Dira saat ini sedang berada di posisi rasanya ingin berhenti untuk mengagumi Shaka. Dia akan ikhlas lahir batin untuk membiarkan Shaka suka sama siapa saja. Jadian sama siapa saja Dira tidak peduli sama sekali. Akan tetapi, ia malah dipertemukan lagi dengan shaka lagi—dan lagi sebuah toko kaset yang menjual lagu-lagu jaman dulu.
Mereka bertemu berhadapan; Dira bimbang haruskah ia menyapa Shaka atau tidak? Tapi, kalau ia tidak menyangka ini malah membuatnya terlihat sombong. Jadi ia pun langsung menyapa Shaka.
"Hai Shaka."
"Hai."
"Suka ke sini juga lo."
"Iya."
Dira melongok ke belakang Shaka menengok ke sana kemari ingin tahu apakah Shaka datang seorang diri atau hanya sendirian. Benar memang Shaka datang sendirian tidak dengan siapa-siapa ini kesempatannya untuk bisa dekat dengan Shaka. Pupus sudahlah keinginannya untuk tidak lagi menyukai Shaka.
Shaka berjalan menerobos Dira dengan menyenggol bahu Dira, "maaf ya. Gue mau ke sana. Lo menghalangi jalan gue." kata Shaka.
Dira memperhatikan Shaka yang berjalan ke rak-rak kaset yang menjual kaset-kaset band jadul asal Inggris.
Dira yang berada di belakang Shaka pun melihat Shaka mengambil salah satu album pertama dari The Beatles. Dira memang tahu kalau Shaka ini penggemar berat band-band asal Inggris termasuk The Beatles.
"Lo suka The Beatles juga ya?" tanya Dira pura-pura tidak tahu.
"Iya "
Dira sejujurnya kesal sekali dengan Shaka yang menjawab dengan seadanya padahal mereka berbicara langsung bukan berbicara lewat chat. Dira kadang berpikir jangan-jangan mulut Shaka pakai pulsa atau kouta.