Arsen merasa gagal untuk memberikan pertolongan pertama pada tubuh Andra. Bayangan itu terus muncul dengan cepat di pikirannya.
"Maafkan aku, Andra," gumam Arsen seiring dengan air mata yang berhasil lolos di kedua pipinya.
Arsen mengepalkan kedua tangannya erat seiring air mata yang terus merebak. Saat yang sama bayangan akan Pramono yang menusuk Andra kembali terulang di ingatannya.
Arsen langsung melangkan kedua kakinya menuju ke ruangan Bintang saat tiba di rumah Siska. Ia terus mengumpati perjalanannya yang terjebak kemacetan saat menuju ke sini. Itulah sebabnya, ia harus telah untuk bisa sampai di tempat ini.
Mendadak netra Arsen membeliak ketika melihat Pramono yang telah menusukkan sebilah pisau tepat di bagian perut Andra.
"Itulah akibatnya jika kau suka mengganggu urusan o