Entah sudah berapa jam Kisha terjebak dalam sangkar perangkap yang mengurung dan menggantung tubuhnya di bawah pucuk pohon tinggi. Yang jelas sekarang hari sudah petang tetapi ia masih belum menemukan cara untuk membebaskan diri. Busur sakti warisan ayahnya yang bisa memunculkan panah gaib hanya dengan menarik tali busurnya, sialnya tidak sengaja terjatuh saat ia terseret naik ke atas tadi. Kini ia jadi semakin tidak bisa berbuat apa-apa.
Ah, sebetulnya kalaupun busur itu tidak terjatuh pun benda itu tetap tidak akan berguna sih. Pasalnya pergerakannya sangat terbatas di ruang sempit ini. Mana bisa ia memanah? Boro-boro, bahkan ukuran busurnya saja masih lebih panjang dari tinggi sangkar ini.
Beruntung setidaknya ransel berisi perbekalan yang menempel di punggungnya ikut terjebak bersamanya, tersangkut di antara jeruji bambu di sisi bawah sangkar.
Kisha menariknya masuk dengan susah payah, membukanya di pangkuan, dan menghitung isinya untuk kesekian kali hari ini.
Dua bungkus roti kering. Satu kantong air yang tinggal seperempat. Sebilah pisau kecil untuk mengupas. Gulungan tali sepanjang lima langkah. Dan sekotak kecil ramuan luka pemberian tabib istana yang bahkan belum sempat ia buka sejak berangkat.
Pisau kecil.
Kisha menatap benda itu lama sekali.
Jeruji sangkar ini terbuat dari bambu tua yang diikat dengan tali serat, bukan dipaku. Kalau ia sabar—kalau ia sangat, sangat sabar—mungkin ia bisa mengiris salah satu ikatannya sampai putus.
Masalahnya cuma satu: sangkar ini menggantung sekitar dua belas tombak di atas tanah.
Membebaskan diri dari sangkar dan jatuh dari ketinggian dua belas tombak adalah dua jenis kematian yang berbeda, dan Kisha belum memutuskan mana yang lebih ia sukai.
Ia menyandarkan punggungnya ke jeruji dan memejamkan mata.
Aident pasti sudah mencariku, batinnya. Dia pasti sudah menyusuri sungai itu dari ujung ke ujung.
Lalu, karena ia sudah cukup lama mengenal dirinya sendiri untuk tahu bahwa harapan tanpa rencana hanyalah cara halus untuk menyerah, Kisha membuka matanya kembali dan mulai bekerja.
***
Ikatan pertama putus setelah hampir satu jam.
Tangannya sudah lecet di tiga tempat, dan pisau kecil itu tumpul di ujungnya, tetapi satu jeruji akhirnya bisa digeser ke samping sejauh dua jari.
Kisha menyandarkan dahinya ke bambu dan tertawa pelan, kelelahan.
Dua jari. Setelah satu jam.
Ia memiliki sepuluh jeruji lagi, dan malam sudah turun sepenuhnya.
Suara-suara hutan berubah di sekelilingnya. Yang tadinya kicau burung sekarang menjadi bunyi-bunyi rendah yang tidak selalu bisa ia kenali, dan setiap kali ada ranting patah di bawah sana, seluruh tubuhnya menegang menunggu sesuatu.
Sekitar tengah malam, sangkar itu bergoyang.
Bukan karena angin.
Kisha membuka matanya dan menahan napas.
Goyangannya datang lagi—pendek, dari arah tali penggantung di atas—seperti sesuatu yang merambat turun.
Tangan Kisha meraih pisau kecilnya.
“Siapa di sana?” serunya.
Tidak ada jawaban.
Goyangan lagi. Lebih dekat.
“Aku bilang, siapa di sana!”
“Ssst!” Suara perempuan, berbisik keras dari kegelapan di atas. “Jangan berteriak! Kau mau memanggil seluruh isi hutan ke sini?”
Kisha membeku.
“Siapa kau?”
“Orang yang sedang menggantung terbalik di tali sepanjang enam tombak dan tangannya mulai kram, jadi tolong jangan banyak bertanya dulu.”
Sesuatu bergeser di atas, lalu sebuah wajah muncul terbalik di celah antara jeruji atas—rambut panjang yang terjuntai ke bawah, dahi berkeringat, dan sepasang mata yang menyipit berusaha melihat dalam gelap.
“Kau Kisha, ya?” tanya perempuan itu.
“Bagaimana kau tahu namaku?”
“Karena aku sudah dua hari mencari perempuan yang katanya hilang di hutan ini, dan tidak mungkin ada dua perempuan sekaligus yang cukup sial untuk tergantung di sangkar pemburu.” Ia meringis. “Namaku Lilian. Aku adik Yosh.”
Kisha mengerjap.
“Yosh? Yosh yang—”
“Yosh yang itu, iya.” Lilian mengulurkan sebelah tangannya lewat celah. “Sekarang tolong pegang ini, karena aku benar-benar tidak yakin berapa lama lagi kakiku bisa menahan berat badanku sendiri.”
***
Butuh waktu hampir dua jam bagi mereka berdua untuk melakukan apa yang gagal dilakukan Kisha sendirian selama satu hari penuh.
Lilian punya sesuatu yang tidak dimiliki Kisha: pisau berburu yang layak, dan pengetahuan tentang cara kerja sangkar pemburu.
“Jangan potong jerujinya,” ucapnya sambil menggantung. “Bodoh. Potong tali penggantungnya.”
“Kalau talinya putus, aku jatuh dua belas tombak!”
“Iya, kalau kau tidak menyiapkan tali kedua dulu.” Lilian melemparkan gulungan tali dari ranselnya sendiri. “Ikat ini ke pinggangmu. Ujung satunya sudah kuikat di dahan besar di atas. Kalau sangkarnya jatuh, kau tidak ikut jatuh."
Kisha menangkap tali itu dan menatapnya.
“Kau sudah memikirkan ini sejak tadi?”
“Aku memikirkannya sejak melihat sangkarnya dari kejauhan sore tadi.” Lilian menyeka keringat dari dahinya. “Aku cuma butuh waktu untuk memanjat pohonnya, karena rupanya pohon ini jauh lebih tinggi daripada kelihatannya dari bawah.”
Kisha mengikat tali itu ke pinggangnya dengan simpul ganda, menariknya dua kali untuk memastikan.
“Siap?” tanya Lilian.
“Tunggu.”
“Apa lagi?”
Kisha memandangi perempuan yang menggantung terbalik di hadapannya—asing, kelelahan, dengan lecet di kedua telapak tangan dan lumpur kering di sekujur lengannya—dan merasakan sesuatu menyesak di dadanya.
“Kenapa kau menolongku?” tanyanya. “Kau bahkan tidak mengenalku.”
Lilian menatapnya seolah pertanyaan itu adalah hal paling bodoh yang pernah ia dengar.
“Karena kau tergantung di dalam sangkar,” jawabnya.
“Itu saja?”
“Memangnya perlu alasan lain?”
Dan entah kenapa, di ketinggian dua belas tombak, di tengah hutan yang sedang menahan napas, Kisha justru tertawa.
“Sudah?” tanya Lilian. “Boleh kupotong sekarang?”
“Potong.”
Bunyi tali putus terdengar tiga kali lebih keras daripada seharusnya.
Sangkar itu meluncur jatuh, menghantam tanah di bawah dengan bunyi hancur yang menggema ke seluruh lembah, sementara Kisha berayun liar di udara dengan tali di pinggangnya dan jantung yang mendadak berpindah ke tenggorokan.
Ia berputar dua kali sebelum akhirnya berhenti, tergantung, terengah-engah, hidup.
“Masih hidup?” seru Lilian dari atas.
“Masih!”
“Bagus! Sekarang jangan bergerak dulu, aku turunkan pelan-pelan!”
***
Mereka mendarat di tanah hutan sekitar pukul dua pagi.
Kisha langsung menjatuhkan diri ke rerumputan dan berbaring telentang, membiarkan seluruh tubuhnya merasakan tanah yang keras dan nyata dan tidak bergoyang.
Lilian menjatuhkan diri di sebelahnya.
“Terima kasih,” ucap Kisha.
“Nanti saja terima kasihnya.”
“Kenapa nanti?”
Lilian tidak langsung menjawab. Perempuan itu duduk dan menoleh ke arah selatan, ke arah bagian hutan yang lebih rapat, dan ekspresinya berubah.
Kisha ikut duduk.
“Kenapa?”
“Kau merasakannya?”
Kisha membuka mulut untuk bertanya apa maksudnya.
Lalu ia sadar.
Angin.
Tidak ada angin. Sejak tadi—sejak sangkar itu jatuh, mungkin bahkan sebelumnya—tidak ada satu helai daun pun yang bergerak, dan tidak ada satu pun suara serangga di hutan yang seharusnya penuh oleh suara serangga di jam-jam seperti ini.
Dan di kejauhan, di antara batang-batang pohon di sisi selatan, sesuatu berwarna kelabu keperakan bergerak merayap di permukaan tanah.
Menggulung. Mendekat.
“Lilian,” bisik Kisha, dan tanpa berpikir ia meraih tangan perempuan itu. “Jangan lepaskan tanganku.”
“Kenapa?”
“Apa pun yang kaulihat sebentar lagi,” ucap Kisha, “jangan lepaskan tanganku.”