Suara geraman yang saling bersahutan dengan suara tebasan pedang seolah menjadi musik latar utama dalam aksi pertarungan Aident dan Yosh melawan lima ekor serigala buas nan lapar. Kedua Mottarian itu bergerak lincah ke sana kemari menghindari setiap serangan terkaman atau cakaran para serigala. Lantas gantian melancarkan serangan balasan yang tidak main-main. Ayunan pedang mereka hampir tidak pernah meleset memberi tusukkan atau setidaknya goresan pada tubuh para serigala yang mereka incar sebagai target pelampiasan emosi.
Beberapa waktu berlalu, keadaan para serigala sudah lecet-lecet di mana-mana. Pandangan mereka juga sayu dan serangan mereka melemah. Jujur melihat itu Aident jadi merasa iba pada binatang-binatang hutan tak bersalah ini. Mereka menyerang bukan semata-mata karena mendapat makanan.
Ada sesuatu yang mendorong mereka dari belakang. Sesuatu yang membuat binatang-binatang ini menolak mundur padahal seluruh naluri mereka pasti sudah menjerit menyuruh pergi sejak lima ekor pertama tumbang.
“Yosh,” panggil Aident di sela napasnya yang memburu.
“Ya, Pangeran.”
“Jangan bunuh mereka.”
Yosh menoleh dengan alis terangkat. “Apa?”
“Lumpuhkan saja. Jangan bunuh.”
“Pangeran, mereka sedang mencoba memakan kita.”
“Mereka sedang dipaksa mencoba memakan kita.” Aident menangkis terkaman dengan sisi tumpul pedangnya, lalu memukul sisi kepala serigala itu dengan gagangnya hingga binatang tersebut terhuyung dan roboh, pingsan tanpa luka. “Lihat matanya, Yosh. Lihat baik-baik.”
Yosh melirik ke arah serigala terakhir yang masih berdiri.
Dan ia melihatnya.
Mata binatang itu tidak seperti mata pemangsa. Tidak ada perhitungan di sana, tidak ada lapar, tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah semacam kekosongan keruh, seperti permukaan air yang membeku, dan di baliknya—jauh di baliknya—ada sesuatu yang tampak seperti ketakutan.
“Demi Mottania,” gumam Yosh.
Serigala terakhir itu melompat.
Yosh memutar tubuhnya, menghantam dada binatang itu dengan bahunya alih-alih pedangnya, dan keduanya bergulingan di tanah sampai membentur akar pohon. Ketika Yosh akhirnya bangkit, serigala itu tergeletak dengan napas tersengal, hidup, tidak lagi sanggup berdiri.
Hutan itu sunyi.
Aident menancapkan pedangnya ke tanah dan bersandar padanya dengan kedua tangan, membiarkan kepalanya menunduk.
“Lima,” ucapnya. “Semuanya hidup?”
“Semuanya hidup.”
“Bagus.”
“Pangeran.”
“Hm?”
“Kalau memang ada yang mengendalikan mereka,” ucap Yosh pelan, “apa yang terjadi pada mereka setelah kita mengalahkan semuanya?”
Aident mengangkat wajahnya.
Dan pertanyaan itu terjawab sebelum ia sempat mengucapkan satu kata pun.
Kelima serigala yang tergeletak di sekeliling mereka—yang tadinya tersengal, yang tadinya bergerak-gerak lemah—mendadak diam serentak.
Bukan mati. Aident bisa melihat dada mereka masih naik turun.
Melainkan diam. Seperti benda yang dilepaskan.
Lalu, dari tubuh kelimanya sekaligus, sesuatu yang tipis dan berwarna kelabu keperakan mengepul keluar. Mengalir dari moncong, dari sela bulu, dari sudut mata mereka, naik ke udara seperti asap yang terbalik.
Uap itu berkumpul di atas mereka, berputar pelan, dan mulai turun kembali ke tanah.
“Mundur,” ucap Aident.
“Pangeran—”
“MUNDUR, YOSH!”
Keduanya melompat ke belakang tepat ketika kabut itu menyentuh permukaan tanah dan langsung menyebar ke segala arah, jauh lebih cepat daripada yang seharusnya bisa dilakukan kabut mana pun di dunia.
Dalam tiga tarikan napas, kabut itu sudah setinggi lutut.
Dalam lima, setinggi dada.
“Punggung ke punggung!” seru Yosh.
Aident merapatkan punggungnya ke punggung pria itu dan mencengkeram pedangnya dengan kedua tangan.
“Ingat pesan Ratu!” seru Yosh lagi. “Apa pun yang kaulihat—”
Suaranya terputus.
Bukan mengecil. Terputus, seolah seseorang memotongnya di tengah kata.
“Yosh?”
Tidak ada jawaban.
Aident menekan punggungnya ke belakang, mencari tekanan punggung Yosh yang sejak tadi ada di sana.
Tidak ada apa-apa.
“YOSH!”
Suaranya sendiri terdengar aneh di telinganya—teredam, seperti berteriak di dalam kain tebal. Kabut sudah naik melewati bahunya sekarang, dan warna kelabu keperakan itu perlahan menelan bahkan ujung pedangnya sendiri.
Dingin.
Bukan dingin udara pegunungan. Bukan dingin air sungai di pagi hari. Ini dingin yang masuk lewat kulit dan berhenti di tulang, dingin yang membuat seluruh persendiannya terasa seperti berkarat.
Aident memaksa dirinya berdiri tegak.
Aku sudah tahu, batinnya. Aku sudah tahu ini kabut ilusi. Aku tidak akan percaya apa pun.
Suara langkah kaki terdengar di depannya.
Pelan. Ringan. Langkah yang ia kenal.
Aident menajamkan pandangannya ke dalam kelabu, dan sesosok bayangan perlahan terbentuk di sana—tinggi sepinggangnya, berjalan mendekat dengan cara berjalan yang sudah ia hafal sejak masih kecil.
Jangan, batinnya. Jangan yang ini.
Sosok itu keluar dari kabut.
Seorang anak laki-laki berumur sekitar delapan tahun, dengan mantel biru tua yang kebesaran dan rambut yang tidak pernah mau rapi, berdiri di hadapannya sambil memegangi pedang kayu di tangan kanan.
Aident merasakan seluruh tubuhnya membeku.
Karena ia mengenali anak itu.
Karena anak itu adalah dirinya sendiri.
***
“Kau terlambat,” ucap anak itu.
Aident tidak menjawab.
Bohong, batinnya. Ini bohong. Ini cuma kabut. Ini cuma Glacio.
“Kau selalu terlambat.” Anak itu memiringkan kepalanya. “Kau terlambat waktu Ayah dibawa pergi. Kau terlambat waktu menara timur runtuh. Kau terlambat waktu Kisha memanggilmu di dekat sungai dua hari yang lalu.”
“Kau bukan aku.”
“Aku memang bukan kau.” Anak itu tersenyum, dan senyum itu sama sekali bukan senyum anak-anak. “Aku cuma bagian dari dirimu yang sudah tahu semuanya sejak awal, dan yang kau suruh diam setiap malam.”
Aident mengangkat pedangnya.
“Kau mau menebasku?” Anak itu merentangkan kedua tangannya. “Silakan. Aku memang tidak nyata.”
Tangan Aident bergetar.
“Tapi sebelum itu,” lanjut anak itu, “boleh aku bertanya satu hal?”
“Diam.”
“Kenapa kau berhenti mencari Kisha kemarin sore?”
Aident membeku.
“Kau berhenti di dekat batu besar itu,” ucap anak itu pelan. “Kau duduk selama hampir satu jam. Kau bilang pada dirimu sendiri bahwa kau kelelahan, bahwa kau butuh tenaga untuk melanjutkan besok.”
“Aku memang kelelahan.”
“Kau memang kelelahan.” Anak itu mengangguk. “Tapi bukan itu alasan kau berhenti, kan?”
Aident tidak menjawab.
“Kau berhenti karena selama satu jam itu,” ucap anak kecil dengan wajahnya sendiri, “ada bagian dari dirimu yang berharap kalau kau berhenti mencari, kau tidak akan pernah harus menemukan apa yang mungkin sudah terjadi padanya.”
Sesuatu di dalam dada Aident retak.
“DIAM!”
Ia mengayunkan pedangnya.
Bilah itu melewati tubuh anak itu tanpa hambatan sama sekali, seperti membelah asap, dan sosok itu berhamburan menjadi kabut lalu berkumpul kembali dua langkah di sebelah kiri.
“Marah itu bagus,” ucap anak itu. “Marah artinya benar.”
Aident menurunkan pedangnya, terengah.
Ia sudah bersumpah tidak akan terperdaya. Ia sudah menyiapkan dirinya sepanjang perjalanan untuk apa pun yang akan ditunjukkan makhluk itu—wajah ayahnya, wajah ibunya, wajah Kisha yang berlumuran darah.
Yang tidak pernah ia siapkan adalah ini.
Bahwa Glacio tidak perlu berbohong sama sekali.
Bahwa yang paling menghancurkan justru sesuatu yang ia sendiri tahu benar.
“Kau lelah, Aident,” ucap anak itu, melangkah mendekat. “Duduk saja. Kabut ini hangat kalau kau berhenti melawannya.”
Dan untuk satu detik yang sangat panjang, sebagian dari diri Aident benar-benar ingin duduk.
Lalu ia mendengar suara ibunya.
Bukan di dalam kabut. Di dalam ingatannya, di beranda istana, tiga minggu sebelum keberangkatan, ketika perempuan itu menggenggam kedua tangannya dan berkata dengan suara yang paling tenang yang pernah Aident dengar seumur hidupnya.
Kabut itu tidak bisa membuat kebohongan dari udara kosong, Nak. Dia cuma bisa memakai apa yang sudah ada di dalam kepalamu. Jadi kalau nanti dia menunjukkan sesuatu yang terasa terlalu benar untuk dibantah — itu bukan tanda kau kalah. Itu tanda dia sudah kehabisan bahan.
Aident mengangkat wajahnya.
“Kau benar,” ucapnya.
Anak itu berhenti melangkah.
“Aku memang berhenti satu jam di dekat batu itu. Aku memang berharap kalau aku berhenti mencari, aku tidak perlu menemukan apa pun.” Aident menegakkan punggungnya, dan pedang di tangannya berhenti bergetar. “Itu memang ada di dalam kepalaku. Kau tidak menciptakannya.”
“Kalau begitu—”
“Kalau begitu kau tidak punya apa-apa lagi,” potong Aident. “Kau cuma bisa menunjukkan hal-hal yang sudah kutahu tentang diriku sendiri. Dan aku sudah hidup dengan semuanya selama bertahun-tahun tanpa bantuanmu.”
Sesuatu di wajah anak itu berkedip. Untuk pertama kalinya, sosok tersebut tampak seperti gambar yang salah cetak.
“Aku memang terlambat, berkali-kali,” lanjut Aident, melangkah maju alih-alih mundur. “Dan itu justru alasan kenapa aku tidak akan duduk sekarang.”
Ia mengayunkan pedangnya menembus sosok itu sekali lagi—dan kali ini, alih-alih berkumpul kembali, kabut yang membentuknya berhamburan dan tidak segera menyatu.
Aident menegakkan pedangnya dan berteriak sekeras yang ia bisa ke dalam kelabu yang mengepung.
“YOSH! IKUTI SUARAKU!”
Untuk beberapa saat, tidak ada apa pun kecuali gaung suaranya sendiri.
Lalu, dari suatu tempat di sebelah kiri, samar dan jauh dan tertahan, terdengar jawaban.
“PANGERAN!”
Aident mencengkeram pedangnya dan mulai bergerak ke arah suara itu.