Setelah mengikuti mutiara fajar yang di isi oleh Kak Khusnul. Kak Khusnul adalah pengganti Ukhti Eka yang berhalangan hadir karena anak beliau sedang sakit. Kia mulai mempersiapankan sarapan untuk teman-teman kosnya karena hari ini adalah jadwalnya memasak. Lalu apakah dia tidak kuliah ? jawabannya iya dia memang kuliah tetapi hari ini dia masuk jam sembilan. Di kos tersebut ada penjadwalan masak dan bersih-bersih. Kata pemilik kos binaan si biar terbiasa dengan pekerjaan rumah hitung-hitung latihan menjadi wanita yang istriable. Kia dan Jannah mendapat jadwal memasak sedangkan Zahwa dan Istiqomah mendapat jadwal untuk membersikan kos-kosan.
Karena bahan-bahan masakan di kos susah habis terpaksa Kia dan Jannah pergi ke pasar yang ada diperempatan jalan. Jaraknya memang dekat jadi mereka berjalan kaki. Sesuai permintaan pada penghuni kos, Kia dan Jannah akan memasak sayur sop bakso, perkedel kentang, orek tempe dan sambal terasi.
“Ki aku pengen udang asam-manis buatan kamu, kita beli udang juga ya ?” kata Jannah
“Bentar tadi dari bundahara Cuma di kasih segini, emang cukup sama beli udang ?” Jannah menghembuskan nafas kasar merasa kecewa.
Setelah memilih sendiri bahan-bahan masakan mereka langsung ke penjual untuk membayar. Dugaan mereka ternyata tepat, uang yang mereka bawa hanya tersisa tiga ribu rupiah.
“Ki aku pengen udang asam manis buatanmu” rengek Jannah pada Kia
“Ya gimana Jan emang udang boleh tiga ribu ? kalau boleh pasti gak cukup buat 10 orang. Lagian kamu request nya pas udah di jalan. Coba kalau kamu bilangnya di kos, pasti di kasih uang lebih sama bundahara” Jannah mengerucutkan mulutnya.
Mereka bergegas pergi dari toko tersebut setelah membayar. Di depan toko ada seseorang yang tiba-tiba menyodorkan kresek hitam entah berisi apa tapi baunya agak amis dan sedikit berair. Kia yang awalnya memandang kresek hitam di depannya beralih ke bawah yang mengalihkan fokusnya. Sandal bertuliskan “Milikku” yang ada di depannya ini membuatnya langsung mendongak ke arah tangan yang menyodorkan kresek hitam padanya. Dia tampak tersenyum sumringah, dengan kaos hitam dan celana bahan sepanjang lutut dan tentu saja sandal dengan ukiran “Milikku” dikakinya.
“Kak Ardi ? apa ini kak ?” Kia yang awalnya terpesona dengan si pemilik sandal yang mirip ‘Hamas Syahid’ itu langsung mengalihkan pandangannya kepada Jannah. ‘Jannah kenal sama dia ?’ batin Kia bertanya-tanya.
“Ini udang, aku dengar tadi kamu mau beli udang tapi nggak jadi” Kia terperangah mendengar seseorang yang baru dia tahu namanya Ardi ini terdengar sangat lembut dan perhatian kepada Jannah.
“Eh iya kak, Kak Ardi tau aja Jannah pengen makan udang” Jannah cengengesan, dan di saat bersamaan Kia merasa seperti terabaikan dan persis kambing congeng diantara dua manusia ini. Kia berdeham untuk mengingatkan Jannah bahwa dia juga ada di sana dengan mereka.
“Eh iya Kak Ardi ini Kia, Kia ini Kak Ardi” Mereka sama-sama menangkupkan kedua tangan dan tersenyum sebagai tanda perkenalan.
“Jan, Kak Ardi pamit dulu ya, ada kuliah pagi soalnya. Assalamu’alaikum” Ucap Ardi kemudian melenggang pergi setelah mendapat balasan salam dari kedua perempuan itu.
Kia hanya terdiam di sepanjang jalan tak memperdulikan Jannah yang mengoceh tak jelas membahas kehidupan pribadinya. Kia tenggelam dalam pikirannya ‘Baru aja kagum sama orang, udah broken heart aja ‘ batinnya. Kia melirik Jannah yang asik bercerita yang hanya dia tanggapi dengan senyuman. ‘Beruntung banget si Jannah bisa kenal sama Kak Ardi apalagi bisa deket dan diperhatiin gitu. Emang bener ya jodoh itu cerminan diri. Jannah baik, cantik, ramah Kak Ardi juga kayaknya baik dan ganteng. Eh Astagfirullah sadar Kia sadar’ tanpa sadar Kia menggeleng-gelengkan kepala dan menepuk-nepuk pelipisnya yang membuat gadis disampingnya heran.
“Ki, kamu gak apa-apa ? kepalamu sakit ya denger aku cerita ?”
“Eh nggak Jan, aku kepikiran sama tugasku. Aku lupa kalau nanti siang terakhir ngumpulin”
****
Kia dan Jannah tersenyum bahagia menatap masakan mereka sudah tersedia di meja makan. Kia meminta Jannah memanggil teman-teman kos sedangkan dia memperisapkan peralatan lain untuk mereka.
Setelah selesai makan, Kia, Jannah, Zahwa, dan Istiqomah mulai piketnya mulai dari memberisihkan meja makan yang baru saja mereka pakai. Ruang tamu sekaligus ruang kajian. Setelah selesai, Kia segera mandi untuk berangkan ke kampus. Kia ke kampus dengan berjalan kaki karena jarak kampus cukup dekat hanya 15 menit dari kosnya. Kalau anak lain mungkin memilih untuk mengendarai motor, tetapi di kos binaan dianjurkan untuk jalan kaki atau menggunakan sepeda ya sambil olah raga lah. Apalagi padatnya kegiatan mereka yang jarang sekali bisa menyempatkan waktu untuk sekedar berolah raga.
Kia menapakkan kakinya di kelas yang masih tampak sangat sepi padahal 5 menit lagi harusnya kelas sudah di mulai.
“Loh kok sepi banget si” Kia mendudukkan tubuhnya di tempat duduk barisan pertama. Bukan karena rajin tapi karena Kia lupa membawa kaca mata mau tak mau dia harus duduk di bagian depan jika nanti dosen menulis catatan penting di papan tulis.
“Tumben kurang lima menit lagi padahal, biasanya udah pada masuk” Kia meraih ponsel dan menghubungi Ana teman kelasnya.
“Assalamu’alaikum Ana ?”
“Iya Wa’alaikumsalam beb. Kenapa ?”
“Kamu ini lagi dimana ?”
“Di kos”
“Kok masih di Kos si. Bukannya sekarang ada matkul SEI ?”
“SEI ? kan kelasnya libur beb, wah ini si pasti kamu gak baca grup ya. Dosennya lagi ikut seminar di luar kota gak bisa ngajar di ganti hari Sabtu pagi”
“Astagfirullah, kenapa gak bilang si aku udah sampek sini loh”
“Hahah salah sendiri. Makanya kalau punya grup tuh di buka. Udah deh aku mau lanjut bobo cantik. Assalamualaikum bebeb”
“Wa’alaikumsalam”
SEI (sejarah ekonomi islam)
Kia menghembuskan napas kasar. Merutuki kebodohannya yang ketinggalan info penting ini. Beberapa detik kemudian ada notifikasi pesan masuk dari nomor baru.
Assalamu’alaikum. Benar ini Kia Kadepnya FEBI Peduli ?
Kia nengernyitkan dahinya dan mengetikan balasan kepada si pemilik nomor asing tersebut.
Wa’alaikumsalam. Iya kak benar ini saya Kia. Mohon maaf sebelumnya kakak ini dari mana dan ada keperluan apa ya ?
Oh iya, ini saya Rasyid perwakilan dari BEM FISIP. Saya mau bilang kalau InsyaAllah sore ini BEM FISIP sudah mempersiapkan barang-barang untuk disumbangkan
Baik kak, InsyaAllah nanti saya dan teman-teman ke sana jam sebelasan ya ?
Wah kalau jam dua sore gimana ? Soalnya ini masih ada beberapa yang belum siap di packing
Gimana ya kak, soalnya dari FEBI Peduli nanti jam dua akan berangkat ke lokasi. Mengingat jaraknya juga cukup jauh.
Aduh gimana ya, sebenarnya ini tinggal sedikit lagi si tapi teman-teman yang lain ada kuliah jadi kalau saya sendiri paling selesainya jam dua
Oh kalau itu masalahnya saya bisa bantu kak. Nanti biar saya ajak teman saya juga buat bantuin
Boleh, nanti kamu langsung ke PKM FISIP saja ya. Saya tunggu. Terimakasih
Kia tak membelas pesan terakhir dari Rasyid dan langsung menghubungi Ana.
“Apa lagi si Ki ? aku mau tidur lagi lo” tanya Ana yang terdengar sangat kesal di seberang sana. Kia membalas dengan cekikikan jahil.
“Kamu mah kebangetan beb”
“Assalamu’alaikum” kata Kia
“Oh iya hehe. Wa’alaikumsalam umi” Ana memang sahabat Kia dari semester satu. Gadis asal Jawa Barat ini gadis labil yang sering memanggil Kia dengan sebutan ‘beb’ kalau hari biasa dan memanggil dengan sebutan ‘umi’ kalau Kia mulai mengeluarkan perkataan-perkataan tentang agama dan nasihat-nasehat.
“Dari pada tidur di pagi mending ikut aku yuk ?”
“Ikut kemana Umi ?”
“Ke PKM FISIP ?”
“Mau ngapain ? kalau nyari cowo ganteng aku mau ?”
“Iya nyari cowo ganteng” Jawab Kia asal, karena Kia tau kalau dia tidak begitu temannya ini gak akan mau ikut dengannya.
“Serius ?” Kia hanya membahas dengan deheman.
“Oke tunggu aku di gazebo FISIP ya jangan masuk dulu, aku mau mandi bentar” lanjut Ana
“Ntar pasti lama. Males ah aku duluan aja”
“Eh Umi bentar doang, kosku kan Cuma belakang kampus si. Tigapuluh menit lagi aku sampek sana”
“Lima belas menit” tukas Kia.
“Astagfirullah beb, teu cukup atuh”
“Kalau gitu aku tinggal. Assalamu’alaikum” tanpa menunggu sahutan salam dari Ana, Kila langsung mematikan ponselnya dan cekikikan di gazebo FISIP. Dari tadi Kia memang sedang mampir di gazebo FISIP karena kelasnya libur.
Lima belas menit , Kia menunggu datanglah Ana dengan napas tersengal-sengal sepertinya habis lari maraton. Kia cekikikan melihat tatanan rambut Ana yang berantakan seperti mendapat serangan dari angin topan.
“Kamu teh kenapa beb cekikikan gitu ?”
“Rambutmu An, kaya habis diterjang angin topan” Ana terbelalak dan langsung merogoh kaca yang selalu dia bawa ke mana-mana. Betapa terkejutnya dia melihat rambutnya yang berantakan. Padahal di kos tadi dia sudah sangat merapikan rambutnya.
“Coba aja kamu pake jilbab pasti gak bakal berantakan gitu”
“Umi please deh. Aku teh belum siap Umi. Umi tau kan kelakuhanku abdi teh kumaha. Nanti pasti bakal banyak yang ngejekin. Ana teh mau hijabin hati dulu atuh umi”
“Ana sayang, kalau kamu hijabin hati dulu, nanti malah hatinya tertutup dan hidayah itu sulit masuk. Kalau udah sulit nanti malah gak mau pake jilbab. Hidayah itu dijemput, diusahakan. Percaya deh” belum sempat Ana membantah Kia. Kia langsung menarik tangan Ana menuju ke PKM FISIP.
***