Mencari keputusan yang tepat bukanlah sesuatu yang sangat mudah dilakukan,membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mereka agar bisa mencapai keputusan yang benar-benar menurut mereka sangat terbaik bagi mereka.
Tujuan awal mereka hanyalah meminta pembebasan bagi diri mereka yang selama ini dianggap b***k atau lebih rendah dibandingkan manusia. Secara fisik mereka mirip sekali dengan manusia dan hanya berupa menjadi serigala jika mereka menginginkannya, kekuatan besar itu pun mereka jarang sekali melakukannya.
Juli menghabiskan waktunya bersama Ann seperti biasa, Killian juga membantu mengamati Julie.
Dia tidak bisa lepas tanggung jawab dan dia merasa dia memang telah menjadi dekat dengan Julie, kemanapun Julie berada dia selalu mengikutinya. Maka mereka seringkali pergi berdua yang membuat hubungannya menjadi sangat dekat. Ann yang selalu menempel itu tentu saja senang, dia berharap kalau keduanya memiliki hubungan yang baik keduanya berasal dari bangsa yang berbeda dan memiliki hubungan karena hal yang buruk pada awalnya.
Bunyi lemparan batu terdengar, Julie terlihat begitu bosan melakukan ini berulang kali tapi apa yang dia lakukan ini malah menjernihkan pikirannya. Di belakangnya ada seorang pria yang mengamati dengan matanya yang biru, dia memandang Julie dengan cara yang aneh tapi dia tidak bisa menggantikan Julie yang terlihat begitu sedih.
“kau akan menghabiskan batu di sini dan membuat air sungai menjadi tinggi.” Killian duduk di sebelah Julie, dia terlihat tenang seperti langit tanpa awan dan angin hari ini.
"Aku tidak melemparkan segunung batu ke dalam sungai ini.” Julie lebih cepat membalas ucapan Killian dibandingkan biasanya. Seolah dia tidak menggunakan otaknya ketika dia menjawab ucapan Killian.
“Ah, kau semakin pintar, Julie.”
Julie tersenyum masam.
"Sampai sekarang mereka belum menemukan keputusannya?"
Julie tidak berpaling dari tempatnya, dia hanya memfokuskan pada riak akhir yang tercipta dari lemparan batu yang dia buat. Begitu tenang tak membuatnya ingin berlama-lama berada di sini.
“Itu hal yang sangat penting jangan terlalu memikirkannya.”
Julie menghelakan napas berat, sekarang dia membersihkan tangannya dari pasir yang menempel di jari-jari kecilnya itu. Dan kali ini dia menghadap ke arah Killian, menatapnya dengan tatapan mata yang dalam.
“Kau tahu kalau aku juga tidak menyukai kalau manusia menindas Werewolf, kami bisa tinggal bersama karena lihatlah sekarang kita bisa berteman.”
“Kita teman?” tanya Killian dengan cara yang aneh.
Entah kenapa tatapan matanya terlihat sedih, yang membuat Julie merasa dia telah melakukan sesuatu yang salah.
"Tentu saja kita teman yang dekat. Aku selalu mengagumimu sebagai orang yang luar biasa.” Julie kembali berkata untuk memuji Killian, dia memperhatikan pilihan yang sekarang menyentuh pipinya dengan cara di telunjuk, setelah itu dia melihat ke lainnya.
"Jadi, kau tidak menganggapku sebagai teman? Atau kau berpikir aku yang manusia ini tidak pantas menjadi temanmu.”
Ucapan Julie itu membuat kalian langsung menatapnya, kerutan muncul di kening Killian yang membuat Killian merasa bersalah. Bukan itu yang dia maksud, hanya saja hatinya merasa aneh dengan ucapan kalau mereka adalah teman.
"Jangan menganggap seperti itu, aku telah menganggapmu teman." Killian akhirnya mengatakan hal seperti itu yang membuat judi tersenyum kecil lagi. Entah kenapa Killian ketika mengatakan kalau mereka berdua adalah teman dia merasa sangat tidak nyaman.
Keheningan terjadi di antara mereka cukup lama udara bertiup yang membuat tubuh mereka merasakan dinginnya udara tersebut. Dan kemudian Killian yang dari tadi memperhatikan Julie akhirnya membuka mulutnya.
"Seharusnya Kau tidak perlu kembali ke rumahmu lagi, aku harap mereka memutuskan untuk mengirimkan kami ke sana untuk mencari tahunya sendiri.”
"Kenapa? Kau takut aku terluka?”
Julie menahan nafasnya, ada perasaan tidak tenang di dalam dirinya, ketika angin menyentuhnya itu malah membuatnya menjadi lebih tegang dibandingkan sebelumnya.
“Walaupun aku terluka di sana akan ada pendeta yang akan menyembuhkanku.”
Julie bicara dengan acuh, karena hal itulah yang sering terjadi pada hidupnya seolah dia menjadi terbiasa dengan hal-hal yang sebenarnya tidaklah baik untuk dirinya.
“Jangan merendahkan dirimu sendiri seperti itu kau tidak ada di dunia ini yang pantas disiksa seperti itu termasuk kami dan dirimu.”
Killian menekankan kalimatnya, ada keberanian dan ketegasan yang terlihat dari sorot mata Killian. Membuat Julie tersenyum.
“Baiklah, bagaimana kalau sekarang kita membicarakan hal yang lainnya.” Julie bicara dengan ide di kepalanya, membicarakan hal berat seperti ini membuat mereka menjadi pusing sendiri, mereka membutuhkan sesuatu yang lebih tenang atau bisa menyenangkan mereka.
Sekarang keduanya menjadi teman, tapi ada banyak hal yang masih mereka tidak ketahui satu sama lain.
“Apa kesukaanmu?” Tanya Julie pada Killian.
“Sama seperti pria biasa.”
Killian menjawab cepat, biasa sekali melihat ke arah Juli dan sekali Dia melihat ke arah sungai yang mengalir di depan mereka. Mereka berdua yang ada tempat sini tanpa siapa pun membuat pembicaraan mereka terdengar sangat intens.
"Memangnya apa yang disukai pria biasa?” tanya Julie kembali, dia melipat tangannya di atas dengkulnya yang berjongkok.
"Seperti kekuatan, kekayaan, makanan enak, ya, seperti itu lah.” Killian mengerutkan keningnya ketika selesai mengatakannya, ternyata memikirkan tentang kesukaan saja membutuhkan pemikiran yang sangat banyak membuatnya mengorek isi kepalanya yang jarang digunakan untuk berpikir tentang dirinya sendiri.
“Oh, bagaimana tentang wanita? Seorang pria normal biasanya menginginkan banyak wanita di hidup mereka. Mereka menginginkan satu wanita, dua wanita, tiga wanita dan sebagainya. Ya, pria seperti itulah, bukan?”
Julie bicara dengan sangat tenang dan jujur, membuat dirian yang merupakan seorang pria terkejut dengan ucapan Julie. Itu ucapan yang terdengar tidak tahu malu karena membicarakannya dengan lawan jenis, Killian ya mendengarnya saja malu karena itu seolah membuatnya seperti pria gampangan.
“Eh, aku tidak begitu. Aku hanya perlu satu wanita saja.”
Killian tegas menjawabnya.
“Sungguh?” tanya Julie terkekeh, dia menyaksikan sendiri sikap panik Killian yang ingin membuatnya tergoda.
Killian menganggukan kepalanya.
“Katamu kesukaanmu sama seperti pria pada umumnya.”
“Ganti saja, kesukaanku hanya sebatas itu.”
Killian mengibas tangannya, dia ingin mengakhiri pembicaraan tentang wanita. Seumur hidupnya saja dia tidak memiliki hubungan dengan wanita mana pun. yang membuatnya tampak sebagai pria yang aneh.
Dan kenapa dia harus menjawab semua pertanyaan Julie? Dia sendiri tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Tapi ketika dia bicara dengan Julie ada sesuatu yang tidak tenang dalam dirinya dan sesuatu yang tenang di dalam dirinya, kedua hal itu bercampur tergantung dengan apa yang dikatakan Julie. Membuatnya berdebar-debar dengan cara yang aneh. Ketika Julie tersenyum dia juga ikut tersenyum kecil dengan perasaan hangat di dalam dirinya.
“Kau jatuh cinta padanya!”
Kalimat itu terngiang di kepala Killian, yang sekarang membuat Gill yang membelalakkan matanya, dia tidak percaya kalau itu bisa saja terjadi pada dirinya yang tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita mana pun.