Zazkia Nur Asyifa seorang mahasiswa tingkat tiga tengah berjalan cepat menuju kamar mandi dengan sangat teresa-gesa. Wajahnya gusar karena jam dinding telah menunjukkan pukul 4.30 dini hari, ya dia telat untuk bangun dan melaksanakan sholat tahajud. Kia itulah panggilannya. Kia mengambil gagang pintu dan membukanya ternyata di sana semua penghuni kos sudah mengenakan mukena termasuk Zahwa teman sekamarnya.
“Zahwa... Ngopo aku gak di bangunin toh ?” (kenapa aku gak dibangunin sih ?) Zahwa meletakkan Al-Qur’an yang baru saja selesai dia baca kemudian menatap Kia dan terkekeh pelan.
“ Mau lo wes tak bangunke malah kamu bilang lagi halangan ya wes tak tinggal lah”(tadi udah tak bangunin kamu malah bilang lagi halangan ya udah aku tinggal)”
Kia berjalan menuju kamar mandi untuk segera mandi dan mengambil wudhu. Teman kos binaan yang lain sudah siap menuju masjid yang terletak satu blok dari kosnya. Mereka tinggal di kos binaan. Kos Binaan ini adalah kos yang setiap harinya mendapat binaan keagamaan. Jika kos biasa tidak ada peraturan yang membelit tetapi di kos binaan ini memiliki peraturan tertentu. Seperti kegiatan mutiara fajar sejenis kajian pagi setelah subuh yang wajib diikuti semua penghuni kos, peraturan 1 jari 1 Juz dan kegiatan mutiara senja yang biasanya dilaksanakan ketika jam-jam sore menjelang magrib. Mirip seperti pondok tetapi ini adalah kos yang terdiri dari 7 kamar milik salah satu warga yang ada di kampus tersebut.
Kia berjalan cepat mengambil mukena dan berjalan menuju masjid yang ada di sebelah kosnya. Kia berjalan sendirian karena teman sekosnya sudah duluan berangkat ke masjid. Dia merutuki dirinya karena begadang mengerjakan tugas hingga lupa waktu jadilah dia ketinggalan sholat tahajud. Kia berjalan santai sembari mendengarkan sholawat merdu yang berasal dari masjid yang akan dia tuju.
“Masya’Allah suaranya selalu semerdu dan selembut ini” Kia tersenyum-senyum sendiri di tengah jalan. Kia berkali-kali istigfar kala dia sadar mengagumi hal yang belum halal untuknya. Sholawat yang terdengar terhenti sejenak dan berganti dengan iqomah. Kia yang mendengarnya mempercepat jalannya.
“Sikap tergesa-gesa itu berasal dari seten” pernyataan tersebut membuat Kia memperlambat langkahnya. Dia ingat bahwa pertanyaan itu adalah salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro.
Kia tak berani menoleh ke arah sumber suara karena dia tau bahwa itu adalah suara lelaki. Kia berjalan pelan tetapi dengan langkah yang lebar menjauhi langkah kaki yang terdengar dekat. Langkah kaki tersebut akhirnya melewatinya karena selebar apapun langkah yang dia ambil tidak akan mampu menyaingi kaki laki-laki dengan sandal swalow biru yang di ukir dengan jajaran huruf membentuk kata “Milikku”. Kia sedikit tersenyum melihat sandal tersebut. Kia tak berani melihat wajah lelaki tersebut saat melewatinya. Tetapi saat sudah jauh, Kia menatap punggungnya yang tegap, tinggi, bersarung biru, berbaju Koko hitam pendek dengan list putih di bagian lengannya serta peci hitam dengan ukiran emas yang membuatnya semakin tampan jika dilihat dari belakang.
“Ganteng” lirihnya. “Astagrifullah Kia” Kia menepuk-nepuk pelipisnya menyadari kebodohannya yang terbuai hanya karena dia dikatain setan. Eh maksudnya di kasih hadist tentang tergesa-gesa ditambah sandal “Milikku” dan....
Kia menggelar sajadah disamping jamaah lain dan merapatkan shafnya. Ternyata sang imam sudah mulai melafalkan surah Ad-Dhuha. Segeralah Kia meniatkan untuk sholat subuh.
“Assalamu’alaikumwarahmatullah” salam imam di ikuti oleh jamaah yang lain. Beberapa jamaah ada yang memilih untuk langsung pulang dan ada beberapa jamaah yang memilih untuk tinggal dan berdzikir termasuk Kia.
Kia bersiap untuk pulang tanpa melepas mukenanya disana terlihat Zahwa sudah mengambil sandalnya dan menunggunya di dekat pintu gerbang. Kia mengambil sandal dan berjalan menghampiri Zahwa. Matanya teralih pada sebuah sandal swalow biru yang bertuliskan “Milikku” yang membuatnya tersenyum. Beberapa detik kemudian sandal tersebut terangkat bertanda bahwa sang empu akan memakainya. Kia langsung mempercepat langkah menghampiri Zahwa.
“Ayo cepet balik” Kia menarik tangan Zahwa tapi Zahwa tak kunjung mengukitinya. Kia ikut berhenti dan menundukkan kepala ketika si sandal “Milikku” itu melewatinya. Akhirnya Kia dapat bernafas dengan lega.
Ketika Kia menoleh ternyata Zahwa tengah berbicara dengan seorang laki-laki. Laki-laki tersebut terlihat sangat berwibawa dengan badan tegap dan tingginya seperinya lebih tinggi dari si sandal “Milikku”. Wajahnya yang teduh dan bicaranya yang lembut persis seperti ubin masjid “ADEM”.
Kia masih menunggu di samping jalan dan berdiri di dekat Zahwa menghindari adanya khalwat antara ke Zahwa dan teman laki-laki tersebut. Sebenarnya Kia tidak enak tapi Zahwa menarik tangannya ketika hendak pamitan untuk pulang duluan.
“Oh iya kak Rasyid ini Kia dia ini Kadep Med-In di FEBI Peduli. Nanti dia ini yang akan mengurus tentang bantuan dari BEM FISIP” Lelaki yang bernama Rasyid itu menangkupkan tangan dan tersenyum ke arah Kia begitupun sebaliknya.
“Saya Rasyid”
“Zazkia panggil Kia aja”
Ya kini Kia adalah seorang Kadep (Ketua Departemen) Men-In (Media dan Informasi) di FEBI(Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) Peduli yang baru saja dilantik beberapa minggu lalu. Sedikitnya Kia tahu tentang pembicaraan kedua orang ini yaitu tentang penyaluran sumbangan untuk para korban bencana di daerah Pacitan. Sumbangan berasal dari organisasi BEM FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).
“Jadi nanti sistemnya seperti apa ?” tanya Rasyid kepada Kia
“Kak Rasyid tinggal pilih saja kalau mau sumbangan berupa uang bisa langsung transfer ke rekening FEBI Peduli, nah kalau berupa barang nanti Kak Rasyid dan anggota langsung packing barangnya saja. Nanti kalau sudah siap kami akan langsung ambil barang untuk di salurkan langsung ke daerah yang terdampak”
“Kira-kira kapan terakhir sumbangan dikumpulkan ?”
“Lusa kak, soalnya ada informasi kalau jalan bisa diakses itu hari Sabtu jadi hari jum’at sudah harus terkumpul semua”
“Oke nanti kalau sudah siap saya langsung hubungi kamu ya” Kia mengangguk
“Zahwa nanti tolong saya dikirimin nomornya Kia ya” Zahwa mengangguk dan menyatukan ibujari dan jari telunjuknya membentuk simbol oke.
“Saya pamit dulu ya, maaf sudah mengganggu kalian. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” jawab Kia dan Zahwa serempak.
Mereka kemudian melanjutkan langkahnya untuk pulang. Mereka pulang bergandengan persis seperti ingin menyebrang jalan. Mereka memang selalu seperti itu sejak pertemuan mereka di Aula Utama saat mereka registrasi ulang pendaftaran. Mereka merasa sepemikiran dan selalu klop. Mungkin kadang mereka betengkar tapi tidak bertahan lama paling lama siang sampai sore.
Zahwa ini adalah gadis yang berasal dari daerah Grobogan sedangkan Kia berasal dari dari Jawa Timur lebih tepatnya daerah Bojonegoro. Logat mereka yang terkesan ngegas dan keras menjadikan mereka berdua selalu jadi wadah menampung nasihat “Sabar pelan-pelan aja ngomongnya gak usah pake emosi” dari teman-teman-teman sekosnya. Tak jarak pertengkaran mereka menjadikan seisi kos ikut khawatir dan cemas karena volume suara yang seperti genderang perang.
“Eh Wa iku mau sopo si ?” (eh wa tadi itu siapa si ?) Saat sedang berdua mereka memang menggunakan bahasa kasar mereka. Mereka tak mau kehilangan ciri khas dari daerah mereka.
“Iku mau Kak Rasyid, ketuaku cah FISIP tapi angkatan 5 beda setahun karo dewe” (itu tadi Kak Rasyid, ketuaku anak FISIP tapi angkatan 5 beda setahun sama kita).
“Ganteng Wa, kayane yo seneng karo kowe loh. Rajin sholat subuh neng masjid meneh. Calon imam idaman tenan iku. Setuju aku” (ganteng Wa, sepertinya suka sama kamu loh. Rajin sholat subuh di masjid lagi. Calon imam idaman beneran itu. Aku setuju)
“Setuju opo ? orak usah aneh-aneh yo kowe. Terus tapi mau kowe ngomong ganteng ? Astagfirullah eleng Kia tundukkan pandangan iki malah jelalatan” (Setuju apa ? tidak usah aneh-aneh ya kamu. Terus tadi kamu ngomong ganteng ? Astagfirullah Kia ingat tundukkan pandangan ini malah jelalatan)
Kia yang tersadar ikut beristigfar dan melihat pemandangan sekitar yang mulai terang. Mereka tersadar kemudian sama-sama beristigfar karena mengingat hari ini adalah waktunya untuk mutiara fajar yang akan di isi materi oleh Ukhti Eka yang terkenal gak suka dengan orang yang telat. Mereka berjalan cepat menuju kos. Untung saja jarak mereka sudah dekat dan mutiara fajar juga baru persiapan tempat.
***