Dengan hati-hati Ana memapah Kia menuju ke mushola.. Perdebatan yang awalnya akan di menangkan Ana, harus berakhir di menangkan Kia. Karena Kia sudah menggunakan jurus dengan menjelaskan bahwa ada perkara yang tidak boleh ditunda salah satunya adalah sholat. Kia menyertakan hadist riwayat Tirmidzi dan Ahmad tentang sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihu wasallam ‘ wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda, yakni salat jika telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan wanita apabila telah ada calon suami yang sekufu’. Hadist itu membuat Ana terdiam dan menuruti kemauan Kia.
Kia dan Ana tak mendapat sholat berjamaah karena ternyata sudah selesai. Bukan karena menunda, tapi Ana memaksa Kia untuk mengobati kakinya dahulu sebelum ke mushola. Kia meringis ketika kakinya yang luka menyentuh air wudhu yang mengalir. Ana yang sudah wudhu sedari tadi menunggu Kia selesai wudhu dan membantunya ke tempat sholat karena khawatir dengan keadaan Kia.
Setelah melaksanakan sholat Ashar, Kia berdoa sejenak dan berniat untuk membaca selembar mushaf. Sedangkan Ana sudah menunggunya di rak sepatu di depan mushola. Kia yang hendak membuka mushaf lamat-lamat mendengar lantunan merdu seorang akhi (saudara laki-laki) yang sedang membaca Al-Qur’an suaranya lirih dan menyejukkan hati.
Mungkin orang-orang akan mengira bahwa dirinya ukhti-ukhti (saudara perempuan) baperan. Tapi bukannya memang perempuan itu lebih mengutamakan perasaan kan. Jadi ya wajar kayaknya. Kia terhanyut dalam bacaan orang yang ada di balik tirai pembatas. Kia dikagetkan oleh tangan Zahwa yang ternyata akan melaksanakan sholat dhuhur.
“Assalamu’alaikum ya ukhti” membuat Kia langsung menoleh
“Wa’alaikumsalam ukhti kesayanganku”
“Ngelamun aja, nggak dibaca tuh Al-Qur’annya ?” Zahwa melirik Al-Qur’an yang ada di tangan Kia. Kia hanya tersenyum kemudian mengembalikan Al-Qur’an di tempat semula.
“Kata Ana, tadi ada insiden di PKM ?” Kia mengangguk
“Kamu sholat dulu aku tungu di dekat rak sepatu kasian Ana nunggu sendirian”
“Kamu hutang penjelasan ke aku ya Ki ?” Kia mengangguk dan berjalan dengan tertatih menuju rak sepatu.
Kia tampak celingukan mencari keberadaan Ana, ternyata Ana ada di gazebo samping mushola. Saat akan memanggil Ana, suara Kia tercekat kerena melihat seorang laki-laki mendekati Ana yang sedang duduk.
“Itu kan mas Milikku, Eh Astagfirullah bukan maksudnya mas sandal. Kok mas sandal si. Ah tau lah lupa aku namanya” gumannya yang tak sengaja meminjam nama Milikku tapi langsung meralatnya.
Kia memperhatikan interaksi mereka berdua. Pembicaraan mereka seperti sangat akrab, bahkan mereka tertawa kecil. Bahkan Ana sahabatnya juga kenal dengan dia.
“Apa dia seramah itu pada perempuan, Ck... dia terlalu welcome” gumam Kia yang matanya masih mengarah ke arah Ana dan Ardi.
Mata Kia semakin membola ketika melihat Ardi memberikan tentengan yang entah isinya apa kepada Ana kemudian pergi. Jujur pasti hatinya Kia langsung double patah hati.
“Aku yang salah, karena terlalu kagum dengan lelaki yang bahkan tidak mengenalku sama sekali” batinya.
Kia melihat Ana melambaikan tangan kearahnya memberikan kode untuk Kia agar mendekat kepadanya. Dengan hati-hati Kia mendekati Ana yang terlihat sumringah sambil menenteng paperbag pemberian Ardi.
“Udah selesai dari tadi ?” tanya Ana yang hanya ditanggapi anggukan Kia.
“Yuk kita makan” Ana nyengir sambil menampilkan tentangan di tangannya.
“Kamu bawa bekal ?” tanya Kia pura-pura tidak tahu.
“Ini dari kak Ardi” Kia mengernyitkan dahinya
“Kamu kenal KaK Ardi ?”
“Iya lah dia kan...” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zahwa menyelanya dengan mengucapkan salam. Mereka berdua membalas salam Zahwa.
“Woah apa tuh ?” tanya Zahwa yang penasaran.
“Ini dari Kak Ardi buat makan siang”
“Belum makan kamu ?” Ana yang ditanya menggelengkan kepalanya.
“Tapi ini udah jam segini pasti Kak Rasyid sudah menunggu” sela Kia sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.
“Ya udah kamu makan dulu aja Na biar aku sama Kia yang ke sana” kali ini Zahwa yang usul.
“Eh tapi Kia juga belum makan” Kia menggeleng
“Udah kamu duluan aja, aku masih ada tanggung jawab. Maaf ya kalau aku tadi nyuruh kamu cepet-cepet mana nggak tak kasih makan lagi” Ana mengerucutkan bibirnya.
“Ck,, emang aku peliharaan dikasih makan segala” Ana tidak terima.
“Kalau gitu aku juga makan nanti aja bareng kalian, sayang banget kalau sisa. Ini makanan dari Kak Ardi tuh banyak banget” kata Ana lagi.
“Nanti mag mu kumat, siapa yang repot ?” kini Zahwa yang menyela. Ana menghela nafas dan menuruti perkataan Zahwa dan Kia.
Zahwa berjalan sambil memegangi tangan Kia menuju ke gedung PKM. Tetapi langkah mereka terhenti ketika suara seseorang tengah berteriak memanggil nama Zahwa. Bukan hanya Zahwa yang menoleh tetapi Kia juga ikut menoleh. Tampak Rasyid sedang berjalan menghampiri mereka yang sedang menuju PKM.
“Wa... barangnya udah aku keluarin semua tinggal nunggu angkutan dari organisasimu aja sama serah terima dan dokumentasi sebagai laporan” ucap Rasyid terdengar lembut tanpa ada nada yang jutek dan kesal. Hal ini membuat Kia mengerlingkan matanya kesal, karena sikap Rasyid yang berbeda 180 derajat ketika berbicara dengannya.
“Oke Kak, ini angkutannya masih OTW, bentar lagi paling sampai. Oh iya kak aku nitip Kia bentar ya. Ini aku mau jemput angkutannya takutnya ntar nyasar” ucap Zahwa yang dihadiahi tatapan sengit dan senggolan siku dari Kia. Zahwa langsung mendudukan Kia di tempat duduk di depan PKM yang tadi dia gunakan saat mengobati lukanya. Zahwa memilih tempat tersebut karena tempat tersebut terbuka dan ramai.
Tanpa menunggu persetujuan Rasyid, Zahwa pergi sambil menghubungi angkutan yang katanya sedang OTW. Suasana ketika langsung bak di kutub utara DINGIN.. Kia duduk diam sambil memainkan kedua kakinya, sedangkan Rasyid di bersandar di tembok yang jauh dari Kia duduk dengan tangan kiri dimasukan ke saku sedangkan tangan kanan sibuk memainkan ponsel.
Jujur saja Kia sangat tidak suka suasana yang awakward ini, tapi dia bisa apa. Kalau dia mulai pembicaraan pasti nanti hanya mendapat gumaman dari si lawan bicara. Saat Kia bersitegang dengan batinnya tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan.
“Lukamu udah sembuh ?” Kia yang tadinya memandang ke bawah memandang kaki, kini mendongak memandang laki-laki yang masih fokus dengan layar poselnya. Kia mengernyit kebingungan.
“Kak Rasyid bicara dengan saya ?”
“Menurut kamu saya bicara dengan tembok” ucapnya sedikit menaikan nada bicaranya
‘Astagfirullah, ketara banget si kalau naksir sama Zahwa’ batin Kia
“em.. Alhamdulillah sudah mendingan. Tapi makasih ya kak udah ngasih obat ke aku”
Rasyid hanya menjawabnya dengan suara dehaman saja. ‘Ck.. dia ngajak bicara niat nggak si, oke aku paham kalau dia menundukkan pandangan tapi emang segitu banget ya Ck nyebelin’ batin Kia.
Tak berselang lama suara deruman mobil mulai mendekat ke arah mereka. Kia sangat bersyukur bisa segera keluar dari suasana yang awakward itu. Saat Kia akan berdiri dan membantu mengangkat kardus sumbangan ke mobil Rasyid melarangnya.
“Mau ngerepotin orang lagi ?” kata Rasyid dengan tatapan tajam mengarah pada Kia. Kia yang melihatnya langsung kembali duduk dan mengambil gambar sebagai bukti laporan. Tugas selesai, barang sudah diangkut semua. Tak lupa Kia dan Zahwa berterimakasih kepada Rasyid yang mewakili anggota organisasinya. Tak lupa Kia sebagai Ketua departemen langsung memberikan kenang-kenangan berupa PIN sebagai tanda terimakasih mewakili organisasi mereka.
Setelah berpamitan Kia dan Zahwa kembali ke gazebo tempat Ana sedang makan. Ternyata Ana tidak sendirian, ada seseorang yang menemaninya. Ya tentu saja itu adalah Ardi si Mas sandal “Milikku”.