Keadaan PKM terlihat sangat sepi, Kia dan Ana beberapa kali mengucapkan salam tetapi tidak ada jawaban. Kia dan Ana melangkah menuju ruang belakang sambil mengatakan permisi meski tanpa ada jawaban. Mereka terus berjalan dan menuju ruangan yang bertuliskan Dep. Sosial dan berjalan memasukinya dengan salam. Tak ada sahutan, tapi di balik tumpukan kardus Kia melihat kaki seseorang yang mungkin tengah tertidur. Kia berjalan pelan menuju tumpukan kardus dan melihat seseorang di baliknya ternyata memang dia tengah tertidur dengan keadaan duduk dan kaki yang selonjor. Matanya terpejam dan napasnya yang teratur.
Satu detik, dua detik, tiga detik Kia terepaku melihat betapa kelelahannya dia hingga tertidur sambil memegang gunting dan lakban. Pada detik kelima Kia dikagetkan dengan uluran tangan lembut dari Ana. Sontak Kia langsung istigfar berulang karena telah mencuri pandangan kekaguman dari seseorang yang tengah tertidur.
Ana yang mendengar istigfar Kia merasa heran,
“Kenapa gak dibangunin ?” tanyanya pada Kia. Kia yang ditanya terlihat gelagapan untuk menjawabnya seketika otaknya blank dan lidahnya hanya bisa ber em..em ria.
“Apaan si em...em mau sholawat ?”
“Ini anu... itu ...apa nggak enak banguninnya kelihatannya cape gitu” Ana memicingkan mata dan mendengatkan wajahnya ke arah Kia.
“Serius ?” Kia yang merasa di interogasi langsung mengangguk keras. Sedangkan laki-laki yang sedari tadi tertidur tampak terusik dengan suara mereka. Pria itu mengerjapkan mata dan langsung melihat dua orang wanita tengah berdiri di depannya.
Pria itu langsung berdiri dan langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu. Dua gadis yang ada di hadapannya terkejut melihat pria itu langsung berlari ke arah luar. Mereka mengikuti pria tersebut di belakangnya.
Pria itu langsung ke luar kamar mandi dan langsung terkejut dengan dua orang yang langsung berada di hadapannya.
“Kalian kok di sini ?” kedua gadis itu langsung saling menatap mata menyadari kebodohannya yang mengikuti pria tersebut ke kamar mandi.
“Anu... ini...apa ya...ini kami mau bantu Kak Rasyid” jawab Kia yang asih syok.
Rasyid mengangguk mengerti dan berjalan ke ruang yang tadi berisi kardus-kardus. Tanpa diminta Kia dan Ana-pun mengikuti Rasyid. Ya pria yang tadi tertidur dibalik kardus adalah Rasyid.
Rasyid mendudukan dirinya di lantai di ikuti dengan Kia dan Ana.
“Perkenalkan kak ini Ana teman saya, saya sengaja bawa dia karena teman-teman yang lain lagi ada kelas jadi Cuma saya dan Ana yang bisa datang” Rasyid mengangguk atas penjelasan Kia.
“Jadi apa yang bisa kami bantu kak ?” kali ini Ana yang berbicara.
“Sebelumnya saya minta maaf ya karena tadi kalian sempat melihatku tidur dan bahkan aku langsung lari ke kamar mandi tanpa menyapa kalian. Dan terimakasih juga karena kalian sudah berniat baik untuk membantu saya. Kita langsung mulai saja, kamu bisa tolong saya kemasi barang yang ada di pojok sana ya. Itu sudah di cek tanggal kadaluarsanya jadi kalian tinggal packing saja” Kia dan Ana mengangguk padaham dan menjalankan instruksi dari Rasyid.
Mereka bertiga fokus dengan kegiatan mereka masing-masing tanpa ada yang berbicara. Ana dan Kia tentu tidak bisa diam mereka berbicara tapi dalam volume yang kecil alias bisik-bisik.
Kia yang tiba-tiba kebelet langsung meminta izin kepada Ana untuk ke kamar mandi. Kia tak menggunakan kamar mandi PKM karena Kia melihat kamar mandinya tertutup. Kia kemudian berjalan menuju kamar mandi masjid yang ada di sebelah PKM. Setelah selesai Kia keluar dan duduk di teras masjid untuk memasang sepatunya. Mata Kia tertuju pada seseorang yang tengah berjalan menuju masjid. Seorang Pria yang tadi pagi membuatnya patah hati sebelum bersemi pria itu adalah Ardi. Kia menunduk agar wajahnya tak terlihat oleh Ardi.
Ardi terlihat mencopot sepatu dan menaruhnya di rak sepatu. Setelah mengambil wudhu Ardi duduk di dalam masjid sembari bertilawah dengan suara pelan. Kia yang dari tadi memasang sepatunya entah kenapa tidak langsung kembali malah gagal fokus dengan suara Ardi yang lirih dan merdu. Kia dapat mendengarnya karena memang mushola tengah sepi dan sholat Dhuhur masih setengah jam lagi.
Lamunan Kia buyar setelah merasakan telponnya bergetar, terpampang jelas pesan dari Ana.
Kia.. tega kamu biarin aku lama-lama berdiam diri sama Mr. kulkas. Cepet balik nggak ? atau aku tinggal balik biar kamu berduaan sama ini orang
Iya ini udah jalan
Kia terlihat sedikit mempercepat langkahnya menuju tempat sebelumnya. Kia melangkahkan kaki hendak masuk gedung PKM ternyata Rasyid sedang mengangkat beberapa kardus dari dalam menuju ke teras.
“Assalamu’alaikum kak. Maaf sedikit lama soalnya toilet di PKM tadi antri”
“Wa’alaikumsalam” Setelah menaruh kardus di teras PKM Rasyid langsung melangkahkan kaki untuk kembali ke ruangan Dep. Sosial. Kia mengikuti Rasyid dari belakang. Sedikit heran karena permintaan maafnya tidak mendapat tanggapan sama sekali.
“Kak packingnya udah selesai to, kok udah di bawa keluar”
“Belum masih kurang lima kardus” jawabnya dengan nada datar seolah sedang malas berbicara.
“Hmm terus kenapa di bawa keluar ?” Kia lagi, Kia ini memang anaknya kelewat aktif ya bun. Kelihatan lawan bicaranya sedikit melas berbicara tapi dia tetap mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.
“Biar gak sumpek” Kia yang mendengar jawaban singkat ini, sepertinya ingin bertanya lagi tetapi langkah mereka sudah sampai di ruangan yang dituju.
“Sebaiknya kamu langsung kerja gak usah banyak bicara” Kata Rasyid sebelum menjauh dari Kia. Kia mengerucutkan bibirnya dan membenarkan perkataan Ana bahwa si Rasyid ini memang Mr. Kulkas 24pintu bertegangan 1.920 watt dingin dan bertegangan tinggi. Kia bergidik ngeri kemudian melangkahkan kaki mendekati Ana. Ana yang kesal karena Kia meninggalkannya, kini memasang wajah garang dan menatap tajam Kia.
“Ck..ck... tayang..tayang maafin Umi ya. Tadi toilet di PKM penuh udah kebelet jadi deh lari ke toilet mushola. Terus tadi ada insiden jadi agak lama. Maaf ya An” Uma memang panggilan kesayangan Ana kepada Kia jika Ana sedang merajuk, dan Kia menggunakannya untuk membujuk Ana agar dia memaafkannya.
“Kamu kecelakaan ? ketabrak ? Mana yang sakit ?” Ana terlihat panik ketika mendengar kata insiden. Dia berfikir Kia tertabrak motor atau kejatuhan ranting, padahal jarak PKM dan mushola kan sangat dekat dan tidak ada lalu lalang kendaraan.
“Nggak An, tadi tuh aku dengerin orang yang lagi tilawah. Adem dengernya makanya agak lama deh” kata Kia sembari cecicikan dan disambut decakan kesal oleh Ana.
Mereka kembali terfokus dengan kegiatan packing. Setelah setengah jam berlalu akhirnya acara packing ini selesai bersamaan dengan berkumandangnya adzan. Ana menarik nafas lega akhirnya dia bisa rebahan lagi pikirnya. Tapi pikirannya ini langsung hilang ketika Kia langsung mengajaknya untuk bangkit dari duduknya.
“Astagfirullah apaan si Umi, selalu saja ganggu kalau anaknya lagi mau istirahat”
“Ck ntar aja istirahatnya, gak denger tuh udah adzan dhuhur ? yuk lah sholat dulu”
“Ntar aja lah pas di kos. Ini juga udah mau di angkut kan. Berarti udah selesai kan tinggal balik kos terus abis itu baru sholat”
“Iya kalau kamu sampai kos kalau nggak ? inget jangan tunda-tunda sholat”
“Astagfirullah, kok Umi jahat ya doain aku yang aneh-aneh. Ck iya-iya anakmu ini selonjoran dulu deh”
“Ayok...” Kia kembali menarik lengan Ana dan dengan terpaksa Ana berdiri dan mengikutinya dengan langkah malas.
Ketika Itu pula, Rasyid tampak sedang ingin keluar membawa beberapa kardus.
“Kalau kalian mau keluar sekalian bawa beberapa kardus ke teras dong, biar nanti abis Dhuhur tinggal dimasukin ke kendaraan aja” ucapnya datar bahkan tanpa menggunakan kata tolong. Kia hanya melirik sekilas dan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri agar tidak emosi. Kia memang seperti ini, kata tolong dan terimakasih menjadi kalimat ajaib baginya. Menurutnya dua kata itu menandakan orang tersebut ramah. Dan apa ini ? jangankan tolong dan terimakasih, berbicaranya saja sudah seperti kulkas 24 pintu dingin buanget.
Kia membawa dua kardus sekaligus, dia tampak keberatan. Awalnya Ana ingin membantu tapi di tolak oleh Kia. Kia menyuruhnya membawa kardus yang lain, dan Ana melakukan perintah Kia. Ana berjalan mendahului Kia yang terlihat keberatan dengan bawaannya. Ana berniat cepat-cepat keluar dan kembali untuk membantu Kia. Tapi ketika sudah sampai di luar Ana mendengar suara dentuman yang keras berasal dari dalam. Ana langsung lari ke arah Kia yang sudah bersimpuh di lantai sambil memegangi kakinya.
“Astagfirullah Kia” Pekik Ana yang suaranya di dengar oleh Rasyid. Ternyata kardus yang dibawa oleh Kia berisi kebutuhan makanan seperti ikan kaleng, s**u kaleng, dan makanan cepat saji lain yang ukurannya cukup berat. Dan kardus yang digunakan untuk packingpun juga salah karena kardus itu tidak cukup kuat untuk menampung barang-barang berat tersebut.
Ana membantu Kia untuk berdiri karena kakinya terasa ngilu dan tak kuat untuk berjalan. Ana memapahnya. Tadinya Kia mengira kalau Rasyid berjalan kearahnya dan hendak menolongnya tapi ternyata dugaannya salah. Pria itu hanya berjalan melewati Ana yang sedang kesusahan menolong Kia. Jangankan menolong, sekedar bertanya kabarpun tidak. Pria itu asal nyelonong melewati mereka.
Kia semakin geram dengan tingkah menyebalkan Rasyid ini ‘Dasar nggak punya perasaan’ Gumamnya sambil melirik sinis ke arah Rasyid yang melewatinya.
Kia duduk di kursi yang ada di depan pelataran PKM. Kia merasa kakinya terkilir dan mungkin jempol kakinya berdarah akibat terkena jatuhan kaleng yang tadi dia bawa. Ana mencopot sepatu milik Kia dan melihat kaus kaki Kia berlumuran darah.
“Astagfirullah Kia, kakimu berdarah” Ana yang notabenya takut akan darah langsung histeris dan menangis. Kia kembali memakai sepatunya kembali ketika melihat perubahan sikap Ana.
“Stt udah aku nggak apa-apa” Kia mengusap rambut Ana yang tidak tertutup jilbab. Kemudian seseorang dari arah belakang menyodorkan kantung kresek hitam. Kia menoleh ke belakang dan mendapati Rasyid di belakangnya. Kia cukup kaget, dia tak langsung menerima kresek hitam pemberian. Kia kemudian terkejut dan kembali sadar ketika kresek hitam dijatuhkan oleh Rasyid tepat di depannya. Kia beristigfar dan memegangi dadanya karena kaget. Rasyid tidak bergeming dan langsung melangkah menuju masjid karena iqomah sudah terdengar.
“Kenapa Ki ?” tanya Ana yang sudah tenang dari tangisnya memandang Kia yang tampak terkejut.
“Nggak tadi ada kulkas jalan” kata Kia yang masih kesal dengan Rasyid. Kia kemudian mengambil kresek yang dijatuhkan oleh Rasyid. Kia membukanya ternyata isinya adalah obat-obatan untuk luka.
“Ck mau ngasih ginian aja gengsi dasar kulkas”gumamnya
“Ana mau nolongin aku nggak ?” tanya Kia
Ana mengangguk “Tolongin apa ?” Kia cengegesan dan merentangkan kedua tangannya.
“Bantuin jalan ke masjid, aku mau sholat dulu”
“Nggak langsung pulang aja ? ini kakimu luka lho Ki”
“Pulangnya nanti kalau Zahwa udah selesai kuliah, kalau ditinggal terus nggak ada perwakilan dari organisasiku bisa nggak jadi donasinya” Ana menuruti Kia dan memapahnya menuju ke masjid.