Seperti bisanya, saat anne tertidur, dia kembali ke dalam ruang kehampaan itu. Anne bisa mendengar suara entakan kaki seseorang dilantai kramik yang menggema seperti dirinya tidak sendiri di dalam tempat itu nyatanya anne tidak pernah mendapatkan seseorang pun selain dirinya.
Masih dengan meringkuk layaknya janin, terjaga dengan mata terpejam namun kini ada yang berbeda. Ruang hampa yang awalnya gelap itu seolah mendapatkan cahaya terang dan kini terlihatlah tempok yang dipenuhi lumut juga rerumputan yang merambat di tembok tersebut hingga menjuntai ke lantai.
Aroma pengap serta lumut yang lembab tercium dari segala penjuru diikuti, pemandangan yang menyeramkan kala anne bisa melihat apa yang kini tengah dia pihak.
Matanaya terbelalak kaget saat cairan merah kental itu ikut mengeluarkan aroma yang membuat anne merasa kurang nyaman lalu memegangi hidungnya namun tidak hanya hidung yang harus anne selamatkan karena kini dia tidak bisa menahan mual timbul dari apa yang dia lihat.
Langit tengah bergemuruh, badai seketika datang dan rintik hujan menyertai kali membuat anne binggung dengan situasi baru yang dia dapatkan. Di selimuti udara dingin, tubuh anne sedikit bergetar dan mengigil.
Di tengah rasa ketakutannya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu seakan ada yang sedang mengawasinya. Hal ini bukan pertama kalinya anne rasakan namun kini rasanya berkalikali lipat sampai bulu kudunya berdiri.
Menyadari hal itu, anne seketika mencoba berlari sesuai instingnya namun ketika dia berlari ingatannya membawanya melayang pada kejadian sebelum dia menjadi buta lalu di bawa ke kerajaan dallas.
“apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Anne sambil terus berlari. Tidak ada seorang pun yang anne dapatkan sepanjang dirinya berlari. Sejauh ini, tidak ada yang mengejarnya namun ketika anne mengucapkan kalimat itu, dalam benaknya seolah menjawab dan kata yang terbersik adalah
“nasib buruk”
Anne terus berlari dan terus berlari hingga tibalah dia di sebuah pohon tua yang ukurannya sangat besar juga akar yang lebih besar dari pepohonan yang lain.
Dua pohon berdiri tegak layaknya sebuah gerbang bahkan ada sebuah ukiran yang mengambarkan sebuah wolf di tengah-tengah kedua pohon tersebut. saat anne ingin berlari melewati dua pohon kembar itu, tubuh anne terhalang entah oleh apa.
“kenapa?” tanya anne lagi pada dirinya sendiri.
Anne sempat beridiri lama di depan kedua pohon tersebut lalu menatap sekeliling. Ternyata ketika anne berhasil menemukan kedua pohon tersebut, sekeliling anne seketika menjadi gelap kembali dan hanya ada dua pohon itu.
Pohon itu sangat besar benar-benar layaknya gerbang. Tidak ada pohon lain seperti sebelumnya, tidak ada lagi tempbok yang di penuhi lemut juga rumput hanya ada kegelapan dan dua pohon itu lagi.
Hanya itu yang bisa anne dapatkan. Sekali lagi anne berusaha masuk untuk melewati dua pohon tersebut namun sama seperti sebelumnya, anne di buat terpental hingga jatuh.
Belum berhasil anne berusaha membuka atau melewati pohon, tubuhnya terasa tergoncang dan ketika dia berhasil tersadar, matanya dibuat terbelalak karena kini di hadapannya seorang pria yang selalu namanya Anne sebut
“kau sudah menyesali pilihanmu ternyata”
“Michael”
“ya”
“kau nyata, atau ini hanya ilusi?”
“apa yang kau harapkan?”
“Michael”
“ya”
“aku ingin kau”
“ingin aku?”
“ya”
“kau yakin?”
“ya”
“anne”
“anne”
“bangun sialan, bangun”
“bangun” bentak seorang wanita padanya hingga membuat anne yang awalnya berbaring kini terduduk karena seperti biasanya hanya guyuran air yang mampu melepaskan dirinya dairi mimpi layaknya ilusi itu.
“kau sunggu merepotkan” umpat wanita yang berpakaian tahanan seperti anne.
Belum lama anne terbangun, seorang pria berseragam biru gelap kini memasuki kamar mereka. Melihat kamar itu masih berantakan bahkan sedikit basah, lagi-lagi mereka mendapat amukan dari pria berseragam.
Beberapa mata kini menatapi anne dengan perasaan sangat marah. Karena kelakuan anne yang buruk dan tidak di siplin, akhirnya anne di seret oleh pria berseragam biru memasuki sebuah ruangan yang ukurannya sangat kecil dan hanya muat untuk satu orang.
Tempat itu sembab, tidak ada cahaya matahari dan kecil. Tidak ada pasiliras kamar kecil di kelilinggi tembok dan sebuah pagar besi yang kokoh. Seperginya pria berseragam biru, kini anne duduk meringkuk.
Tidak ada bedanya anne didalam mimpi atau kenyataan hanya ada kegelapan dan rasa frustasi. Anne lalu mencakar-cakar dirinya sendiri hingga darah segar itu keluar dari kulitnya.
Anne menjilat lalu mengaruk kulitnya semakin kuat hingga darah yang mengalir semakin banyak sungguh anne tidak pernah bertingkah gila seperti ini namun rasanya anne puas setelah menikmati darahnya sendiri.
Anne terus menerus melakukan hal itu hingga pria berseragam itu kembali. awalnya pria itu akan mengantarkan makan namun melihat anne bertingkah gila, sang pria berteriak meminta bantuan.
Kini sudah datang beberapa pria berseragam biru gelap lainnya, mereka meringkuk tubuh anne hingga tidak berkutik. Perbuatan anne sekali lagi di anggap membahayakan hingga mereka membawa anne ruang isolasi yang bewarna putih terang.
Terlebih dahulu mereka memasangkan borgol di tangan anne lalu tangan itu di pebalut kain putih hingga anne layaknya mumi yang di bungkus namun hanya di bagian tangan saja.
Di ruangan itu sangguh terang, hanya ada warna putih di seluruh ruangan. kali ini ruangan lebih besar dari sebelumnya namun anne merasa semakin frustasi karena di kenyataan hanya ada warna putih, sedangkan di dalam mimpi dia dalam kegelapan tak berujung.
“lepaskan aku” jerit anne
“lepaskan aku sialan”
“aku akan membunuhmu” umpat anne marah
“kau b******n”
“kau yang membuatku seperti ini” jerit anne semakin keras
“aku ingin mati” lirihnya
“bunuh saja aku Michael”
“bunuh aku b******n” umpat anne semakin marah pada seseorang yang tengah berdiri di sudut ruangan dengan santainya sambil memperhatikan anne yang di tenangkan oleh para petugas namun kehadirannya di sana semakin membuat anne mengumpati Michael.
Ya, Michael tidak pernah meninggalkan Anne. Selama ini, Michael menjaga bahkan memanipulasi pikiran manusia sekeliling anne agar mereka menghancurkan mental anne.
Apa yang Michael inginkan kini pelan namun pasti telah terwujud kini, Michael hanya ingin mendengar anne memelas padanya agar di bawah kembali kekerajaan dallas.
Tujuan yang mudah sebenarnya namun Michael menginginkan Anne mengucapkan itu dengan sendirinya. Selama hampir 3 bulan di tempat ini ternyata anne tidak juga menyadari itu hingga membuat Michael ikut campur tangan atas keputusan yang harus Anne pilih.
“aku ingin kau membunuhku Michael”
“aku sudah tidak sanggup” jerit anne dengan sangat keras walaupun tubuhnya kini sedang di lumpuhkan oleh beberapa petugas.
“aku ingin mati” pinta anne dengan tatapan memohon.
”Michael aku tahu kau mendengarku” teriak Anne lagi.
“Michael bunuh saja aku” jerit Anne dengan sisa-sisa tenaganya karena seseorang telah menyuntikkan sebuah cairan penenang hingga anne tidak sadarkan diri.
“bagaimana ini?” tanya seorang pria berseragam biru gelap namum memiliki pangkat yang cukup tinggi.
“pisikolog mengatakan dia waras namun mentalnya mulai terguncang” lapor pria yang selama ini mengawasi anne.
“siapa Michael?” tanya pria berpangkat itu pada bawahannya.
“dari yang kami selidiki, dia tidak punya kenalan bernama Michael”
“jadi apa rutinitas wanita ini?”
“tidak ada bedanya dengan tahanan lain selain sulit di bangunkan ketika pagi” adu pria itu pada atasannya.
“kehidupannya sebelum masuk?”
“wanita pendiam dan tidak punya kehidupan social selain ibu dan ayah angkatnya”
“selain itu?”
“tidak ada. Kami hanya mendapat keterangan dari ibunya, selain mereka, anne tidak punya kenalan lain”
“sudah kau selidiki kehidupan keluarganya?”
“ya”
“apa yang kau dapatkan?”
“dia tidak memiliki kehidupan sosail namun pencuri yang terlatih selain itu tidak ada lagi”
“b*****h yang merepotkan ternyata” ujar pria lanjut usia yang memiliki pangkat cukup tinggi itu.