Anne duduk terdiam mematung di kursi yang dia duduki. Ia menatap semua yang ada di ruangan itu dengan perasaan frustasi. Sorot matanya mengambarkan kemarahan namun tubuhnya meminta rasa iba pada mereka.
Wanita itu menghela nafas panjang, dan gusar. Ia menatap ke sana –kesini namun hal yang dia dapatkan membuatnya membelalakkan mata. Hal yang tidak bisa Anne lupakan adalah saat dia melihat wajah pria yang semalam namanya terus dia sebut.
Anne masih terdiam memandangi pria itu berdiri di sudut ruangan. pria itu menyandarkan tubuhnya ke tembok dengan gaya angkuhnya dan tetap mengamati anne tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali.
“aku sepertinya benar-benar gila sekarang” celetuk anne sambil menggelengkan kepala namunn ternyata matanya masih terpusat pada sudut ruangan dimana pria itu berdiri sambil sedikit menyandarkan tubuhnya.
Sekali lagi anne mengarahkan pandangannya ke sekeliling, tidak ada yang menyadari keberadaan pria itu selain dirinya dan itu membuat anne yakin jika dia sedang berhalusinasi.
Langkah kakinya tegas, dengan mata menawan juga wajah yang rupawan, dia sangat percaya diri untuk mendekati Anne yang sedang selonjoran di kursi karena kelelahan setelah mendapat penyiksaan.
Anne di buat seolah sedang menyaksikan pria berbadan tinggi, tegap dan rupawan itu semakin mendekat lalu memancarkan aura yang membuat anne semakin ketakutan.
Sosok tersebut nampak nyata dan semakin nyata ketika peia itu mencuri kecupan di bibir Anne dan beberapa kecupan di matanya. Dengan gerakan cepat, pria itu malah mencekik leher anne hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Dia terkesiap terbangun dari tidurnya dengan wajah yang basah karena keringat yang ternyata juga terjadi di bagian tubuh lainnya. Anne kini kembali menangis semakin keras.
Anne masih saja dihantui wajah pria tampan namun menakutkan itu. Anne tidka bisa lagi membedakan antara kenyataan atau mimpi buruk yang terus menghatuinya setelah kembali ke dunia manusia.
Masih dengan tubuh yang lemah juga lunglai, kini anne telah di seret untuk kembali ke ruang yang dimana dia bisa bertemu dengan pelaku kejahatan lainnya.
Kegiatan anne ini terus berulang, hari ini dia dibiarkan bernafas lega walaupun tubuh hampir saja remuk dan besoknya akan di tanyai hal yang sama hingga anne mengatakan sesuatu yang mereka ingin dengar.
“kenapa kau tidak membunuhku saja” ujar Anne lirih namun masih terdengar jelas oleh pria yang menggunakan jas putih tersebut.
“terlalu mudah jika hanya membunuhmu” balas pria itu dengan senyum mengejek lalu melemparkan anne masuk ke dalam ruang tahanannya setelah melewati tes ke jujuran lagi.
“aku ingin mati, Michael, bunuh aku sekarang” jeritnya di sepertiga malam yang membuat penghuni kamar itu terganggu hingga memukul anne dan memasukkan kepala anne kedalam bak air yang tadinya terisi penuh.
“aku menyesal Michael, aku menyesal. Bawa aku pergi” pinta anne dengan tangis yang harus dia coba redam agar tidak lagi mendapat kekerasan dari penghuni kamar itu.
Sudah hampir sebulan anne mendekam di tempat ini, tidak pernah ada senyum atau tubuh yang segar walaupun tetap di beri makan, anne memberontak dengan cara tidak makan sama sekali dan hanya mengisi perutnya dengan segelas air.
Bulan pertama, semua masih baik-baik saja hingga memasuki bulan kedua, tubuh anne makin lemah dan kini sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Seorang berpakaian seragam kini dibuat khawatir hingga melarikan anne ke ruang kesehatan.
“apa yang terjadi?”
“entahlah!” jawab pria berseragam biru gelap itu.
“aku bahkan mengira ini adalah mayat. Kau membawa tubuh yang sangat kurus” ujar wanita berjas putih sambil memeriksa tubuh anne yang sudah tidak sadarkan diri.
“kerjakan tugasmu dan berheti bicara” bentak pria itu sambil mendengus keras.
“hai, ini bukan jam kerjaku. Aku butuh makan” jelas wanita itu dengan wajah muak namun seketika meninggalkan ruangan tersebut.
“kau adalah wanita terbutuk” umpat sang pria namun wanita malah mencium si pria dengan sangat panas
“seburuk itukah?” ucap wanita tepat di atas bibir sang pria
“aku masih ragu-ragu menjawabnya” jawab pria itu dengan senyum miring dan tidak lupa memiringkan kepalanya agar ciuman mereka semakin intens.
“sekarang?” tanya wanita itu lagi sambil meremas celana bagian pusat inti dari pria itu.
“jika kau menyentuhnya secara langsung mungkin bisa ku dekskripsikan lebih jelas” kata pria itu lagi sambil meraba tubuh sang wanita.
“kemarilah dan beri aku nilai yang sempurna” titah sang wanita sambil menuntun si pria ke sudut ruangan lalu aksi mereka kembali di mulai.
Di sudut ruangan, pria dan wanita itu akhirnya melakukan hubungan intim. Desahan demi desahan terdengar jelas oleh anne namun anne mimilih diam juga berpura-pura tertidur.
“kau sangat menakjubkan” desah pria itu sambil menarik sang wanita semakin masuk dalam pelukannya dan bagian intim mereka semakin menyatu.
“kau yakin, tidak mau mencobanya sekali lagi?” tantang si wanita dengan senyum sensasional yang dia tunjukkan pada pria itu.
Mendengar ucapan wanita, itu pria itu seketika menyentakkan pingganya hingga sang wanita memekik cukup keras karena menyukai hal yang di lakukan si pria. pakaian lengkap namun tubuh mereka masih terhubung ternyata bukan jaminan jika mereka aman.
Seseorang di luar sana tengah mengetuk pintu hingga merusak sekenangan sepasang sejoli tersebut. Ketika pintu terbuka, seorang tahanan ternyata datang untuk meminta obat.
kedatangan orang itu terasa sangat menggangu, wanita itu segera memberi obat tanpa berkomentar banyak hingga ruangan itu kembali hanya di isi oleh anne yang berbaring dengan keadaan sadar namun matanya terpejam, si pria sedang memberi ransangan ke wanita sedangkan wanita yang sedang duduk di pakuan sang pria kini mendesah kenikmatan.
“haruskah hal ini berlanjut?”
“ya, ku harap kita bisa bermain lebih dari ini” balas sang wanita dengan senyum cerah.
Bibir penuh berwarna merah itu ternyata sekali lagi menaikkan keingan sang pria untuk melakukan seks. di masukkanya pusat inti pria itu dalam tubuh sang wanita dari arah belakang.
Permainan berlanjut, desahan dari pria dan wanita itu sekali lagi terdengar. Tanpa sadar bagian intim anne seolah gatal dan tubuhnya terbakar.
Anne adalah wanita dewasa dan hal intim itu juga telah pernah dia lakukan. kenangan tentang tubuhnya di serang oleh Michael kini terbayang dalam ingatan dan tanpa sadar, anne menyebut-nyebut nama Michael dalam hati.
“ya sayang. Fast … fast” titah sang wanita dalam desahannya.
“yaayaya I come..” desah si pria
“don’t please. Don’t stop” jerit wanita itu ketika pria terus menggerakkan pinggulnya cukup keras hingga ranjang yang menjadi tumpuhan sedikit bergeser karena efek dari dorongan sang pria.
Pria itu terbulai lemas di punggung sang wanita namun wajahnya nampak sangat puas sedangkan wanita kini memasang wajah cemberut lalu berkata
“aku belum keluar bodoh. Seharusnya kau menungguku” umpat sang wanita sambil kembali merayu sang pria
“leter honey. I have to go now”
“shitttt” umpat sang wanita lalu melayangkan tangan untuk menampar si pria namun bukannya kesal, pria itu dengan brutal mencium bibir sang wanita lalu meremas dadanya hingga wanita menjerit sedikit keras.
“love you” ujar sang pria lirih sambil memakai kembali celananya yang tadi merosot.
“I hate you”
“ya Me too”
“aku berkata membencimu sialan”
“ya Love you too” ucap sang pria kembali mencuri sebuah ciuman lalu pergi sambil melambaikan tangan pada sang wanita.
Pria itu sudah pergi dan tinggallah sang wanita dan Anne di ruangan itu. Kini wanita itu merapikan pakaiannya namun bibirnya berkata
“bangunlah, aku tahu kau hanya berpura-pura sedari tadi”
“bangun sebelum aku benar-benar memberikan suntikan mati padamu”
“ya” jawab anne canggung.
“kau ada keluhan?” tanya wanita itu santai sambil duduk di kursinya dengan postur tubuh tubuh tenang dan seolah tidak pernah terjadi hal aneh di tempat ini. Anne memilih menggeleng sebagai jawaban kali ini.