Siang itu, Alina menghabiskan waktu di dapur.
Dia memasak untuk seluruh keluarga, mencuci piring yang menumpuk, kemudian membersihkan meja makan. Ketika akhirnya selesai, punggungnya terasa pegal dan perutnya mulai keroncongan.
Dia baru hendak mengambil makanan ketika Citra datang.
Adik bungsu Dimas itu meletakkan tasnya di kursi, lalu memandangi lauk di atas meja.
“Alina, ini saja makan siangnya?”
Alina menoleh.
“Ada ayam goreng, sayur sop, dan sambal, Cit.”
Citra mengerutkan hidung.
“Aku bosan makan seperti ini.”
“Kalau kamu mau makanan lain, aku bisa—”
“Sudahlah. Nanti saja.”
Citra mengambil ponselnya.
“Lain kali, kalau memasak, buat yang lebih enak. Jangan karena kalian tinggal di sini, semua orang harus ikut makan seadanya.”
Alina membeku.
Padahal dia memasak dengan bahan-bahan yang tersedia di dapur. Dia bahkan belum sempat makan karena menunggu seluruh pekerjaan selesai.
Citra kemudian melangkah pergi. Alina memandangi meja makan yang penuh hidangan. Tiba-tiba, selera makannya menghilang.
“Belum makan?”
Suara Dimas membuatnya menoleh.
Suaminya berdiri di pintu dapur dengan tongkat di tangan.
Alina buru-buru tersenyum.
“Sebentar lagi.”
Dimas melihat meja makan, lalu menatap wajah istrinya.
“Citra mengatakan sesuatu?”
“Tidak.”
“Alina,” panggil Dimas, tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.
Alina menghela napas.
“Dia cuma tidak suka masakanku.”
Dimas diam sesaat.
Kemudian dia menarik kursi dan duduk di dekat meja.
“Kalau begitu, kita makan berdua.”
Alina menatapnya.
“Tapi Mas belum makan siang.”
“Makanya. Temani aku.”
Dimas mengambil dua piring, lalu menyendokkan nasi untuk mereka berdua. Gerakannya memang lebih lambat daripada dulu, tetapi dia tetap berusaha melakukan semuanya sendiri.
Alina duduk di sampingnya.
Mereka makan dalam diam selama beberapa menit kemudian Dimas mengambil sepotong ayam dan meletakkannya di piring Alina.
“Makan yang banyak.”
Alina menatapnya dengan senyum kecil.
“Mas juga.”
Dimas mengangguk.
Di tengah rumah besar yang dipenuhi orang-orang yang tidak menghargai mereka, meja makan sederhana itu menjadi satu-satunya tempat di mana Alina masih merasa diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Dia tidak membutuhkan rumah mewah. Tidak membutuhkan pakaian mahal. Dia hanya ingin menjalani hidup bersama suaminya tanpa harus merasa bersalah karena keadaan mereka.
Namun, sebelum mereka menyelesaikan makan siang, suara Raka kembali terdengar dari ruang tengah.
“Dimas! Sini sebentar!”
Dimas meletakkan sendoknya.
Alina langsung menegang.
“Mas, jangan bilang dia menyuruhmu melakukan sesuatu lagi.”
Dimas berdiri perlahan.
“Aku lihat dulu.”
“Mas—”
“Tenang, Lin.”
Dimas menggenggam tongkatnya, lalu berjalan menuju ruang tengah.
Raka sedang duduk di sofa sambil memegang beberapa dokumen. Ketika melihat Dimas, dia menunjuk sebuah kardus besar di dekat pintu.
“Pindahkan itu ke gudang.”
Dimas mengikuti arah telunjuk kakaknya.
Kardus itu terlihat berat.
“Kak, apa tidak bisa meminta bantuan orang lain?”
Raka mengangkat wajahnya.
“Apa maksudmu?”
“Kakiku masih sakit. Aku takut tidak kuat mengangkatnya.”
Raka tertawa sinis.
“Sekarang mengangkat kardus saja tidak mampu?”
Dimas terdiam.
“Kamu itu laki-laki, Dimas. Jangan terus-terusan menggunakan kakimu sebagai alasan.”
Wajah Dimas mengeras.
Untuk pertama kalinya hari itu, dia menatap Raka tanpa segera menunduk.
“Aku tidak menggunakan kondisiku sebagai alasan. Aku hanya tidak ingin memperparah cederaku.”
Raka berdiri.
“Dengar, ya. Selama kamu tinggal di rumah ini, jangan bertingkah seolah-olah semua orang harus menyesuaikan diri denganmu.”
Alina yang menyusul dari dapur berhenti di ambang pintu.
Raka melanjutkan, “Aku sudah memberimu pekerjaan mencuci mobil. Sekarang aku meminta bantuan kecil saja kamu banyak bicara.”
“Kak Raka, Mas Dimas masih dalam masa pemulihan. Bisakah kak Raka tidak memberinya pekerjaan yang terlalu berat?” sela Alina.
Raka langsung menoleh tajam.
“Siapa yang mengizinkanmu ikut campur?”
Alina terdiam, tetapi tidak mundur.
“Dia adik kandung Kakak.”
“Justru karena dia adikku, aku masih mau membantunya. Kalau orang lain, mana mau mereka mempekerjakan pria dengan kaki seperti itu?”
Ruangan mendadak hening.
"Kalian pikir tinggal di rumah ini gratis? Setidaknya ada kontribusi dari kalian kalau tidak bisa ikut membantu bayar listrik dan air di rumah ini," sambung Raka.
Dimas menundukkan wajah.
Alina merasakan air matanya menggenang, tetapi dia berusaha menahannya. Raka kemudian menunjuk kardus itu sekali lagi.
“Pindahkan. Sekarang.”
Dimas memandang kakaknya selama beberapa detik. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia berjalan mendekati kardus tersebut.
Alina ingin menghentikannya, namun ketika melihat ekspresi suaminya, dia mengurungkan niat.
Dimas mungkin sedang terluka.
Tetapi dia juga sedang berusaha mempertahankan sisa harga dirinya dengan caranya sendiri dan Alina berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan suaminya terus hidup seperti ini selamanya.
Suatu hari nanti, mereka akan meninggalkan rumah itu.
Mereka akan membangun kehidupan sendiri. Mereka akan memiliki sesuatu yang tidak bisa dirampas atau dihina siapa pun.
Alina belum tahu bagaimana caranya. Dia juga belum tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan.
“Alina!”
Suara Marini terdengar dari dalam rumah, memecah keheningan sore yang baru saja turun.
Alina yang masih berdiri di halaman, menatap suaminya dengan mata sembap, segera mengusap sudut matanya. Ia tidak ingin Dimas melihat air mata yang sejak tadi susah payah ditahannya.
Namun, Dimas sudah melihat semuanya.
“Masuklah, Lin,” ucap Dimas pelan. “Ibu pasti membutuhkan bantuanmu.”
Alina menoleh. “Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku tidak apa-apa.”
Kalimat itu lagi.
Sejak kecelakaan yang mengubah hidup mereka, Dimas selalu mengatakan dirinya baik-baik saja. Ketika kakinya terasa nyeri, ketika ia kesulitan berjalan, ketika ia harus menerima pekerjaan-pekerjaan yang merendahkan harga dirinya, lelaki itu selalu memasang wajah seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Padahal Alina tahu, Dimas sedang berusaha keras menyembunyikan luka yang jauh lebih dalam daripada cedera di kakinya.
“Mas, kamu tidak harus selalu berpura-pura kuat di depanku,” bisik Alina.
Dimas terdiam.
Untuk sesaat, sorot matanya melembut. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya lelah. Bahwa setiap hari di rumah ini terasa seperti hukuman. Bahwa ia ingin membawa Alina pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang terus melukai mereka.
Namun, sebelum satu pun kalimat keluar dari bibirnya, suara Marini kembali terdengar.
“Alina! Apa kamu tuli? Ibu menyuruhmu masuk!”
Alina menarik napas panjang.
“Iya, Bu. Saya masuk.”
Ia berbalik, tetapi Dimas lebih dahulu meraih tangannya.
“Maafkan aku.”
Dua kata itu membuat d**a Alina terasa sesak. Ia menatap suaminya, lalu menggeleng pelan.
“Jangan minta maaf untuk sesuatu yang tidak kamu lakukan, Mas.”
Setelah berkata demikian, Alina melangkah masuk ke rumah besar keluarga Ardhana.
Rumah yang megah, tetapi terasa begitu dingin bagi mereka.