Hujan turun sejak lepas tengah malam dan belum juga berhenti ketika sirene Ambulans Sangkala Satu membelah genangan di jalan menuju kampung bawah Kelurahan Tambaksari. Ranu memegang pegangan di atas pintu, tubuhnya berayun tiap kali Gilang membanting setir menghindari lubang yang bersembunyi di bawah air cokelat. Lampu kabin menyala kuning lemah, berkedip tiap kali roda menghantam genangan yang lebih dalam dari dugaan.
"Bu Harni bilang ada yang terseret ke saluran," kata Cempaka, setengah berteriak menandingi hujan yang menggebuk atap. Ia menahan tas trauma di antara kedua lututnya supaya tak terguling. "Anak laki-laki. Yang menemukan tetangganya."
Ranu mengangguk tanpa menjawab. Radio di dadanya berdesis, suara Bu Harni datang terputus-putus, tenang seperti biasa meski ada retak tipis di ujungnya. Alamat gang, patokan warung, dan satu kalimat yang membuat perut Ranu mengeras: *air masih naik, hati-hati.*
Gilang menghentikan ambulans di mulut gang yang sudah tak bisa dilewati. Air menggenang selutut, mengalir deras ke arah yang salah, membawa daun, sandal, dan lumpur. Ranu turun lebih dulu, sepatunya langsung tenggelam. Dingin menusuk sampai tulang. Di ujung gang, di bawah cahaya senter ponsel warga, sekelompok orang berdiri mengelilingi sesuatu di bibir saluran.
"Di sini, Pak! Di sini!" Seorang perempuan melambai panik.
Ranu menerobos, tas oksigen di bahu, Cempaka mengekor dengan papan spinal. Di atas tanah becek, seorang anak lelaki terbaring, mungkin dua belas tahun, bibirnya biru, dadanya diam. Air masih menetes dari rambutnya. Seorang bapak berjongkok di sampingnya, menepuk-nepuk pipi anak itu, memanggil nama yang tenggelam dalam gemuruh hujan.
"Sudah berapa lama dia di air?" tanya Ranu, sudah berlutut, jarinya mencari nadi di leher anak itu.
"Nggak tahu, Pak. Barusan kami tarik. Dia main dekat gorong-gorong, terus—" suara bapak itu pecah. "Airnya sedot dia, Pak. Sedot ke bawah."
Nadi ada, samar. Tapi napas tidak. Ranu tak membuang satu detik pun. "Cempaka, sungkup." Ia miringkan sedikit kepala anak itu, menyapu mulutnya dari lumpur, lalu menengadahkan dagunya membuka jalan napas. Cempaka menyodorkan sungkup oksigen, memompa balon dengan irama yang mereka hafal di luar kepala. Satu tiupan. Dua. Dada kecil itu terangkat, lalu turun.
Menit emas. Kata itu berdenyut di kepala Ranu seperti selalu. Otak yang kehabisan oksigen tak menunggu birokrasi, tak menunggu hujan reda. Ia hanya menghitung mundur, diam-diam, tanpa ampun.
Untuk sepersekian detik, tangan Ranu ingat hal lain. Ingat kabin ambulans dua tahun lalu, tubuh lain yang lebih besar tapi sama diamnya, monitor yang meraung lalu mendatar. Ia menekan ingatan itu ke dasar, seperti menekan dada, dan terus bekerja.
"Ayo," bisiknya pada anak itu. "Ayo, Nak."
Pada tiupan keenam, tubuh kecil itu tersentak. Batuk. Air keluar dari mulutnya bersama isak, dan tangis pecah — tangis yang serak, tercekik, paling merdu yang pernah didengar Ranu malam itu. Kerumunan mengerang lega. Sang bapak menutup wajah dengan kedua tangan yang gemetar.
"Miringkan," kata Ranu cepat. Ia memutar tubuh anak itu ke samping, membiarkan sisa air memuntah keluar. "Bagus, Nak, keluarkan semua. Kamu aman."
Mereka memindahkannya ke papan spinal, memasang sungkup, dan mengangkatnya melewati air yang — Ranu menyadarinya sekarang — sudah naik semata kaki lebih tinggi dari saat mereka tiba. Ia menoleh ke saluran. Dan di situlah ia berhenti sejenak, napasnya sendiri tertahan.
Gorong-gorong di ujung gang itu jebol. Bibir betonnya runtuh, besinya menonjol berkarat, dan lubang menganga di baliknya menyedot air kampung seperti mulut yang lapar — lalu memuntahkannya kembali karena tak sanggup menampung. Air tak mengalir ke mana-mana. Ia hanya berputar, meninggi, mencari jalan yang tak ada.
"Sudah lama begini, Pak," kata seorang perempuan tua di sampingnya, seolah membaca pikirannya. "Kami lapor ke kelurahan. Musim kemarin juga. Katanya mau diperbaiki." Ia tertawa kecil, pahit. "Yang datang cuma hujan."
Ranu tak menjawab. Ia menatap air itu, cara ia bergerak, cara ia tak mau surut. Ada sesuatu di situ yang membuat tengkuknya dingin bukan karena basah. Kampung ini rendah. Saluran ini mati. Dan langit di atas Kota Sangkala, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, sudah dua pekan tak benar-benar cerah.
"Ranu." Cempaka sudah di ambulans, memegangi pintu. "Nadinya stabil. Tapi kita harus jalan sebelum bannya tenggelam."
Ia berlari kembali, air memercik sampai ke pinggang. Gilang menghidupkan mesin, dan roda ambulans berputar sesaat di lumpur sebelum menggigit. Di kabin, anak itu sudah sadar penuh, matanya membeliak ketakutan di balik sungkup, tapi hidup — hidup dengan seluruh kekurangajaran usianya. Ranu meremas bahu kecil itu.
"Namamu siapa?"
"...Adi," anak itu menjawab lemah.
"Adi. Kamu tadi bikin bapakmu tua sepuluh tahun." Anak itu nyaris tersenyum. Ranu tak balas tersenyum. Ia hanya menahan tangannya di sana, merasakan dada itu naik-turun, membuktikan pada dirinya sendiri berulang-ulang bahwa yang satu ini tidak lepas.
Lewat radio, ia melapor ke Pos Sangkala. Bu Harni menerima, menuliskan, menutup dengan satu pertanyaan yang biasa: rumah sakit tujuan. Ranu menyebut RS Karyahusada — bukan RS Sentana, tak pernah lagi kalau bisa dihindari — dan Bu Harni mengiyakan tanpa perlu bertanya kenapa.
"Ranu," suara Bu Harni datang lagi, lebih pelan, hampir tenggelam dalam derau. "Kau di kampung bawah?"
"Iya, Bu."
Jeda sesaat. Hanya hujan dan statik.
"Aku baca laporan cuaca sore tadi. Yang dari Dinas." Ranu menunggu. "Mereka bilang aman. Curah normal untuk musim ini."
Ranu menatap keluar jendela, ke gang-gang yang berkilau hitam oleh air, ke rumah-rumah yang lantainya sudah mulai basah, ke selokan yang tak lagi tahu ke mana harus mengalir. Ia teringat gorong-gorong yang jebol itu, besinya yang berkarat, tawa pahit perempuan tua tadi. *Yang datang cuma hujan.*
"Bu Harni," katanya akhirnya, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Simpan laporan cuaca itu. Yang malam ini juga. Semuanya."
"Kenapa?"
Ranu tak tahu persis kenapa. Hanya firasat, dingin dan tumpul, yang duduk di dasar perutnya seperti batu. Ia menoleh sekali lagi ke belakang, ke arah kampung yang menjauh dan menghilang di balik tirai hujan, dan untuk pertama kalinya ia merasa apa yang mereka tolong malam ini bukanlah satu anak yang nyaris tenggelam — melainkan gladi resik untuk sesuatu yang jauh lebih besar, yang belum punya nama, yang sedang mengumpulkan tenaga di suatu tempat di atas atap Kota Sangkala.
"Simpan saja, Bu," katanya. "Firasatku sedang tidak enak."
Radio berdesis, lalu diam. Di luar, hujan menggebuk lebih keras, dan air terus naik.