Tidak seperti sebelumnya saat Aident terjebak di tengah kabut pekat dan menyaksikan kejadian mengenaskan menyayat hati, kali ini ia sedikit berhasil mengontrol diri. Ia sudah tahu kabut ini merupakan serangan dari Lord Glacio. Dan ia juga sudah tahu bahwa kabut ini hanya akan menunjukkan kebohongan yang dapat memengaruhi dirinya untuk membenci orang-orang terkasihnya. Maka dari itu ia sudah siap mengabaikan apa pun yang akan ditunjukkan sang makhluk dingin itu untuk memerdayainya. Kali ini ia bersumpah, ia tidak akan terperdaya lagi.
Rupanya keyakinan tersebut dirasakan oleh sang jiwa penguasa kabut yang tengah menyelimuti dua pemuda tangguh yang sedang memburunya. Walaupun hanya berupa bayang-bayang dingin tanpa wujud, makhluk itu masih cukup cerdas untuk mempertimbangkan serangannya. Ketika ilusi berupa kebohongan tidak lagi mempan, ia mengganti caranya.
Kabut di sekeliling Aident berhenti membentuk sosok.
Tidak ada lagi anak laki-laki bermantel biru. Tidak ada wajah ayahnya, tidak ada suara ibunya, tidak ada Kisha yang berlumuran darah. Kelabu keperakan itu justru menjadi rata, kosong, dan sunyi sepenuhnya—dan itu ternyata jauh lebih buruk.
Karena manusia bisa melawan sesuatu yang berdiri di hadapannya.
Manusia tidak bisa melawan ketiadaan.
Aident terus melangkah ke arah suara Yosh tadi, menghitung langkahnya dengan keras di dalam kepala supaya ada sesuatu yang bisa ia pegang.
Dua puluh tiga. Dua puluh empat. Dua puluh lima.
Suara itu tidak terdengar lagi.
Tiga puluh. Tiga puluh satu.
Tanah di bawah kakinya terasa sama di setiap langkah. Tidak ada akar, tidak ada batu, tidak ada kemiringan. Seolah ia berjalan di tempat.
Empat puluh.
Jangan berhenti, batinnya. Kalau kau berhenti, kau akan mulai menghitung hal lain.
Empat puluh satu. Empat puluh dua.
Dan kemudian, di langkah keempat puluh tiga, sesuatu di dalam kepalanya mulai bicara.
Bukan suara dari luar. Bukan sosok, bukan bisikan di telinga.
Pikirannya sendiri. Dengan suaranya sendiri.
Kau tidak akan menemukan mereka.
Aident menggertakkan giginya. Empat puluh empat.
Kau tidak akan menemukan Yosh. Kau tidak akan menemukan Kisha. Dan ketika kabut ini akhirnya turun, kau akan berdiri sendirian di hutan ini, dan kau akan tahu bahwa kau sudah berjalan melewati mereka berkali-kali tanpa menyadarinya.
“Empat puluh lima,” ucapnya keras-keras.
Suaranya sendiri terdengar seperti milik orang lain.
Kau selalu terlambat.
“EMPAT PULUH ENAM!”
Dan itu bukan kebohongan, kan? Itu kau yang bicara. Bukan aku.
Aident berhenti melangkah.
Napasnya memburu. Uap putih keluar dari mulutnya dan langsung ditelan oleh kabut. Tangannya yang memegang pedang sudah mati rasa sampai ke pergelangan, dan ia bahkan tidak yakin apakah jari-jarinya masih menggenggam gagangnya atau cuma menempel di sana karena beku.
Ia memejamkan mata.
Kabut itu tidak bisa membuat kebohongan dari udara kosong.
Ia mengulanginya. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali, sampai kalimat itu berhenti berarti apa-apa dan menjadi sekadar irama yang bisa dipakai untuk tetap berdiri.
Dia cuma bisa memakai apa yang sudah ada di dalam kepalamu.
Aident membuka matanya.
“Kalau begitu,” ucapnya pada kabut yang kosong, “aku akan memakai yang lain.”
Ia berhenti menghitung langkah.
Ia mulai menghitung hal yang berbeda.
“Kisha menendang perutku waktu pertama kali kami bertemu,” ucapnya keras-keras. “Karena dia pikir aku pencuri.”
Kabut tidak menjawab.
“Yosh menangis waktu Lilian lulus ujian pemanah, dan dia bersumpah pada seluruh kesatuan bahwa itu karena debu.”
Ia melangkah lagi.
“Ibuku menyimpan pedang kayu pertamaku di dalam lemari, di belakang jubah-jubah upacara, dan mengira aku tidak tahu.”
Satu langkah lagi.
“Kisha tidak bisa makan bawang. Yosh takut kucing. Lilian menghitung dengan jari kalau angkanya lebih dari dua belas.”
Dan pada saat itu, Aident sadar akan sesuatu.
Semakin banyak yang ia ucapkan, semakin ia merasakan tanah di bawah kakinya.
Bukan tanah yang sama. Ada akar sekarang. Ada kemiringan. Ada batu kecil yang bergeser di bawah sol sepatunya.
Ia berteriak lebih keras.
“YOSH TIDAK BISA BERENANG!”
Suaranya memantul.
Memantul. Di dalam kabut yang tadi menelan segalanya, suaranya memantul.
“PANGERAN!”
Dari kiri. Dekat. Jauh lebih dekat daripada tadi.
Aident membanting tubuhnya ke arah suara itu, dan tiga langkah kemudian bahunya menghantam sesuatu yang keras dan hangat dan bernapas.
Keduanya jatuh berguling ke tanah.
“Aduh—Pangeran!”
“YOSH!”
Aident mencengkeram kerah pria itu dengan kedua tangan dan menariknya sampai dahi mereka hampir berbenturan, hanya untuk memastikan bahwa yang ia pegang benar-benar padat.
“Kau nyata?”
“Kalau aku ilusi, aku tidak akan mengeluh sakit punggung!”
“Sebutkan satu hal yang tidak kausukai.”
“Apa?”
“SEBUTKAN!”
“Kucing! Aku benci kucing! Sekarang lepaskan kerahku, aku tidak bisa bernapas!”
Aident melepaskannya dan tertawa—tawa yang keluar salah, terlalu keras, setengah menjadi sesuatu yang lain.
***
Mereka duduk bersandar punggung ke punggung di dasar kabut, terengah-engah.
“Berapa lama?” tanya Aident.
“Aku tidak tahu. Rasanya semalaman.”
“Kau melihat apa?”
Yosh diam agak lama.
“Lilian,” jawabnya akhirnya. “Jatuh dari tebing itu. Berkali-kali. Dari ketinggian yang berbeda-beda.”
Aident menutup matanya.
“Maaf.”
“Bukan salahmu, Pangeran.”
“Aku menyuruh kalian memisahkan diri di perbatasan.”
“Dan kalau kita tidak memisahkan diri, kita berempat sudah ada di dalam kabut yang sama sekarang, tanpa satu pun yang tersisa di luar untuk mencari.” Yosh menyandarkan kepalanya. “Berhenti mengumpulkan kesalahan, Pangeran. Kau sudah punya cukup banyak.”
Aident hampir tertawa.
Lalu Yosh menegakkan punggungnya.
“Pangeran.”
“Hm?”
“Kabutnya.”
Aident membuka matanya.
Kelabu keperakan yang tadi merapat sampai ke wajah mereka kini mulai renggang. Bukan menghilang—menipis, seperti kain yang ditarik dari dua sisi. Dan di kejauhan, dari arah utara, ada cahaya.
Putih kebiruan. Lembut. Bergerak mendekat dengan kecepatan yang tetap.
Yosh berdiri dan mengangkat pedangnya. “Itu apa?”
Aident bangkit di sampingnya, dan untuk beberapa detik ia tidak sanggup menjawab.
Karena ia pernah melihat cahaya seperti itu sekali seumur hidupnya. Di dalam lukisan tua di ruang arsip istana, yang catnya sudah retak-retak, yang menurut penjaga arsip sudah berumur empat ratus tahun.
“Turunkan pedangmu,” ucapnya pelan.
“Pangeran—”
“Turunkan, Yosh.”
Cahaya itu berhenti sekitar tiga puluh langkah dari mereka.
Dan di sekelilingnya, kabut Lord Glacio menyibak sendiri—mundur, menggulung, menjauh seperti sesuatu yang berhadapan dengan hal yang sangat tidak ingin ia temui.
Dari dalam lingkaran cahaya itu, dua sosok manusia melangkah keluar.
Yang satu bertubuh kecil, memegang busur yang jelas terlalu besar untuk dibawa berlari.
Yang satu lagi berjalan setengah tertatih, dengan lumpur kering di sekujur lengannya dan rambut yang kusut oleh keringat semalaman.
Aident menjatuhkan pedangnya ke tanah.
“Kisha.”
Perempuan itu berhenti melangkah, mencari arah suara, dan ketika matanya akhirnya menemukan Aident di antara sisa-sisa kabut, seluruh ketegangan di bahunya runtuh sekaligus.
“Kau terlambat,” ucap Kisha, dengan suara yang gemetar hebat.
Aident berjalan ke arahnya, dan setiap langkah terasa lebih cepat daripada yang sebelumnya.
“Aku tahu,” jawabnya.
“Kau selalu terlambat.”
“Aku tahu.”
Dan ketika akhirnya ia sampai, ia tidak mengatakan apa-apa lagi.