Selasa pagi, Adriana berdiri di depan lemari setelah Raihan berangkat kerja. Sebuah gaun yang tidak lagi diingatnya tergantung di bagian tengah, masih memakai label kecil. Di bawahnya ada kotak sepatu yang dibeli karena sedang ditawarkan bersama model lain.
Ia membuka kotak tersebut, melihat isinya, lalu menutupnya kembali.
'Kapan ini dipakai?' gumamnya.
Tidak ada jawaban selain ingatan samar mengenai lampu toko dan perasaan senang ketika membawa kantong keluar. Kesenangan itu pernah terasa begitu penting. Sekarang barangnya tersimpan di sudut kamar yang justru ingin dikosongkan untuk membuat rumah lebih nyaman.
Adriana mengeluarkan dompet. Lima kartu berada di tempat masing-masing. Ia mengambilnya satu per satu, lalu membuka catatan tagihan melalui ponsel.
Angka-angka di layar tidak berkurang hanya karena beberapa hari ini ia lebih sering di rumah. Ada pembelian lama yang belum selesai dibayar. Beberapa barang bahkan tidak lagi membuatnya senang ketika dilihat.
Ia mengambil kotak kayu kecil dari laci nakas, memasukkan empat kartu, lalu menutupnya. Satu kartu tetap di dompet untuk keadaan yang benar-benar perlu. Ia kemudian membuat catatan terpisah mengenai tanggal pembayaran dan dana pribadi yang masih dapat digunakan.
Tindakan itu belum menyelesaikan tagihan. Tetapi setidaknya hari ini ia berhenti menambah persoalan sambil berpura-pura tidak melihat yang sudah ada.
Ponselnya berdering. Alessandra menanyakan apakah rencana membantu merapikan rumah masih jadi. Adriana menjawab ya dan meminta sahabatnya membawa pakaian yang nyaman, bukan sepatu yang membuatnya harus duduk setiap beberapa menit.
'Ini kerja sungguhan?' Alessandra bertanya.
'Iya. Bukan cuma menemani minum.'
'Aku kira ada upah makan.'
'Ada. Tapi sesudah bantu.'
Alessandra tertawa dan menyanggupi datang siang. Adriana mengunci kotak kartu, menyimpan kuncinya di tempat pribadi, lalu mulai mengumpulkan kantong kosong yang paling mudah dibereskan.
***
Ketika Alessandra tiba, ruang tengah sudah dipenuhi beberapa kelompok barang. Adriana menjelaskan bahwa tidak semuanya akan dipindahkan ke tempat yang sama.
'Ada yang tetap kupakai. Ada yang mau didonasikan. Yang ini mungkin dijual.'
Ia menunjuk tas dan aksesori yang diletakkan terpisah dari kardus pakaian. Alessandra mengangguk, lalu menanyakan bagaimana menentukan mana yang benar-benar akan dilepas.
Adriana mengambil satu blus yang masih layak. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali memakainya, lalu menyerah sambil tertawa. Pakaian itu dimasukkan ke kelompok donasi setelah diperiksa bersih dan utuh.
Sebaliknya, sebuah tas yang masih memiliki kelengkapan disisihkan untuk dijual. Adriana memotret kondisinya agar nanti dapat diperiksa calon pembeli tanpa harus mengarang bahwa barang tersebut belum pernah dipakai.
'Uangnya untuk tagihan yang lama,' katanya kepada Alessandra. 'Bukan alasan beli tas lain.'
Sahabatnya melihatnya sebentar, kemudian membantu mencari kantong pelindung yang sesuai. Ia tidak bertepuk tangan atau berkata bahwa Adriana akhirnya menjadi perempuan baik hanya karena mengubah cara memakai uang.
'Kalau butuh teman supaya tidak belanja lagi saat lihat katalog, telepon aku,' ujarnya.
'Kamu justru sering mengirim katalog.'
Alessandra tertawa. 'Baik. Aku juga berhenti mengirim dulu.'
Mereka bekerja sampai majalah selesai diikat dan sepatu ditata berpasangan. Salah satu kuku Adriana patah sedikit ketika mengangkat kardus. Ia mengeluh, berhenti untuk merapikan ujungnya agar tidak tersangkut, kemudian kembali bekerja.
'Biasanya bibi yang mengurus semua ini,' katanya.
'Bibi ke mana?'
'Pulang kampung. Mulai hari ini dua minggu. Aku sudah catat kapan kembali supaya urusan rumah tidak saling menunggu.'
'Kenapa tidak panggil bantuan sementara?'
'Untuk sebagian pekerjaan mungkin perlu. Tapi barang-barang ini aku sendiri yang membeli. Aku mau tahu yang sebenarnya kusimpan.'
Alessandra mengangguk, menyerahkan sepasang sepatu agar Adriana memutuskan sendiri. Ada beberapa benda yang dikembalikan ke lemari karena masih ingin dipakai. Ia tidak harus mengosongkan seluruh rumah dalam satu hari agar perubahan itu dianggap sungguh-sungguh.
***
Menjelang sore, mereka menulis penanda pada kardus. Pakaian untuk donasi dikemas terpisah dan disimpan dahulu. Adriana belum mengirimkannya kepada siapa pun; ia ingin memastikan penerima dan pengambilannya jelas sebelum menjadwalkan penyerahan.
Barang yang akan dijual ditempatkan di sisi berbeda, tetap bersama kelengkapan yang dapat ditemukan. Tidak ada benda yang sudah dijanjikan sebagai donasi kemudian dihitung lagi sebagai pemasukan untuk tagihan.
Adriana memeriksa foto-foto tas, menyimpan catatan, lalu menutup layar. Ia belum mempunyai pembeli dan tidak akan mencatat uang yang belum diterima sebagai pembayaran.
Ruang tengah terasa lebih lapang setelah kantong kosong dikeluarkan. Alessandra menjatuhkan tubuh ke sofa, mengipasi wajah dengan selembar kertas yang belum dipakai.
'Ternyata lantainya luas,' komentarnya.
'Aku juga baru ingat.'
Mereka tertawa. Adriana mengambil air minum, kemudian duduk sambil melihat hasil pekerjaan hari itu. Ada rasa lelah yang berbeda dari setelah berkeliling mal, disertai keinginan menjaga agar ruang yang baru dirapikan tidak segera penuh lagi.
Alessandra memeriksa ponsel dan senyumnya berubah. Ia menunggu sampai Adriana menoleh sebelum menyampaikan kabar yang sejak siang ingin diceritakan.
'Iskandar mengajak aku bertemu ibunya bulan depan. Di Melaka.'
Adriana menegakkan tubuh. 'Serius? Kamu mau?'
'Mau. Tapi aku juga bilang kami perlu bicara lagi supaya tahu apa yang sedang dijalani. Aku tidak mau cuma senang karena dia sering mengirim salam.'
'Bagus. Kamu boleh tanya sebanyak yang kamu perlu.'
Alessandra mengangguk, lalu menggenggam tangan sahabatnya dan berterima kasih karena telah membantu perkenalan itu. Adriana membalas dengan senyum dan pelukan singkat.
Ia sungguh senang. Ada sedikit rasa iri karena sahabatnya dapat membicarakan keinginan dengan lebih terbuka, tetapi ia tidak ingin menjadikannya alasan merusak kebahagiaan orang lain.
Adriana mengambil foto ruang yang sudah rapi, lalu menyimpannya untuk diri sendiri. Ia belum ingin mengunggah cerita tentang berhemat ketika urusan pembayaran masih harus dijalani. Foto itu cukup menjadi pengingat susunan barang yang ingin dipertahankannya besok.
Sebelum Alessandra pulang, mereka memindahkan kardus ke tempat yang tidak menghalangi jalan. Adriana menutup kotak terakhir, memastikan penandanya terbaca. Tagihan belum lunas, barang belum diserahkan, tetapi hari itu ia sudah tahu langkah berikut yang perlu dilakukan tanpa harus membeli sesuatu untuk menutupi rasa gelisahnya.