penting dia bernapas dulu. Yang lain belakangan.* Kalimat itu, entah bagaimana, mengendap dalam diri Ranu dan tak pernah keluar lagi.
"Waktu itu Bapak bilang," Ranu berhenti sebentar, memilih kata, "tugasnya cuma satu. Menjaga orang tetap hidup sampai tangan yang lebih ahli datang. Aku dulu tidak paham. Sekarang aku paham betul."
Bu Sri menatapnya lama. Ada sesuatu di mata anaknya yang membuatnya meletakkan gelas. "Kamu sedang menanggung apa, Nu?"
Ranu tidak langsung menjawab. Di kejauhan terdengar azan magrib dari surau kampung, suara yang dulu jadi penanda ayahnya pulang membersihkan tas kulitnya, menata gunting, perban, dan botol-botol kecil dengan urutan yang selalu sama. Ia teringat bagaimana ayahnya pernah gagal. Seorang bayi yang tak tertolong karena pendarahan, malam ketika jalan longsor dan tak ada mobil bisa lewat. Ayahnya duduk di beranda ini sampai subuh, tak bicara, tas kulit tergeletak terbuka di pangkuannya.
"Bapak pernah kehilangan pasien, kan, Bu," kata Ranu pelan. Itu bukan pertanyaan.
"Banyak." Suara Bu Sri jujur, tanpa dihaluskan. "Dan tiap kali, dia menua semalam. Tapi paginya dia berangkat lagi. Bapakmu bilang, kalau dia berhenti karena yang satu tak tertolong, siapa yang menolong yang berikutnya."
Ada yang mengetat di dada Ranu. Ia memikirkan Wira. Memikirkan Bu Ipah yang baru saja ia paksakan masuk lewat koneksi pribadi. Memikirkan bahwa satu nyawa yang ia rebut dari kematian tak pernah menghapus yang telah hilang, hanya menambahnya pada timbangan yang tak pernah seimbang.
"Aku takut, Bu," akhirnya ia berkata. Pengakuan itu terasa asing di mulutnya. "Takut aku bertahan cuma karena tak tahu cara berhenti. Bukan karena aku masih percaya bisa mengubah sesuatu."
Bu Sri meraih tangan anaknya, tangan yang kini kasar oleh sarung tangan lateks dan gagang brankar, tak jauh beda dari tangan mendiang suaminya dulu. "Bapakmu tidak pernah bicara soal mengubah dunia, Nu. Dia cuma tahu satu hal. Di depannya ada orang yang butuh napas. Itu saja sudah cukup jadi alasan. Sisanya urusan Yang di Atas."
Ranu menunduk. Di halaman, ayam-ayam mulai naik ke kandang. Bau tanah basah dan asap tungku, bau masa kecil, membungkusnya seperti selimut. Ia teringat tas trauma yang selalu ia periksa dua kali sebelum shift—collar, papan spinal, sungkup oksigen—dan menyadari ia mewarisi kebiasaan itu tanpa sadar, sebagaimana ayahnya menata perban dan gunting. Garis yang menghubungkan mantri desa dengan tas kulit lusuh itu ke paramedis Ambulans Sangkala Satu ternyata tak pernah putus.
"Besok subuh aku harus balik," kata Ranu.
"Aku tahu." Bu Sri bangkit, menepuk bahunya. "Makan dulu. Ada sayur bening. Kamu harus kuat kalau mau menjaga orang tetap hidup."
Malam itu Ranu tidur di kamar lamanya, di bawah foto ayahnya. Sebelum matanya terpejam, ia menatap wajah lelaki yang tak pernah menuntut apa-apa dari dunia selain kesempatan untuk menolong. Besok ia akan kembali ke Kota Sangkala, ke pintu-pintu yang menutup, ke formulir yang ditahan, ke log yang diam-diam ia salin. Konflik itu masih menganga, jauh dari selesai. Tapi untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Ranu tahu persis dari mana ia datang—dan mengapa ia tak boleh berhenti berangkat.
Sirene dalam kepalanya kini terdengar berbeda. Bukan alarm kegagalan. Melainkan panggilan yang sama, yang dulu membuat seorang lelaki berkumis tipis bangkit dari amben bambu ini dan menyongsong gelap. *Yang penting dia bernapas dulu.* Ranu memejamkan mata. Ia pulang, esok, sebagai anak seorang mantri desa.