“Hei, bangun!”
Seorang pria berdiri menjulang di hadapanku. Tidak jelas. Gelap. Dari belakang punggungnya menyeruak sinar yang menyilaukan. “Bangun!”
Aku merasakan tendangan keras di kaki, membuatku sadar sepenuhnya. Seorang pria bertubuh tinggi kekar berdiri di hadapanku sambil bertolak pinggang. Aku balas memelototinya.
“Ayo, ikut. Kau tidak bisa makan gratis di sini,” kata pria itu kemudian dia keluar dari pondok.
Ulf sudah tidak ada di sini. Aku bangun lalu menyusul orang itu. Langkah kakinya besar dan cepat. Kulitnya hitam kemerah-merahan. Mungkin karena terlalu sering terbakar sinar matahari. Orang-orang berbondong-bondong berjalan ke arah yang sama. Mereka terlihat sedikit bersemangat. Beberapa orang yang baru keluar dari pondok juga ikut berjalan searah dengan semua orang.
“Hei, kita mau ke mana?” tanyaku pada si pria bertubuh besar.
“Namaku Ruda dan jangan panggil aku ‘Hei’,“ katanya sambil tetap melangkah dengan cepat tanpa menjawab pertanyaanku.
Kami berjalan ke luar perkampungan, menuju ke tembok besi. Beberapa prajurit pemanah berdiri di atas tembok. Orang-orang tetap berjalan seperti biasa melewati tiang berbendera putih dengan aman. Para prajurit diam sambil mengawasi. Kukira mereka akan menembakkan panah bila kami melewati batas itu. Ternyata tidak.
“Jangan terlalu tegang. Ini Hari Pemberian.“ Ulf tiba-tiba sudah berjalan di sebelahku sambil tersenyum. Aku terus memperhatikan setiap orang yang melewati batas tiang sampai tidak sadar dia sudah ada di sampingku entah sejak kapan.
“Maaf aku meninggalkanmu.” Ulf terlihat menyesal. “Aku tidak tega membangunkanmu. Kau kelihatan masih lelah,” lanjutnya sambil menyengir. “Tapi orang itu malah mengoceh ‘Tidak ada yang bisa makan gratis di sini’.” Ulf merendahkan nada suaranya, menirukan gaya bicara Ruda sambil melirik pria itu yang sudah berada lumayan jauh di depan sana. Gaya bicaranya sedikit lucu.
“Apa itu Hari Pemberian?“
“Hari di mana kita mendapatkan makanan. Lihat!” Ulf menunjuk ke atas. Karung-karung berjajar di atas tembok. Para prajurit mendorong karung-karung itu ke bawah. Karung-karung lain kembali diangkat ke atas tembok kemudian dibuang lagi ke tanah dan terus begitu. Kurasa kami boleh melewati batas ini khusus di hari yang mereka sebut Hari Pemberian.
“Setidaknya mereka tidak membiarkan kita kelaparan.” Ulf terlihat senang.
Jatuh dari tempat setinggi itu. Tidak heran isi di dalamnya hancur tidak karuan. Beberapa karung pecah dan isinya berceceran keluar. Setelah tidak ada lagi yang berjatuhan dari atas, orang-orang mendekat, mengangkat karung-karung dari atas pasir, lalu berjalan kembali masuk ke dalam perkampungan. Mereka melakukannya dengan tertib. Beberapa orang memunguti makanan-makanan kering yang tumpah. Jadi itu gunanya beberapa orang membawa karung kosong bersama mereka. Mereka mengambili satu demi satu makanan sambil membersihkan dari pasir seadanya. Tidak menyisakan satu pun tertinggal di atas tanah. Seseorang akan dapat makanan bercampur pasir. Kuharap itu bukan aku.
“Kau, jangan diam saja. Ambil karung dan bawa ke gudang penyimpanan,” kata Ruda. Mungkin lebih tepat disebut perintah.
“Di mana?” tanyaku.
“Ikuti saja orang-orang itu,” kata Ruda kemudian berjalan meninggalkanku dan mengawasi orang-orang.
“Ayo, Kei.“ Ulf menggendong sebuah karung. “Kalau kau terus berdiri di sana, mereka akan memarahimu,” kata Ulf lalu berjalan kembali ke arah perkampungan. Mereka akan memarahi kami kalau kami diam. Ya, mereka itu beberapa orang yang hanya berdiri sambil berteriak-teriak sementara orang lain bekerja.
Aku mengambil sebuah karung lalu mengekor Ulf. Setiap jarak tertentu ada satu orang yang berdiri mengawasi orang-orang yang mengangkut karung. Mereka mungkin takut seseorang akan mencuri karung untuk dirinya sendiri. Kemarin orang-orang di sini melihatku dengan pandangan aneh tapi sekarang mereka seperti tidak perduli sama sekali. Itu lebih baik. Selama mereka tidak mengangguku mungkin aku akan cepat terbiasa di tempat ini. Ulf sepertinya juga bukan orang yang buruk. Mungkin tidak semua orang-orang di sini adalah penjahat.
Satu dua pondok sedikit lebih besar dari pondok yang lain. Pondok satu dengan pondok yang lain sedikit berjauhan dengan jarak yang kurang lebih sama. Jalan di sini membingungkan seperti labirin. Aku pasti tersesat kalau ditinggal sendirian untuk saat ini.
Di sana ada pondok terbesar dan terbaik sepanjang yang aku lihat di perkampungan. Ukurannya beberapa kali lebih besar dari pondok Ulf. Dinding-dindingnya tertutup rapat dengan rapi. Mungkin pondok itu ditempati Rhein, Ruda atau orang-orang selain kuli seperti kami. Aku belum melihat Rhein dari tadi. Dia pasti punya posisi yang tinggi. Setidaknya seperti Ruda yang hanya memerintah di sana sini, bukan seperti kami yang mengangkut barang-barang.
“Podok yang besar itu milik Vitus,” kata Ulf . “Dia..”
“Hei, yang di sana! Cepat! Jangan ngobrol saja!” seru seorang pria yang berdiri di depan sebuah bangunan panjang yang sangat besar di depan sana. Semua orang membawa karung-karung masuk ke dalam tempat itu. Orang-orang yang mulai mendekati gudang penyimpanan makanan mempercepat langkah mereka. Mungkin karena takut dimarahi pria itu. Lengan kanan pria itu dibalut kain putih. Aku mengenal orang itu.
“Hoo.. rupanya si anak baru.” Pria itu menyengir. “Dan pengasuhnya Ulf, si serigala tua.”
Dia pria bercodet yang kulukai kemarin. Gerakan matanya terus mengikutiku. Aku bisa melihat dia berjalan mendekat dari samping mataku. Aku tidak mau cari masalah dengannya sekarang. Tapi kalau dia yang mulai dulu, karung ini mungkin akan melayang langsung ke mukanya.
“Sid, apa lukamu sudah lebih baik?” tanya Ulf tiba-tiba. Dia berjalan menyusul, berdiri di antara aku dan orang itu, entah sengaja atau tidak.
“Hanya luka kecil,” jawabnya enteng.
Seingatku aku melukainya lumayan parah sampai dia mengeluarkan banyak darah kemarin.
“Baguslah,” kata Ulf sambil terkekeh.
Aku masuk ke dalam gudang. Ulf di belakangku. Orang itu tidak mengikuti kami. Kudengar dia berteriak-teriak lagi menyuruh orang-orang yang masih di luar sana supaya jangan berlambat-lambat.
“Hei, anak baru. Apa isi benda itu?” Seorang pria bertubuh gemuk menghampiri kami.
Ulf membuka karung dan melihat isinya. Aku ikut membuka karungku. Si gendut ikut mengintip ke dalamnya.
“Itu kue kering taruh di sebelah sana,” kata pria itu. Dia berbalik lalu berjalan mendekati seorang pria kurus. “Hei, hei, ikat dulu dengan kencang. Kalau isinya sampai tumpah, itu jadi bagianmu, mengerti?”
Pria kurus itu mengangguk lemas kemudian berlutut mengikat karungnya. Dia terlihat menyedihkan seperti tidak punya semangat hidup. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk mengikat tali dengan kencang. Aku mendekati lalu membantunya.
“Wah, ada anak baik di sini,” kata si gendut. Dia sengaja menarik tali yang sudah kuikat sampai lepas dan membuangnya jauh-jauh. “Ambil itu dan ikat sendiri,” katanya pada si pria kurus. “ Dan kau,” dia beralih padaku, menyerigai kemudian tiba-tiba meninju perutku.
Ulf berdiri menghalangi orang itu dariku. Aku berlutut sambil memeluk perutku. Sakit. Aku tidak bisa berdiri.
“Cukup,” kata Ulf. Itu nada suara yang paling serius yang pernah kudengar darinya.
“Itu hanya sedikit dibanding yang kau lakukan pada Sid,” kata pria gendut itu lalu berjalan meninggalkan kami. Dia tidak mengacuhkan kami, mengurusi orang lain dan berlagak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia juga tidak menganggu pria kurus itu lagi. Ulf mengambil tali yang dibuang lalu memberikannya ke pria kurus itu. Mungkin Ulf bukan orang lemah yang bodoh seperti yang kukira. Sid dan juga si gendut b******k sama sekali tidak mengusiknya. Bagaimanapun juga orang-orang di sini seharusnya memang punya latar belakang yang buruk, termasuk Ulf. Mungkin aku sedikit lebih baik dari mereka semua. Aku tidak seharusnya berada di tempat seperti ini…
Sekarang aku baru ingat si gendut itu. Dia salah satu orang di antara orang-orang yang menyambut kedatanganku pertama kali. Kemungkinan orang dengan perut berlemak tebal yang kusikut dengan kencang. Dia melakukan ini untuk dirinya sendiri, bukan karena Sid.
“Kau, tidak apa-apa?” tanya Ulf dengan wajah khawatir.
“Tidak apa-apa,” jawabku. Aku bangkit berdiri perlahan sambil memegangi perutku. Ulf meraih lenganku. “Tidak perlu.” Aku menarik lenganku darinya dan berjalan meninggalkannya.
***
“Istirahatlah,” kata Ulf lembut. Dia membawakanku balsam untuk menghangatkan perutku. Dia sibuk mengurusiku dari sejak kami tiba di pondok.
“Kenapa kau bisa berada di sini?”
Ulf terdiam lama. Mungkin seharusnya aku tidak bertanya. “Lupakan saja.” Aku berbaring membelakanginya.
“Kalau anakku masih hidup dia pasti seumurmu sekarang.” Ulf bicara. Kupikir tadi dia sudah pergi.
Aku berbalik. Ulf berdiri diam memunggungiku.
“Dia tidak senakal kau,” katanya sambil tertawa kecil. “ Dia anak yang baik. Satu-satunya keluarga yang kumiliki. Aku hanya membalas apa yang mereka perbuat. Mereka pantas mati.“ Suaranya terdengar getir. Dia terdiam lama.
Ulf membalikan tubuhnya kembali menghadapku. Kukira tadi dia menangis dan akan menunjukan eskspresi wajah muram dan tertekan. Tapi yang kulihat sekarang wajahnya yang ceria dan bodoh seperti biasa. ”Kau tunggu di sini. Aku akan mengambil jatah makanan kita,” katanya sambil menyengir.
Orang seperti Ulf membunuh. Aku tidak bisa membayangkan orang seperti dia membunuh. Itu alasan dia berada di tempat ini. Alasan umum orang-orang buangan berada di sini. Apa yang dilakukan orang-orang lain di luar sana. Sid, Ruda, si gendut… Rhein… apa yang sudah mereka lakukan….
***
Ulf membawa beberapa karung. Kendi airnya sudah terisi penuh. Dia juga membawakan satu kendi air untukku. Aku merasa sedikit tidak enak karena harus membiarkan pria tua ini bolak balik dan tidak bisa membantunya sama sekali. Dia hanya terlihat sedikit lelah setelah melakukan semua ini. Staminanya lumayan kuat untuk ukuran pria tua kurus seperti dia.
Sudah beberapa hari aku tidak melakukan apa-apa sampai malam datang lagi. Mereka juga tidak menyuruhku melakukan apa pun. Perutku sudah jauh lebih baik.
“Kau sudah lapar?” tanya Ulf.
Aku sudah mulai muak. Kalau saja aku bisa hidup tanpa makanan, aku tidak akan mau makan makanan itu lagi. Kami makan dari karung-karung itu kemarin malam, siang tadi, malam ini, dan mungkin seterusnya, seumur hidup kami di sini.
“Nanti saja.”
“Baiklah,” katanya lalu dia makan dari karung bagiannya.
Makanan dan minuman bagian Ulf di sebelah sana dan bagianku di sebelah sini. Katanya ini cukup untuk jatah makan kami seminggu. Minggu depan makanan akan dikirimkan, lebih tepatnya dijatuhkan lagi untuk kami. Aku pasti akan sekurus Ulf pada saat pembagian makanan berikutnya. Aku tidak percaya orang-orang yang mungkin bisa disebut penguasa di tempat ini, terutama si pria berlemak itu bisa begitu makmur dengan makanan seperti ini.
“Siapa nama si gendut itu?”
“Eh,” Ufl menegok selagi mengunyah. “ Orang di gudang penyimpanan?”
Aku mengangguk.
“Namanya Berg. Sebaiknya kau jangan berurusan lagi dengan mereka, “ kata Ulf. Dia meneguk air lalu berbaring. “Jangan tidur terlalu malam. Besok ada yang harus kita kerjakan.”
“Kenapa dia bisa segendut itu sedangkan kau, dan kebanyakan orang di sini kurus kering?”
Ulf bangun lalu duduk bersila. Dia terlihat ragu. “Banyak hal yang belum kau ketahui mengenai tempat ini. Mengenai hal itu tidak perlu kau pikirkan. Yang jelas mereka tidak jahat.”
Aku tersenyum sinis. “Bukankah semua orang di sini penjahat?”
Ufl terdiam.
“Mereka mengambil jatah orang lain?”
“Jatah semua orang sama,” jawab Ulf.
“Seseorang tidak akan segendut itu dengan jatah makan seperti itu dalam seminggu,” kataku sambil menunjuk karung bagianku.
“Itu pilihan,” kata Ulf. Dia terlihat entahlah ragu? Takut? “Semoga malam ini malam yang tenang. Ingat jangan keluar dari pondok ini sampai matahari terbit. Sebaiknya kau cepat tidur kalau tidak mau mimpi buruk. Bangunkan aku kalau ada apa-apa. Tapi jangan keluar dari pondok ini.”
Dia terus memperingatkanku seperti itu tanpa penjelasan apapun dan selalu menghindar setiap kali aku bertanya. Pria tua yang menyebalkan. Mungkin kalau tidak malas, aku akan menyelinap keluar malam ini.
“Bagaimana kalau aku mau buang air?”
“Ehm, ya kau boleh keluar ke pondok pembuangan di dekat sini sebentar lalu cepat kembali,” kata Ulf.
Pondok pembuangan. Tempat itu adalah tempat pembuangan air kecil maupun besar. Ulf sempat menunjukkan beberapa padaku tadi siang. Semacam toilet dengan ukuran besar, tanpa atap, tanpa air. Mereka menggunakan pasir, kurang lebih seperti kucing. Bedanya pasir untuk mengubur diambil dengan sekop kecil. Tidak higienis tapi masih lebih baik daripada semua orang membuang kotoran sembarangan. Untungnya sinar matahari di sini cukup kuat untuk mengeringkan semuanya dengan cepat. Setidaknya baunya jadi tidak terlalu menyengat.
Ulf berbaring dan mengorok tak lama kemudian. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada orang di luar sana. Terlalu sepi dan tenang.