Dengan hati-hati Kia berjalan menuju gazebo tempat Ardi dan Ana berada. Jangan lupakan Zahwa yang selalu memegang tangannya. Zahwa mengernyitkan dahi saat merasakan tangannya di remas oleh Kia seperti menahan sesuatu dan lagi tangannya lembab karena berkeringat.
“Ki Kwe ngopo ? Kok Koyo wong gugup ngono sih ? (Ki kamu kenapa ? kok kaya orang gugup gitu sih ?” tanya Zahwa yang hanya dibalas gelengan sambil tersenyum manis ala Kia. Mereka terus berjalan mendekati Ana yang tampak sedang asik makan.
“Assalamu’alaikum” ucap Kia dan Zahwa bersamaan.
“Wa’alaikumsalam” jawab Ardi. Ardi menampilkan ekspresi terkejut ketika melihat Kia tapi hanya sebentar kemudian menormalkan wajahnya seperti semula.
“Wah..wah... lagi makan siang nih” ucap Zahwa
“Oh iya kalian mau makan sekalian nggak ? ini aku tadi bawa banyak makanan buat Ana. Kemungkinan dia nggak abis si” kata Ardi dengan senyuman yang cukup manis dan cukup membuat Kia terpesona sebelum akhirnya sadar dan kembali beristigfar.
“Emang boleh Kak ?” tanya Zahwa yang diangguki Ardi sambil tersenyum. Zahwa tampak kegirangan dan langsung mengambil makanan yang ada di depannya.
“Wa.. ih kamu ini kebiasaan malu-maluin” keluh Kia yang diacuhkan oleh Zahwa.
“Nggak apa-apa santai saja, tapi kayaknya kita pernah ketemu nggak si ?” tanya Ardi kepada Kia.
Ana yang selesai makan langsung meletakkan piringnya dan memperkenalkan teman-temannya. Sedari tadi dia diam karena sedang makan.
“Si Zahwa emang ya, belum juga kenalan udah main embat aja makanan orang. Nih kenalin ini Kak Ardi kakakku, dan kak ini Zahwa dan yang ini Kia temanku” Kia dan Zahwa menangkupkan tangan begitupula dengan Ardi.
‘Kakak ? kok bisa, kak Ardi sholeh banget, lah si Ana disuruh pakai jilbab aja susah. Tapi Alhamdulillah deh kalau Cuma kakak. Eh tapi tunggu, kok mukanya beda jangan-jangan Cuma kakak-adek zone lagi.. eh apaan si udah lah bodo amat lagian aku bukan siapa-siapanya dia ngapain juga kepo sama urusan orang’ pemikiran Kia ini membuatnya tak sadar sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal ini tentu saja membuat Ardi bingung.
“Eh ini dek Kia kenapa ? makanannya nggak enak ya ?” tanya Ardi sambil menyodorkan botol minuman kepada Kia. Kia yang terkejut langsung menggeleng cepat, tentu kejadian itu membuat Zahwa dan Ana cekikikan.
“Eng..nggak Mas.. eh maksudnya Kak.. itu apa Emt... Kia lagi banyak pikiran aja, ini masakannya enak banget kok Kia suka” jawab Kia dengan gaya bingungnya yang khas dan mengundang gelak tawa dari dua temannya dan tentu saja Ardi. Gimana nggak gerogi coba itu loh panggilannya ‘DEK’ duh rasanya pengen langsung dihalalin aja. Apalagi dia langsung mengalihkan panggilan ‘Kak’ jadi ‘Mas’ wah bener-bener salting tingkat tinggi.
“Waduh jadi salah tingkah dia pemirsa” Kata Ana mulai menggoda Kia dan langsung mendapat tatapan tajam dari Kia.
“Temenmu lucu ya An, eh tapi kayaknya kita pernah ketemu kan ?” tanya Ardi mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Kia. Kia yang sudah menyelesaikan acara makannya kemudian meminum air yang disodorkan Ardi.
“Itu.. Kak tadi Pagi pas belanja di toko Fajar, saya temen kosnya Jannah” jelas Kia. ‘Tuh kan baru aja tadi pagi ketemu udah nggak inget aja, apa yang diharapkan coba ?’ gumam Kia dalam pikirannya, meskipun dalam penglihatan orang-orang dia sedang tersenyum manis nyatanya itu berbanding terbalik dengan perasaannya. Ah, wanita memang ahlinya menyembunyikan perasaan, pantas wanita dinobatkan sebagai pembohong terbesar, masalah perasaan terutama.
“Oh iya.. iya aku ingat, maaf ya aku lupa padahal baru tadi pagi” ucap Ardi sambil tersenyum. Wah.. senyumnya subhanallah, eh astagfirullah kelewat manis.
“Eh tapi aku sempat dengar kata Jannah kamu pinter masak Udang asam manis ya ?” Kia mengangguk.
“Wah... kak Ar kalau dia si udah koki terhandal di Kos Sakinah, iya nggak Ki” Kata Zahwa sambil mengedipkan mata kearah Kia. Sedangkan Kia hanya membalas dengan senyum malu.
“Iya Kak bener kata Zahwa, dia sering banget bawa bekal kalau nggak lupa, kalau aku si suka semua masakan Kia apalagi itu tuh tumis bunga pepaya.. waaahh... enaknya kaya makanan surgawi”
“Apaan si An, lebai tau nggak. Nggak kok Mas.. eh maksudnya kak biasa aja masakanku Tuh nggak enak-enak banget mereka aja yang terlalu berlebihan” ucap Kia sambil malu-malu dan typo ketika memanggil Ardi.
“Wedehh.. udah mas..mas.. aja nih Si Kia, udah Kak Ardi halalin langsung aja” ucap Ana yang membuat gelak tawa mereka pecah, tidak dengan Kia. Dia merasa malu dengan kedua temannya yang kelewat menyebalkan ini, bahkan pipinya sekarang pasti sudah sangat merah. Jangan lupa tatapan mata Ardi yang melihat gerak-geriknya. Lengkap sudah, rasanya ingin sekali dia menenggelamkan diri di rawa-rawa. ‘terimakasih ya sabahat-sahabat terbaikku, kalian sudah sangat mengesalkan hari ini’ batin Kia.Kia mulai memakan makanannya dengan sangat lahap, hal itu tak luput dari pandangan Ardi.
“Ck.. Kak Ardi teh kalau suka bilang atuh, jangan suka mencuri-curi pandang gitu” kata Ana dengan nada jahil sambil memamerkan giginya.
“Siapa yang suka siapa An ?” tentu saja percakapan mereka tak dapat di dengar oleh Zahwa dan Kia karena mereka seperti sedang berbisik.
“eta.. kak Ardi dari tadi ngelihatin temennya aku apa coba maksudnya kalau bukan suka ? Katanya harus jaga pandangan, tapi kok kak Ardi malah seneng gitu ngelihatin temennya Ana” kata Ana.
“ssstt sudah nggak usah di bahas... kalau udah selesai ayo kita ke kos, kakak masih ada jam kuliah abis ini” Ana mengangguk dan mulai mendekat ke arah Kia dan Zahwa..
“Kalian abis ini ada kuliah kan ?” mereka mengangguk.
“Oke aku sama kak Ardi mau ke kos, dia ada jam kuliah setelah ini” Kia mengangguk dan merapikan barang-barang milik Ardi. Tapi saat Ana ingin mengambil tempat makan itu, Kia menolak.
“Ini kan bekasku biar aku aja yang bersihin, besok setelah bersih aku balikin ya ?”
“Kak gimana tempatnya mau dibersihin dulu kata Kia ?” Ardi kemudian bangkit mendekat ke arah mereka.
“Nggak usah biar saya saja yang bersihin”
“Nggak mas..eh kak.. ini kan saya yang makan jadi saya yang bersihin” kata Kia langsung diangguki oleh Ardi karena tak mau ada perdebatan panjang. Melihat interaksi Ardi dan Kia, Ana dan Zahwa berdeham keras, dan membuat pipi Kia memerah kemudian menundukkan kepalanya.
“Udah lah kak halalin aja hihihihi” kata Ana, kemudian mereka berpamitan karena mereka punya urusan masing-masing.
Interaksi Ardi dan Kia ini ternyata tak sengaja dilihat oleh seseorang yang sedang berada di teras masjid dengan pandangan yang sulit sekali di artikan. Dia terlihat tersenyum tapi tak ada yang tau apa yang sedang dia pikirkan.
***