Sabtu pagi, Adriana menemukan Raihan sedang menata bahan di meja dapur. Tepung ada di dalam wadah, bukan bungkus terbuka yang dapat diraih untuk saling menyerang. Sebuah lap bersih diletakkan di samping mangkuk.
'Kamu sudah mulai?'
'Baru siapkan. Saya tunggu murid.'
'Muridnya tidak mau dimarahi.'
'Kalau gurunya dihina setiap lima menit, susah juga.'
Adriana tertawa kecil. Ia mengambil celemek dan mengikat rambut lebih rapi. Bakpau toko yang dibawa kemarin sudah disimpan, tetapi pagi ini ia ingin tahu mengapa adonan yang tampak biasa di tangan Raihan dapat berubah menjadi makanan kesukaannya.
Raihan menjelaskan pekerjaan yang akan dibagi. Ia menyiapkan bagian utama terlebih dahulu, kemudian memberikan sedikit adonan agar Adriana bisa mencoba tanpa merasa harus menyelesaikan seluruh mangkuk sekaligus.
'Kalau bentuknya buruk, jangan foto,' Adriana mengingatkan.
'Saya belum pegang kamera pun.'
'Peringatan dari awal.'
Ia menyentuh adonan, menarik tangan, lalu tertawa karena jarinya lengket. Raihan menunjukkan bagian meja yang sudah diberi sedikit tepung. Adriana mencoba lagi, menekan terlalu kuat sampai adonannya melebar tidak beraturan.
Raihan tidak mengambil alih. Ia memperagakan pada bagian miliknya, menunggu sampai Adriana melihat, lalu memberi waktu untuk mengulang. Percobaan kedua masih miring, tetapi setidaknya tidak lagi melekat seluruhnya pada tangan.
'Kamu belajar masak waktu tinggal di Amerika?' tanya Adriana.
'Ada kelas yang saya ambil. Tapi bukan semua dari sana. Masakan rumah banyak dari nenek juga.'
'Harvard mengajarkan bakpau?'
Raihan tertawa. 'Awak ni suka campur semua perkara. Kelas masak itu hal lain.'
Adriana mengangkat bahu, pura-pura kecewa. Ia baru hendak melipat ketika satu bagian kembali menempel. Raihan mendekat, kemudian berhenti sebelum menyentuh tangannya.
'Boleh saya tunjuk dengan tangan awak? Kalau tak selesa, saya buat di sini saja.'
Adriana melihat kedua tangan mereka, lalu mengangguk. 'Boleh. Sebentar saja.'
Raihan berdiri sedikit di samping, mengarahkan gerakannya perlahan. Adriana mengikuti tekanan yang ditunjukkan, menyadari betapa hangat telapak tangan suaminya dibanding adonan yang sedang disentuh.
Konsentrasinya justru semakin berantakan.
Ia menarik napas, kemudian mengatakan sudah ingin mencoba sendiri. Raihan segera melepaskan dan kembali ke bagian meja yang lain. Tidak ada pegangan yang dieratkan ketika ia meminta ruang.
'Cepat belajar,' katanya.
'Aku belum berhasil. Kamu jangan memuji dulu.'
'Tadi awak dah tahu berhenti di mana.'
Adriana menunduk menyembunyikan senyum. Ia membuat lipatan berikutnya dengan lebih pelan, dan kali ini bagian tengahnya tidak langsung terbuka.
***
Ketika tiba pada isian, kepercayaan diri Adriana meningkat terlalu cepat. Ia memasukkan lebih banyak daripada yang dapat ditahan adonan, menutupnya dengan susah payah, lalu mendapati sebagian keluar lagi dari sisi.
Raihan menahan tawa. Adriana mengangkat mata memperingatkan.
'Jangan.'
'Saya belum cakap.'
'Mukamu terus yang bermasalah.'
Ia mengurangi sedikit isian dan mencoba menutup lagi. Bentuk akhirnya tetap lebih gemuk daripada buatan Raihan. Ia meletakkannya terpisah agar nanti tahu hasil mana yang harus dipertanggungjawabkan.
Mereka menyelesaikan beberapa buah lagi. Ada yang terlalu pipih, ada yang lipatannya tidak sama, tetapi Adriana mulai mengenali jumlah isian yang membuat tangannya tidak kewalahan.
Sambil menunggu matang, mereka membereskan meja. Tepung yang jatuh dibersihkan dengan lap, mangkuk kosong dipindahkan ke bak cuci. Ketika Raihan menjangkau wadah di belakangnya, Adriana bergeser tanpa perlu saling menyenggol.
'Kali ini dapur selamat,' katanya.
'Penghuninya juga.'
Adriana melihat suaminya. Gurauan itu membuat ia ingat kejadian ketika tepung dan telur berubah menjadi pertengkaran. Ia tidak mengambil bahan untuk membalas. Ia hanya mengangguk dan melanjutkan mengelap meja.
Setelah makanan siap, mereka menunggu sampai cukup nyaman dipegang. Adriana mengambil hasilnya yang paling gemuk, membelahnya, lalu memperhatikan bagian dalam sebelum mencicipi.
'Isinya kebanyakan,' ia mengaku.
'Tapi boleh dimakan.'
Raihan mencoba sepotong kecil yang ditawarkan. Ia mengatakan rasanya enak, lalu menunjukkan bagian pinggir yang lain kali dapat dibuat lebih rata. Adriana mendengar tanpa merasa sedang dibandingkan dengan seseorang yang lebih pandai mengurus rumah.
'Yang ini aku simpan untuk difoto,' katanya akhirnya.
'Tadi awak larang gambar.'
'Itu sebelum aku lihat hasilnya.'
Raihan tertawa. Ia membantu meletakkan bakpau di piring yang tidak dipenuhi remah, kemudian menunggu Adriana mengambil gambar dengan sudut yang dianggap paling menyelamatkan bentuknya.
Ponselnya berdering ketika mereka baru mulai sarapan. Nama Ayuma muncul di layar. Raihan mengangkat, mengucapkan salam, lalu wajahnya berubah saat yang menjawab ternyata seorang lelaki.
'Saya suaminya Ayuma, Pak. Maaf mengganggu. Ayuma sedang dirawat. Dia minta saya menghubungi Bapak.'
Raihan meletakkan makanan. Adriana menurunkan ponselnya sendiri, memperhatikan gerak suaminya.
'Ayuma kenapa?'
Lelaki di seberang menjelaskan bahwa ada masalah pada kehamilan istrinya dan dokter masih merawatnya. Raihan mendengarkan sampai selesai, menanyakan apakah kunjungan diperbolehkan dan kapan waktu yang tidak mengganggu pemeriksaan.
Setelah memperoleh jawaban, ia melihat Adriana. Perempuan itu mengangguk tanpa perlu diminta dua kali.
'Kami datang petang. Tolong kirim alamat serta kamarnya, ya.'
Panggilan ditutup. Dapur yang sejak tadi dipenuhi tawa mendadak terasa lebih sunyi. Raihan menyampaikan kembali keadaan Ayuma secukupnya, lalu menunjukkan pesan alamat yang segera masuk.
Adriana melihat sisa bakpau di piring. Ia bertanya apakah Ayuma mungkin mau menerima beberapa, selama memang boleh makan makanan yang dibawa dari luar. Raihan menyanggupi menanyakannya lebih dahulu.
'Kamu tidak malu bawa yang buatanku?' tanyanya.
'Awak buat dengan sungguh-sungguh. Kalau dia boleh makan, kenapa mesti malu?'
Adriana mengambil kotak bersih dan menyisihkan sebagian setelah memperoleh kabar bahwa makanan tersebut boleh dibawa. Ia memilih yang tidak pecah isinya, menatanya agar tidak tertekan, kemudian menutup kotak.
Raihan menanyakan apakah ada rencana Adriana sore itu yang harus diubah. Ia sempat ingin menjawab tidak ada, kemudian mengingat pesan Alessandra mengenai toko yang hendak dikunjungi. Adriana membalas bahwa dirinya akan menjenguk Ayuma dan mengusulkan hari lain. Sahabatnya menyetujui, menitipkan doa, lalu percakapan ditutup tanpa perdebatan.
Perjalanan menjenguk belum dimulai, tetapi pagi itu ia sudah ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain dengan hasil tangannya sendiri.