Sepanjang perjalanan menuju ruang kelas, Kia selalu mengeluh kepada Zahwa yang tadi sempat memojokkannya di depan Ardi. Tapi emang dasarnya Zahwa ini sahabat yang sangat rese, jadilah dia hanya menanggapi dengan cengiran. Lalu dimana Ardi dan Ana ? Ardi pamit untuk mengantar Ana kemudian lanjut kuliah, Ardi adalah Mahasiswa semester lima, fakultas teknik yang letaknya di samping Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Lalu Ana, dia tidak mengambil mata kuliah Manajemen sumber daya insani karena mata kuliah ini adalah mata kuliah tambahan bagi mahasiswa yang pada semester sebelumnya mendapat IP cumlaude.
“Wa kebangeten Kwe wa, isin ngerti rak si ? meneh mau mas Ardi pandangan e ning aku terus, duh malu aku” (Wa kamu kebangetan ya wa, mau tau gak si ? apalagi tadi Mas Ardi pandangannya ke aku terus, duh malu aku)
“Cye.... wes nganggo mas...mas.. duh ketara banget Kwe Ki nk seneng karo Kak Ardi” (Cye.. udah pakai mas...mas.. duh ketara banget kamu Ki kalau suka sama Kak Ardi).
“Sopo lho seng seneng, wong aku lho biasa wae, Cuma kalian berdua iku seng nggawe aku isin” (Siapa si yang suka, aku si biasa aja, Cuma kalian berdua aja tuh yang bikin aku malu)
“Kowe gak iso ngapusi aku Ki, dari sorot Ing mripatmu wes menyatakan nek sebenere Kowe ana rasa kan karo kak Ardi ?” (Kamu nggak bisa bohongin aku Ki, dari sorot matamu udah menyatakan kalau sebenernya kamu ada rasa kan sama Kak Ardi?)
“Orak.... sok tau Kwe iku, mbuh lah aku arep masuk kelas Iki kelase pak Yoga loh, sekali telat langsung tepar ditabok tugas”( nggak... sok tau kamu itu, tau lah aku mau masuk kelas, ini kelasnya pak Yoga loh, sekali telat langsung tepa dihantam tugas) kata Kia sambil mempercepat langkahnya yang untuk menuju kelasnya.
***
Di tempat lain ‘Perjalanan Ardi mengantar Ana’
Ana adalah adik sepupu dari Ardi, Ardi sangat perhatian kepada Ana karena sang tante menitipkan Ana kepadanya. Ana tinggal di Jawa Barat, sedangkan Ardi tinggal di daerah Rembang. Ardi adalah satu-satunya keluarga Adiwijaya yang tinggal di Jawa Tengah, jadilah Ibu Ana menitipkan Ana kepada mereka. Kenapa Ana tidak kuliah di Jawa Barat ? alasannya emang nggak masuk akal si, katanya dia pengen bisa bahasa jawa. Aneh memang si Ana ini. Ardi mengantarkan Ana bukan dengan mobil atau motor karena kos Ana deket, yaitu di belakang kampus, dan Kos Ardi tak jauh dari kos Ana. Ardi memang pamit untuk kuliah tapi dia masih meninggalkan alat praktiknya di kos jadi sekalian mengantar sang sepupu.
“An itu tadi dia sekos sama Jannah kan ?” tanya Ardi yang di jawab dengan anggukan oleh Ana
“Berarti dia di kos Sakinah miliknya pak Hj. Syihab ?” Ana kembali mengangguk
“Kenapa kak naksir ? kalau naksir langsung lamar atau ngasih proposal ta’aruf aja. Dia itu nggak mau pacaran. Tapi awas aja kalau kak Ardi sampai nyakitin Kia pasti bakal aku kasih pelajaran” kata Ana dengan logat sundanya.
“Hehe.. Cuma tanya aja An, astagfirullah. Kakak mikirin tugas kakak aja pusing mau mikir nikah. Tapi kenapa kamu nggak ngekos bareng dia aja, kan enak ada Jannah juga. Kamu bisa belajar lebih lagi tentang ilmu agama, syukur-syukur bisa kaya Kia berjilbab gitu kan cantik”
“Cye... jadi Kia cantik Kak ? wah perlu di kasih tau nih ke Kia”
“Iya lah An kan cewe, kalau cowo kaya aku mah ganteng” katanya Ardi sambil nyengir.
“Lagian berjilbab itu kan juga wajib bagi umat muslim sebagai tanda pengenal. Dalam surah Al-Ahzab Allah berfiman ‘wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka tidak di ganffu. Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang’. Ada lagi di surah Al-A’raf ayat 26 ‘Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian tawa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” lanjut Ardi.
“Jangan bilang mau jilbabin hati dulu. Kalau hatinya udah dijilbabin malah hidayahnya mental gak bisa masuk” lanjut Ardi saat Ana akan membantah perkataannya.
“Iya aku teh paham kak Ardi, kata-kata kak Ardi teh sama persis kaya kata-kata Kia. Kayaknya kalian memang di takdirkan berjodoh deh”
“Jangan mengalihkan pembicaraan, kita lagi ngomong tentang jilbab. Kamu kalau berjilbab pasti tambah cantik deh. Kaya aku gini tambah ganteng setiap harinya haha” tukas Ardi
“Dih maneh teh pede Pisan nyak. Urang teh aneh, suka sama Kia mana sagala ditutup-tutupi langsung ngomong wae atuh”
“Udah ya nggak usah ngomong tentang Kia mulu, mendingan kamu masuk terus ngelakuin kegiatan yang bermanfaat jangan Cuma tidur di kos. Mentang-mentang nggak kuliah” kata Ardi ketika mereka sampai di depan kos Ana.
“Iya-iya.. Ana masuk dulu ya Assalamu’alaikum” ucap Ana kemudian masuk ke dalam kosnya.
“Wa’alaikumsalam” jawab Ardi kemudian di berjalan malanjutkan langkahnya menuju kos.
“Kak Ardi” langkah Ardi terhenti ketika mendengar kembali suara Ana. Ardi kemudian membalikkan tubuhnya dan benar saja Ana angah menyundulkan kepalanya dari balik pintu pagar kosnya.
“Apa lagi ?”
“Nama lengkapnya Zazkia Nur Asyifa. Nama bapaknya Ahmad Sobirin kalau nggak salah, hihiihi hafalin biar nggak salah pas ijab kabul” kata Ana kemudian kembali ke dalam kosnya tanpa melihat ekspresi Ardi.
“Zazkia Nur Asyifa binti Ahmad Sobirin” tanpa sadar Ardi melafalkan kata-kata itu.
“Eh Astagfirullah, wah Ana memang kurang ajar. Eh tapi namanya bagus dan mudah dihafal. Lah ngapain di hafal si. Nggak...nggak dasar Ana” Ardi kembali melanjutkan langkahnya.
***
Zahwa duduk bersebelahan dengan Kia dan berada di barisan paling depan. Bukan karena mereka rajin, lebih tepatnya karena terpaksa karena memang mereka datang paling akhir jadilah mereka duduk di barisan paling depan. Apalagi ini adalah pelajaran Pak Yoga yang notabenya dosen dengan suara lembut tetapi dengan suasana mencekam karena sering memberikan pertanyaan secara mendadak terutama kutuk mahasiswa yang ketahuan tidur di saat jam kuliahnya. Kia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat penampakan di kelasnya sangat menahan kantuk, ada yang menempel kelopak matanya dengan isolasi, ada yang sok-sokan baca buku padahal tidur, dan ada yang asik main Games. Salah satu anak yang main Games itu ya si Dika temannya ketika SMA yang kini duduk di belakangnya.
“Heh Kak, kebangeten benget Kwe ya. Iki pelajaran e pak Yoga loh” (Heh Kak, kebangetan ya kamu. Ini pelajarannya pak Yoga loh” Kata Kia sambil menutupi layar hanphone milik Dika.
”Kebiasaan Kowe ya Ki, selalu ganggu. Sing Penting ora ketahuan wae gampang kan” (Ck Kebiasaan kamu ya Ki, selalu ganggu. Yang penting kan nggak ketahuan gampang kan) kata Dika tanpa mengalihkan fokusnya pada Kia.
Ternyata bisik-bisik tetangga mereka di dengar oleh pak Yoga. Apalagi tempat mereka tepat di depan beliau.
“Kalian berdua, silahkan menunggu di luar. Dan setelah jam pelajaran nanti kalian temui saya” kata pak Yoga dingin.
Kia dan Zahwa saling berpandangan, Zahwa merasa kasian dengan Kia yang kena getahnya karena Dika. Sedangkan Dika dia malah dengan gembira melangkah ke luar ruangan.
“Kak, nyebelin banget Kowe ya ? gara-gara Kowe aku dadi melu di keluarkan iki loh. Wah wes pasti iki bakal diwenehi tugas akeh iki” (Kak nyebelin banget kamu ya, gara-gara kamu nih aku jadi ikutan di keluarin. Wah sudah pasti nih dikasih banyak tugas)
“Ck biasa aja kali, biasane yo garap tugas kan,selo wae lah Ki” (biasanya juga ngerjain tugas jadi santai aja lah Ki)
Kia dan Dika duduk di kursi yang ada di depan ruang kuliah mereka. Beberapa mahasiswa terlihat berlalu lalang melewati mereka, ada yang ingin ke kantin, ada juga yang ingin ke perpus, dan ada yang ingin ke ruang dosen. Kia melihat seseorang datang, dan tampak kebingungan sambil membawa berkas di tangannya. Siapakah dia ?
***