Killian terdiam karena di dalam pikirannya yang Sekarang sedang berkecamuk, dan telinganya memerah dengan sangat jelas, suhu tubuhnya naik.
“Kilian?”
Julie memanggilnya, ini sudah tiga kali dia memanggil Killian dan Kilian sama sekali tidak melihat ke arahnya.
Tiba-tiba saja Killian terdiam, dia tidak merespon apa dikatakan oleh Julie sehingga membuat Julie merasa sangat khawatir dengan pilihan, dia menatap Killian dan Killian juga masih tidak bereaksi ketika Julie memanggil Kilian. Hingga Julie akhirnya menyentuh pundak Killian.
Killian langsung terkejut, dia kehilangan keseimbangannya karena mengelak dari sentuhan Julie, apa yang dia lakukan itu membuat tubuhnya terjatuh ke sungai yang membuat Julie langsung berdiri karena benar-benar terkejut.
“Killian!”
Teriakan itu adalah refleks dari Julie yang terkejut.
Killian yang berada di sungai dan membuat suhu tubuhnya dingin merasa bersyukur karena dia sekarang telah kembali menjadi normal, karena dinginnya air sungai itu membuat telinganya tidak sampai merah tadi. Dia menatap ke arah Julie dan merasa kalau dia telah melakukan kebodohan yang luar biasa.
"Kalau aku tidak bisa menjaga sikapku, Julie kamu mengetahuinya.” Killian berusaha dengan keras agar apa yang terjadi pada dirinya tidak diketahui.
Dia tidak mau kalau hal ini membuat dirinya nanti akan menjadi bual-bualan Julie.
Pokoknya dia harus menyembunyikan apa yang baru dia sadari ini dengan sangat baik. Killian meneguk salivanya sendiri, ada perasaan khawatir di dalam dirinya kalau orang lain akan mengetahui kalau dia benar-benar jatuh cinta pada Julie. Dia mengatur nafasnya terlebih dulu agar bisa menghadapi Julie dengan tenang.
“Killian, pegang tanganku." Julie mengulurkan tangannya, ingin membantu Killian untuk keluar dari sungai, tapi apa yang dilakukan Julie itu tidak disambut oleh Killian karena dia tidak mau membuat jantungnya dalam keadaan yang tidak baik.
Dia sangat takut kalau Julie mengetahui apa yang terjadi pada dirinya ketika dia bersikap aneh.
Sikapnya yang dingin itu membuat Julie menatap pilihan dengan terasa sedih, padahal dia berpikir kalau mereka telah memiliki hubungan yang dekat namun sekarang Julie malah diabaikan oleh Killian.
Dia cemberut saat melihat Killian naik dari sungai dengan usahanya sendiri.
"Jangan cemberut seperti itu, wajah jelekmu itu akan terlihat menjadi lebih jelek dibandingkan biasanya.”
“Ya, aku memang jelek.”
“kau cantik sekali, tahu. Kau cantik hingga aku tidak bisa menghadapimu sekarang.”
Killian menggenggam tangannya dengan sangat erat, dia tidak tahu entah kenapa dia bisa bicara dengan sangat manis di dalam pikirannya, dia tidak pernah merasakan jatuh cinta tapi sekarang dia seperti orang bodoh ketika memikirkan Julie.
Luna, itulah sebutan bagi pasangan para Werewolf, mereka telah ditentukan takdir yang diberikan oleh Moon goddess.
“kalau aku mengambil tanganmu tadi kau juga akan terjatuh, tubuhku ini lebih berat dibandingkan tubuhmu dan aku tahu aku bisa keluar sendiri dari kolam itu tanpa bantuanmu.” Killian menjelaskan pada Julie agar dia tidak melihat wajah cemberut itu lagi, yang dia inginkan adalah wajah ceria seperti biasa yang Julie berikan ketika dia bicara dengan teman-teman kecilnya itu.
Julie memiringkan kepalanya, membuat tubuhnya juga ikut miring ke arah Killian yang mengusap rambutnya.
“Sungguh?”
Senyum manis yang indah, mendebarkan yang membuat Killian menjawab sangat cepat.
Julie sekarang telah tersenyum kembali, Dia senang dengan jawaban yang diberikan oleh Killian, membuatnya berpikir kalau dia tidak dibenci oleh Killian. Berteman dengan Killian dan yang lainnya membuatnya takut kalau dia akan mengecewakan teman-teman barunya itu. Baru pertama kali baginya untuk menjalin hubungan pertemanan dan dia merasa sangat senang dengan hal itu.
Setelah Killian menenang, dia memberanikan diri untuk melihat ke arah Julie yang sekarang telah tersenyum kecil.
"Kurasa lebih baik kita sekarang pulang, karena bajuku basah seperti ini.” Killian menunjuk bajunya.
Julie menganggukan kepalanya setuju, dia bahkan memimpin jalan lebih dulu dibandingkan Killian yang membuat Killian tersenyum di belakang Julie.
Rambut merah milik Julie itu bergerak ke kanan ke kiri ketika dia berjalan dengan langkah kaki yang lincah. Dia juga melihat judi yang tersenyum kecil ketika dia melihat burung-burung yang terbang di atasnya, pemandangan yang begitu indah yang membuat Kilian malah tidak ingin pulang dengan segera.
Killian mengantar Julie ke tempat Ann, setelah itu dia pergi untuk mengganti bajunya.
“kau mendorong Killian?” tanya Ann dengan satu alis terangkat. Jika itu sungguh terjadi, Ann akan tertawa dengan besar.
“Tidak, dia terjatuh sendiri.”
“Killian itu adalah orang yang sangat waspada, dia juga memiliki refleks yang begitu hebat dan cepat. Mana mungkin dia jatuh sendiri.” Ann menatap tajam ke arah Julie, dia memperhatikan Julie dengan saksama, lalu dia akhirnya tahu Julie tidak bohong.
“Ann, dia mungkin sedang dalam keadaan lelah saja.”
Julie memiringkan kepalanya, dia mengetukkan jari telunjuk ke dagunya, dia mengingat bagaimana Killian kehilangan fokusnya tadi.
"Ya, itu bisa saja terjadi karena akhir-akhir ini memang sangat sibuk dan dia tidak bisa beristirahat dengan tenang.”
Ann mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Juli memang sebagai seorang ketua, dia memiliki selusin pekerjaan.
Terkadang kasihan melihat Killian yang selalu terjaga.
"Sudahlah lebih baik masuk dulu, aku telah membuatkan makanan yang enak. sayang sekali Killian tidak bisa mencobanya.”
Ann tersenyum, dia memang sebenarnya tidak ingin memberikan Killian masakannya. Killian bisa membelinya sendiri. Apalagi Killian lebih banyak memiliki uang dibandingkan dirinya. Bahkan Killian bisa berburu dengan baik dibandingkan dirinya.
Julie menerima tawaran Ann sangat baik, dia dengan penuh semangat langsung masuk mengikuti arahan Ann. Dan dia duduk di atas kursi yang di atas meja yang telah tersedia banyak makanan yang enak. Melihat hal itu Ann begitu bersemangat. Dia ingin memakan makanan ini dengan segera, tapi dia membiarkan Ann yang memberikannya.
"Kau harus makan lebih banyak dari biasanya karena kau terlalu kurus.” Ann melihat ke arah Julie.
"Kau juga kurus, Ann. Ayo makan bersama.” Julie tersenyum, kali ini dia yang mengambilkannya untuk Ann.
Kedua teman itu memakan makanan mereka yang merupakan roti kukus daging yang memiliki wangi yang sangat enak.
Ann senang Julie bisa memakan roti kukusnya sangat baik, dan lahap. Dua roti kukus telah dia habiskan yang membuat Ann puas.
“Kalau kurang aku akan membuatkannya lagi, habiskan saja semuanya.”
“Aku ingin meninggalkannya untuk Killian.”
“Jangan memikirkannya, Julie.”
“Kau kejam juga ya, Ann.” Suara bariton itu membuat Ann langsung melihat ke sumbernya, Killian sedang berdiri dengan menatap mereka.
“Kupikir kau tidak akan ke sini.” Ann menggerutu sendiri.
Julie mengambil satu roti kukus terakhir, itu membuat Ann senang, dia pikir Julie akan memakannya, tapi dugaannya salah.
Julie membawanya kepada Killian.
“Killian makanlah roti isi ini, buatan Ann. Enak sekali.”
Killian menatap roti isi itu cukup lama, dan membuat Julie menarik tangan Killian, dan meletakan roti isi di tangannya.
Telinga Killian memerah yang membuat Ann menatap Killian dengan cara aneh.
Ketika mata Killian bertemu dengan mata Ann, dia langsung bereaksi.
“Apa!?”