Siska telah siap dengan setelan baju kerjanya. Ia pun menyampirkan jas dokternya di bahu kiri. Kemudian, berjongkok dan mengikat tali sepatunya yang terlepas. Setelah itu, bergegas bangkit dan melangkahkan kedua kakinya keluar rumah.
Mendadak langkah Siska terhenti di ambang pintu ketika menemukan kehadiran sang ayah di ambang pintu. Ia pun melirik sekelias ke arah alroji di pergelangan tangannya. Netranya melotot ketika jam telah menunjukan pukul 18.45 P.M.
"Ayah, bisakah kau mengantarkanku? Aku hampir telat," lirih Siska. Ia semakin dibuat panik ketika memandang alroji di lengannya.
"Apa Arsen belum juga sampai?"
"Entahlah, aku masih belum dapat kabar darinya," sahut Siska.
"Baiklah. Biar ayah yang mengantarkan kau," ajak pria paruh baya berkulit putih dengan rambut yang terlihat