Saat ini kabut ilusi telah sempurna mencapai titik buta dan tuli bagi Kisha maupun Lilian yang terpapar efeknya. Mereka sama-sama sudah tidak bisa lagi melihat ataupun mendengar satu sama lain. Jangankan itu, untuk bisa merasakan genggaman tangan mereka yang tengah terpaut erat saja rasanya hampir mustahil. Kabut ini seolah melumpuhkan sekujur tubuh mereka, membuat mereka tidak bisa merasakan apa pun kecuali hawa dingin dan kesunyian menyiksa di sekitar.
Kisha yang sudah pernah merasakan perasaan ini, setidaknya ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia hanya harus bekerja ekstra memfokuskan diri supaya tangannya masih bisa merasakan keberadaan tangan Lilian. Pokoknya jangan sampai ia kehilangan satu-satunya jejak kehangatan yang masih tersisa. Kalau tidak bisa jadi ia dan gadis penolong yang baru dikenalnya itu akan berakhir seperti orang-orang yang tersesat di Hutan Verdesia dan tidak pernah ditemukan lagi.
Kisha mengeratkan genggamannya.
Jari-jari Lilian masih ada di sana. Dingin, kaku, tetapi ada.
Bertahan, batinnya. Bertahan sedikit lagi.
Ia tidak tahu berapa lama waktu yang sudah berlalu. Di dalam kabut ini, waktu adalah salah satu hal pertama yang dicuri. Bisa jadi baru sepuluh hitungan. Bisa jadi sudah setengah malam.
Yang ia tahu hanya satu: kalau ia melepaskan tangan itu, ia tidak akan pernah menemukannya kembali.
Lalu genggaman itu bergerak.
Bukan menggenggam balik. Menarik.
Lilian menarik tangannya menjauh.
“Tidak!” Kisha mencengkeram lebih kuat, sampai kukunya menekan punggung tangan perempuan itu. “Lilian, jangan!”
Suaranya tenggelam. Ia bahkan tidak yakin apakah bibirnya benar-benar bergerak.
Tarikan itu datang lagi, lebih keras.
Kisha melakukan satu-satunya hal yang terpikir olehnya: ia menjatuhkan diri ke depan, ke arah tarikan itu, memeluk lengan Lilian dengan kedua tangannya sekaligus dan menekankan dahinya ke bahu perempuan itu.
Dan pada saat kulit dahinya menyentuh kain di bahu Lilian, sesuatu berubah.
Suara.
Kisha bisa mendengar sesuatu—teredam, jauh, seperti dari balik dinding tebal, tetapi ada.
Lilian sedang berbicara.
“...jangan tinggalkan aku... aku tidak akan turun lagi... aku janji tidak akan turun lagi...”
Kisha menekan dahinya lebih kuat.
“Lilian!”
“...Yosh, aku tidak bisa... aku tidak bisa sendirian, Yosh...”
“LILIAN, DENGARKAN AKU!”
Bahu itu menegang.
“Siapa—” Suara Lilian pecah. “Siapa itu?”
“Kisha! Ini Kisha!”
“Kisha...”
“Yang kau turunkan dari sangkar! Yang kau bilang tidak perlu alasan untuk ditolong!” Kisha berteriak sekeras yang ia bisa ke arah bahu itu. “Apa pun yang sedang kau lihat, itu bukan Yosh! Yosh tidak ada di sini!”
“Tapi dia berdiri di sana. Dia menoleh ke arahku dan dia—”
“Dia tidak ada!”
“Dia bilang aku beban.”
Kalimat itu diucapkan begitu pelan, begitu datar, sehingga Kisha hampir tidak menangkapnya.
Dan mendengarnya, ada sesuatu di dada Kisha yang panas sekaligus marah.
“Yosh mengikatkan tali di dahan paling tinggi supaya kau bisa turun tebing dengan aman,” ucap Kisha, masih menekan dahinya ke bahu itu. “Kau menceritakannya sendiri padaku dua jam lalu. Kau ingat?”
Hening.
“Kau ingat, Lilian?”
“...aku ingat.”
“Orang yang menganggapmu beban tidak akan memanjat dahan setinggi itu.”
Genggaman di tangan Kisha akhirnya mengeras kembali. Membalas.
“Kisha.”
“Aku di sini.”
“Aku takut.”
“Aku juga.” Kisha menelan sesuatu yang terasa seperti pecahan es di tenggorokannya. “Tapi kita berdua takut sambil berpegangan, dan itu jauh lebih baik daripada takut sendiri-sendiri.”
***
Mereka bertahan seperti itu entah berapa lama.
Dahi ke bahu, tangan mengunci lengan, dua perempuan berlutut di tanah hutan yang tidak lagi bisa mereka lihat, saling meneriakkan hal-hal kecil yang benar setiap kali salah satu dari mereka mulai diam terlalu lama.
“Kau punya kakak?”
“Punya! Yosh!”
“Bagus! Siapa nama ibumu?”
“Kenapa kau menanyakan itu?”
“Karena kabut ini tidak tahu jawabannya!”
Kisha tidak tahu apakah itu benar. Ia mengarangnya di detik itu juga.
Tetapi ternyata itu berhasil, dan ternyata Lilian tertawa—serak, terputus-putus, hampir tidak terdengar seperti tawa—dan tawa itu membuat kabut di sekitar mereka terasa sedikit kurang rapat.
Lalu, tanpa peringatan sama sekali, ada cahaya.
Kisha mengangkat kepalanya.
Cahaya itu tidak seperti obor, tidak seperti bulan, tidak seperti apa pun yang pernah ia lihat di dunia manusia. Warnanya putih kebiruan, lembut, dan ia tidak menerangi kabut sebanyak ia membelahnya—seperti sesuatu yang berjalan melewati kain dan meninggalkan sobekan.
Cahaya itu bergerak mendekat.
“Kisha,” bisik Lilian. “Kau melihat itu juga?”
“Aku melihatnya.”
“Berarti itu nyata?”
“Belum tentu.” Kisha menarik Lilian bangkit dan meraih pisau kecilnya. “Berdiri di belakangku.”
Cahaya itu berhenti sepuluh langkah dari mereka.
Kabut di sekitarnya menyibak sendiri, mundur seperti air yang menghindari minyak, membuka lingkaran udara jernih dengan garis tengah kira-kira lima langkah.
Dan di dalam lingkaran itu berdiri seekor kuda.
Bukan kuda.
Tubuhnya seputih kabut yang mengurungnya, tetapi lebih terang, dan sepanjang lehernya mengalir surai yang bergerak pelan seolah berada di dalam air. Di dahinya, tepat di atas kedua mata, tumbuh sebatang tanduk tunggal yang berpilin, memancarkan cahaya putih kebiruan yang sama.
Kisha menjatuhkan pisaunya.
“Tidak mungkin,” bisiknya.
“Kau kenal?” Lilian mencengkeram lengannya. “Kisha, kau kenal makhluk itu?”
Kisha tidak menjawab.
Ia melangkah maju satu langkah, lalu satu lagi, sampai ia berdiri tepat di tepi lingkaran udara jernih itu.
Di sisi kiri leher makhluk tersebut, di bawah surai, ada bekas luka lama. Memanjang, tidak rata, jenis luka yang ditinggalkan oleh mata pisau yang tumpul dan tangan yang terburu-buru.
Kisha mengenal luka itu.
Ia sendiri yang membersihkannya, empat tahun lalu, di tepi danau utara, dengan air dan kain sobekan dari lengan bajunya sendiri, sambil menangis karena ia berumur enam belas tahun dan tidak tahu apa-apa tentang mengobati makhluk yang bahkan tidak seharusnya ada.
“Kau,” ucapnya, dan suaranya langsung pecah. “Kau masih hidup.”
Makhluk itu menundukkan kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kabut itu turun, Kisha merasakan hangat.
***
“Kisha,” panggil Lilian dari belakang. “Kisha, jelaskan padaku, karena aku mulai berpikir aku sudah gila.”
“Namanya tidak bisa diucapkan dengan lidah manusia,” jawab Kisha tanpa menoleh. “Aku dulu memanggilnya Sabit, karena bekas lukanya berbentuk seperti itu.”
“Kau memberi nama seekor unicorn?”
“Aku berumur enam belas tahun.”
Lilian melangkah maju perlahan dan berhenti di samping Kisha.
“Kupikir mereka semua sudah—”
“Sembilan puluh sembilan,” ucap Kisha pelan.
Lilian menoleh.
“Glacio meminum seratus darah unicorn,” lanjut Kisha, matanya tidak lepas dari makhluk di hadapan mereka. “Itu yang selalu dikatakan semua orang. Seratus. Tapi tidak ada satu pun yang pernah menghitung ulang.”
Sesuatu terasa jatuh ke dalam perut Lilian.
“Kau bilang sembilan puluh sembilan.”
“Aku menemukannya di tepi danau utara empat tahun lalu, dengan luka di leher dan darah yang sudah membeku di bulunya.” Kisha akhirnya menoleh, dan matanya berkilat oleh sesuatu yang bukan air mata. “Aku selalu mengira aku terlambat menyelamatkan satu ekor unicorn."
Ia menatap kembali cahaya putih kebiruan itu.
"Lilian, aku tidak terlambat. Aku menyelamatkan yang keseratus.”