Pada akhirnya pertarungan adalah satu-satunya cara yang dapat Aident lakukan demi tetap bertahan hidup di tengah kepungan kawanan serigala lapar. Walau ia diterjang kewalahan lantaran jumlah musuh yang tidak seimbang, mau tidak mau Aident harus tetap mempertahankan serangannya. Tidak ada jeda, boro-boro, ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengambil napas barang sejenak sebelum bertarung padahal ia habis berlari kencang. Kawanan serigala itu seolah senang melihatnya menderita ngos-ngosan di tengah pertarungan sengit ini.
Dengan sisa tenaga dan napas terakhir yang Aident miliki, ia berusaha mati-matian menghindari setiap serangan yang selalu muncul dari segala sisi. Tiap kali ia berhasil menghalau satu serangan, serangan-serangan berikutnya datang bergantian cenderung bertubi-tubi mengincarnya dari arah yang tidak pernah ia duga.
Satu serigala menerjang dari sisi kiri. Aident memutar tubuhnya, menangkis dengan sisi tumpul pedangnya, lalu menendang perut binatang itu hingga terlempar menabrak akar pohon. Belum sempat ia menarik napas, dua ekor lain sudah melompat bersamaan dari depan dan belakang.
Ia menjatuhkan diri.
Kedua serigala itu bertabrakan di udara tepat di atas punggungnya, mengaing kesakitan, lalu berguling ke tanah dalam gumpalan bulu kelabu.
Aident bangkit dengan lutut gemetar.
Sepuluh. Tadi ada sepuluh. Sekarang mungkin tinggal tujuh yang masih sanggup berdiri, tetapi tujuh pun sudah lebih dari cukup untuk seseorang yang belum makan sejak kemarin pagi dan baru saja berlari sejauh dua mil menuruni lereng berbatu.
Pandangannya mulai berbayang di tepi.
Tidak sekarang, batinnya. Jangan sekarang.
Seekor serigala bertubuh paling besar—pemimpin kawanan itu, Aident yakin—melangkah maju perlahan. Binatang itu tidak terburu-buru. Ia sudah melihat apa yang dilihat Aident sendiri: bahwa manusia di hadapannya sedang menghitung mundur menuju akhir tenaganya.
Aident mengangkat pedangnya dengan kedua tangan.
“Kalau kau mau,” bisiknya serak, “ayo.”
Serigala itu merendahkan tubuhnya.
Lalu melompat.
Dan pada saat itulah, sesuatu berdesing memotong udara dari arah pepohonan di sebelah kanan.
Sebilah pedang berputar melintasi jarak sepuluh langkah dan menghantam serigala itu tepat di bahu, membanting tubuhnya ke samping sebelum cakarnya sempat menyentuh Aident sama sekali.
“BERTAHAN, PANGERAN!”
Aident mengenali suara itu bahkan sebelum otaknya sempat memproses kata-katanya.
Yosh melompat turun dari dahan rendah, mendarat berguling, mencabut pedangnya kembali dari bahu serigala dalam satu gerakan mulus, lalu berdiri membelakangi Aident dengan punggung menempel ke punggungnya.
“Kau terlambat,” ucap Aident terengah.
“Aku mendengar suara ributmu dari setengah mil. Kau bertarung seperti orang menebang pohon.”
“Aku bertarung melawan sepuluh serigala.”
“Tujuh.”
“Tadi sepuluh!”
Yosh tertawa, dan bunyi tawa itu—entah bagaimana—mengembalikan sesuatu ke dalam kaki Aident yang tadi sudah hampir menyerah.
“Baik, Pangeran. Tujuh sekarang.” Yosh memutar pergelangan tangannya. “Bagi dua?”
“Kau ambil empat.”
“Kenapa aku empat?”
“Karena kau baru datang.”
Yosh menghitung cepat ke sekeliling mereka.
“Lima,” ucapnya.
“Tadi tujuh.”
“Dua yang kau lempar ke akar pohon itu belum bangun lagi. Aku tidak akan menghitung yang belum bangun.” Yosh merendahkan kuda-kudanya. “Lima, Pangeran. Dan mereka sudah berhenti terburu-buru.”
Aident menoleh sedikit.
Yosh benar. Kelima serigala yang tersisa tidak lagi menerjang serampangan seperti tadi. Mereka melebar, mengambil jarak, bergerak memutar dengan langkah pendek-pendek—satu di depan, dua di sisi, dua lagi menghilang ke balik semak untuk muncul dari belakang.
Mereka sedang mengatur formasi.
“Serigala tidak bertarung seperti ini,” bisik Aident.
“Aku tahu.”
“Serigala menyerang yang paling lemah, lalu kabur kalau perlawanannya terlalu mahal.”
“Aku tahu, Pangeran.”
“Kawanan ini sudah kehilangan lima ekor dan mereka masih di sini.”
Yosh tidak menjawab.
Aident merasakan punggung pria itu menegang di balik punggungnya sendiri, dan ia tahu bahwa Yosh sudah lebih dulu sampai pada kesimpulan yang sama.
Binatang-binatang ini tidak sedang berburu makanan.
Mereka sedang menahan.
“Yosh.”
“Ya, Pangeran.”
“Kisha hilang dua hari lalu.”
Kepala Yosh menoleh secepat kilat. “Apa?”
“Kami terpisah di dekat sungai. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya ke arah timur, dan ketika aku menyusul, jejaknya sudah hilang.” Aident menahan pedangnya lebih erat. “Aku sudah mencari sepanjang siang. Kawanan ini menemukanku sebelum aku menemukan apa pun.”
“Lilian juga sendirian,” ucap Yosh cepat. “Dia turun tebing Verdesia kemarin sore. Kami berpisah supaya bisa mengapit hutan dari dua sisi.”
“Kau membiarkannya turun tebing sendirian?”
“Dia yang memilih. Dan sebelum kau mengatakannya, ya, aku sudah menyesalinya sejak langkah pertamaku meninggalkan tempat itu.”
Serigala di depan mereka menggeram rendah, panjang, hampir seperti aba-aba.
“Dua orang terpisah dalam dua hari,” ucap Yosh, suaranya berubah. “Di hutan yang sama. Dan sekarang kawanan yang menolak mundur.”
“Kau memikirkan hal yang sama denganku?”
“Kalau yang kau pikirkan adalah bahwa ini bukan kebetulan,” Yosh mengangkat pedangnya, “maka ya.”
“Glacio.”
Nama itu diucapkan pelan sekali, hampir tidak terdengar di antara geraman.
Tapi hutan itu—entah bagaimana—terasa seperti mendengarnya.
Angin berhenti. Bukan mereda; berhenti. Daun-daun yang tadi bergoyang mendadak menggantung diam di dahannya, dan seluruh suara serangga malam yang sejak tadi memenuhi latar lenyap sekaligus, seperti seseorang menutup pintu.
Bulu kuduk Aident berdiri.
“Yosh.”
“Aku merasakannya.”
“Ibuku pernah bilang sesuatu sebelum kita berangkat.”
“Yang tentang kabut?”
“Yang tentang kabut.”
Kelima serigala itu berhenti bergerak.
Serentak. Semuanya. Seolah ada tali tak terlihat yang ditarik pada saat yang sama.
Aident menahan napas.
“Yosh, mereka—”
Kelimanya menyerang sekaligus.
Bukan bergantian seperti tadi, bukan satu-satu mencoba peruntungan. Lima arah, satu waktu, dengan jarak tempuh yang diperhitungkan sedemikian rupa sehingga kelimanya tiba di titik yang sama pada detik yang sama.
Aident menebas ke kiri, Yosh menebas ke kanan, dan keduanya berputar mengikuti punggung masing-masing seperti satu tubuh dengan dua kepala.
Bunyi tebasan. Bunyi cakar menggores kulit pelindung. Bunyi geraman yang berubah menjadi pekik.
Ketika Aident akhirnya sempat menarik napas lagi, dua serigala sudah tergeletak, dan tiga sisanya mundur sejauh lima langkah—terluka, terengah, tetapi masih berdiri.
Masih menolak pergi.
“Mereka tidak akan mundur,” ucap Yosh terengah.
“Aku tahu.”
“Sesuatu menahan mereka di sini, Pangeran.”
Aident menyeka darah di pelipisnya dengan punggung tangan dan menegakkan pedangnya kembali.
“Kalau begitu,” ucapnya, “kita selesaikan dulu yang di depan mata.”
Ketiga serigala itu merendahkan tubuh mereka bersamaan.
Dan hutan Verdesia, yang sejak tadi sunyi tanpa satu pun suara serangga, menunggu.