Lucas meminta pertemuan di kantor Evelyn, bukan kediaman Dixie. Callista menghargai pilihan tempat netral itu, meski lelaki tersebut datang bersama Ben dan dua pengacara yang membuat ruangan kecil terasa seperti ruang direksi.
Evelyn membuka pembicaraan dengan menegaskan dirinya mewakili Callista. Semua pertanyaan harus ditujukan melalui meja, bukan diselesaikan melalui percakapan pribadi setelah rapat. Lucas mengangguk tanpa keberatan.
Perjanjian terakhir memuat rekening pribadi, hak bekerja, batas enam acara keluarga per bulan, biaya pendidikan bila Callista memilih kuliah, serta kediaman alternatif selama masa perpisahan. Tidak ada penalti bila Callista mengajukan cerai. Kerahasiaan hanya melindungi data bisnis dan medis, bukan melarangnya mencari bantuan.
'Saya ingin menambah larangan hubungan romantis dengan staf yang berada di bawah kuasa salah satu pihak,' ujar Evelyn.
Lucas menatap Callista. 'Kau mengira aku akan memaksamu melihat perempuan lain di rumah?'
'Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Karena itu aturan dibuat sebelum masalah muncul.'
Bayangan Naomi melintas di kepala Callista, meski dirinya baru sekali bertemu model itu di butik. Ia belum mengetahui hubungan Naomi dengan Lucas, hanya merasakan Lucia tidak menyukainya.
Lucas menerima klausul tentang rumah dan staf, tetapi tetap menolak kesetiaan eksklusif. 'Aku tidak akan mengatur dengan siapa Callista berhubungan, dan ia tidak mengaturku.'
Callista menegang. Kebebasan yang terdengar seimbang sebenarnya tidak demikian. Lucas memiliki uang, jaringan, serta pengalaman; Callista memasuki keluarga yang akan menilainya sebagai istri. Bila dirinya terlihat bersama pria lain, reputasinya akan hancur lebih cepat.
'Klausul itu tidak setara dalam dampak,' kata Callista. 'Namamu melindungimu. Namamu akan dipakai untuk menghukumku.'
Evelyn mendukung dengan menambahkan perlindungan reputasi dua arah dan larangan menggunakan tim komunikasi untuk menyerang pihak lain. Lucas menyetujuinya setelah Ben memberi anggukan kecil.
'Kau boleh meminta kesetiaan sebagai syarat,' ujar Evelyn kepada Callista.
Callista memandang Lucas. Lelaki itu tidak berjanji akan memberikannya. Bila ia memaksa, Lucas mungkin membatalkan dan Amanda akan terluka. Namun bila ia tidak meminta, ia takut menerima luka yang sejak awal sudah dapat dibayangkan.
'Aku ingin enam bulan pertama eksklusif,' kata Callista akhirnya. 'Kita tidak akan tahu apakah pernikahan dapat berjalan kalau sejak awal ada orang lain.'
Lucas bersandar. 'Aku tidak mencari hubungan.'
'Itu bukan jawaban.'
'Enam bulan,' katanya kemudian. 'Setelah itu kita meninjau.'
Callista tahu kesepakatan sementara bukan janji cinta, tetapi cukup menjadi ruang bernapas. Evelyn memasukkannya sebagai klausul perilaku dengan hak berpisah bila dilanggar.
Pembahasan berikutnya mengenai kamar. Lucas menginginkan kamar terpisah. Callista setuju. Ia menolak kewajiban menampilkan kemesraan di rumah atau di depan Amanda tanpa persetujuan saat itu.
'Orang akan curiga kalau kita terlihat seperti orang asing,' kata Lucas.
'Kita memang hampir asing. Kita dapat bersikap sopan tanpa berpura-pura di balik pintu.'
Lucas tidak membantah. Ia mungkin mengira jarak akan memudahkan keduanya.
Setelah empat jam, dokumen belum ditandatangani. Evelyn memberi Callista dua hari membaca versi bersih. Lucas tampak hendak bertanya mengapa perlu waktu lagi, tetapi Ben menyentuh map dan ia mengurungkan niat.
Di lorong kantor, Lucas berjalan sejajar dengan Callista. 'Mommy ingin mengumumkan pertunangan setelah keluar dari rumah sakit.'
'Aku belum memiliki cincin.'
'Ben dapat mengatur pilihan.'
'Aku ingin memilih sendiri.'
'Beri tahu ukurannya.'
'Aku ingin datang ke toko dan memilih apa yang akan kupakai.'
Lucas berhenti. Seolah selama ini cincin hanyalah benda yang dapat dibeli asistennya. 'Baik. Besok sore.'
Mereka bertemu di toko perhiasan tanpa Amanda atau Lucia. Seorang pegawai menunjukkan berlian besar yang menurutnya pantas bagi keluarga Dixie. Callista mencoba satu dan merasa tangannya bukan lagi miliknya.
Ia memilih cincin sederhana dengan batu kecil berwarna biru. Harganya tetap mahal dibanding penghasilannya, tetapi jauh di bawah pilihan Lucas.
'Yang itu?' tanya Lucas.
'Aku yang akan memakainya.'
'Orang akan mengira aku pelit.'
'Kalau reputasimu bergantung pada ukuran batu di tanganku, perusahaanmu punya masalah besar.'
Sudut bibir Lucas bergerak, hampir menjadi senyum. 'Ambil yang itu.'
Pegawai bertanya apakah mereka ingin mengukir tanggal pertemuan pertama. Keduanya saling pandang karena tidak tahu tanggal tepat. Callista memilih tanpa ukiran. Cincin itu tidak perlu menciptakan sejarah yang belum mereka miliki.
Malam berikutnya, Callista menandatangani perjanjian setelah Evelyn membacakan bagian penting sekali lagi. Lucas menandatangani pada halaman yang sama. Tidak ada ciuman atau tepuk tangan. Ben menjadi saksi dan menyerahkan salinan kepada masing-masing pihak.
'Dokumen ini dapat diubah hanya dengan persetujuan keduanya,' kata Evelyn. 'Pernikahan juga tidak mencabut hak untuk berkata tidak pada hal yang tidak tertulis.'
Lucas mengangguk. Callista menyimpan salinannya dalam tas sendiri, bukan membiarkan Ben membawanya.
Amanda pulang dari rumah sakit hari berikutnya. Keluarga menyambut sederhana. Setelah dokter memastikan ia cukup kuat, Lucas dan Callista duduk di hadapannya.
'Kami akan menikah,' ujar Lucas.
Amanda menatap Callista lebih dulu. 'Kau yakin?'
'Saya memilihnya dengan syarat yang sudah kami sepakati.'
Amanda tidak bertanya tentang isi kontrak. Ia memeluk Callista, lalu menangis. Lucia berteriak dari belakang dan memeluk mereka berdua.
Lucas tetap berdiri agak jauh. Callista menyadari dirinya hampir kehilangan pusat ketika seluruh keluarga menyambutnya. Ia mencari wajah Lucas dan menemukan lelaki itu menatap cincin biru di tangannya.
'Kapan pernikahannya?' tanya Lucia.
'Tiga bulan lagi,' jawab Amanda penuh semangat.
Lucas menoleh cepat. 'Mom, kami belum menentukan.'
'Dokter bilang Mommy tidak boleh terlalu banyak menunggu kebahagiaan.'
Callista melihat rasa bersalah kembali dipakai, kali ini dalam bentuk candaan. Ia menggenggam tangan Amanda dengan lembut.
'Kami akan membicarakan tanggal setelah dokter menyatakan Anda stabil. Kesehatan Anda tidak boleh menjadi hitung mundur pernikahan kami.'
Amanda tampak malu, lalu mengangguk. 'Kau benar.'
Lucas menatap Callista lebih lama. Mungkin ia baru melihat bahwa gadis yang dianggap ingin menempel pada keluarga Dixie justru berani menolak keinginan matriarknya.
Malam itu, Lucas mengantar Callista pulang. Di depan apartemen, ia menyerahkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada kunci elektronik kediaman Dixie.
'Untuk apa?'
'Agar kau dapat datang tanpa menunggu staf. Mommy pasti sering memanggilmu.'
Callista menutup kotak. 'Aku menerimanya setelah pindah resmi. Sebelum itu, aku tetap tamu.'
Lucas mengambil kembali kotak tersebut. 'Kau membuat semua hal menjadi rumit.'
'Kau membuat pernikahan menjadi kontrak. Aku hanya membacanya dengan teliti.'
Kali ini Callista yakin ia melihat senyum tipis sebelum Lucas memalingkan wajah. Lelaki itu pergi tanpa ucapan selamat malam. Namun cincin biru tetap berada di jari Callista, di atas tangan yang masih sepenuhnya dapat ia tarik kembali.