Kia dan Dika duduk di kursi yang ada di depan ruang kuliah mereka. Beberapa mahasiswa terlihat berlalu lalang melewati mereka, ada yang ingin ke kantin, ada juga yang ingin ke perpus, dan ada yang ingin ke ruang dosen. Kia melihat seseorang datang, dan tampak kebingungan sambil membawa berkas di tangannya. Kia memicingkan matanya untuk meyakinkan diri bahwa yang dilihatnya ini benar.
“Lah bukannya itu Kak Rasyid ? ngapain dia kesini ? fakultasnya kan ada di sebelah” Kia kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dika yang tengah asyik melanjutkan game nya.
“Assalamu’alaikum Kak”
“Wa’alaikumsalam” balas Rasyid dengan wajah yang datar dan tampak tidak suka dengan kehadiran Kia menurut pandangan Kia.
“Em kakak ngapain ke sini bawa berkas banyak banget gitu ?” tanya Kia sambil menunjuk berkas yang di bawa oleh Rasyid.
“Iya ini proposal untuk membuat acara bakti sosial”
“Terus kakak ngapain di sini ?” Kia mengulang pertanyaannya karena belum mendapatkan jawaban dari Rasyid.
“Aku mau ketemu pak Yoga, beliau bilang sedang mengajar di ruang D135”
“Oh alah iya kak, Pak Yoga lagi ngajar di kelasku” Rasyid mengernyit
“Terus kenapa kamu di luar dan nggak masuk makulnya pak Yoga ?” Kia menyengir, kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Emmt itu anu... eh aku antar ke kelas langsung yuk kak, kebetulan bentar lagi kelas pak Yoga selesai” Kia melenggang meninggalkan Rasyid dengan rasa malunya. Saat sampai di depan kelas, Dika bangkit dari tempat duduknya dan langsung menghadang Kia.
“Heh bocah dari mana aja ? udah di tunggu sama pak Yoga tuh” kata Dika dengan nada kesal.
“Ck kenapa nggak masuk duluan si, ribet deh” balas Kia dengan nada sinis.
“Kan kita berdua yang berbuat, kita berdua juga yang bertanggung jawab” kata Dika ambigu yang menggiring opini di pikiran Rasyid bahwa mereka telah melakukan hal yang tidak-tidak.
“Hih... iya bentar-bentar. Kak Rasyid mau masuk duluan atau....” belum Kia menyelesaikan perkataannya Rasyid sudah nyelonong masuk ke ruang kelas.
“Ck.. udah dibaikin, masih aja jutek. Astagfirullah sabar-sabar” ucap Kia dalam hati ketika melihat Rasyid berjalan melewatinya.
Rasyid mengucapkan salam kepada pak Yoga yang masih sibuk membolak-balik dan menata kertas-kertas tugas milik mahasiswanya.
“Assalamu’alaikum pak Yoga ?”
“Wa’alaikumsalam, iya mas ada apa ya ?”
“Begini pak saya Rasyid mahasiswa semester lima ketua BEM FISIP, maksud dan tujuan saya kesini untuk mengajukan proposal pengadaan acara bakti sosial yang nantinya akan turut mengajak mahasiswa dari fakultas FEBI untuk ikut acara ini”
“Kenapa FEBI juga harus ikut ?” tanya pak Yoga.
“Dari beberapa fakultas di universitas kita ini, organisasi sosial yang memiliki record kegiatan sosial paling bagus hanya dari FEBI Peduli. Rencana saya mengajak anggota dari FEBI peduli ini sekalian untuk menjadikan organisasi ini sebagai percontohan” jelasnya
“Baiklah proposal ini saya terima dulu, kamu tunggu di luar ya. Sama tolong kalau ada dua mahasiswa saya di luar suruh mereka masuk” Rasyid mengangguk
“Baik pak, terimakasih. Saya pamit Assalamu’alaikum” senyumnya ramah
“Wa’alaikumsalam”
Rasyid berjalan keluar ruangan, matanya langsung menyorot kepada Kia dan Dika yang tampak sedang terlibat pertengkaran kecil.
“Pak Yoga menyuruh kalian masuk” ucap Rasyid dingin memudian mendudukkan badannya di bangku sebelah Dika. Kia menggeplak kepala Dika dengan kertas yang dia pegang karena Dika tak kunjung bangun dari tempat ternyamannya.
“Aduh sadis banget si Ki ? jahat kamu dek sama abang” ucapnya memelas.
“Bodoamat udah ayo, katanya udah di tunggu pak Yoga kena kamu malah santai-santai si” usap Kia kesal kemudian menggeret lengan kemeja Dika dengan jari telunjuk dan ibujarinya.
Tanpa mereka dengar Rasyid mendengkus kesal dengan tingkah laku mereka. Ada apa sebenarnya dengan Rasyid ? apa dia cemburu ? lalu apa haknya untuk cemburu ? entah lah hanya author dan Allah yang tau.
Pandangan tajam Rasyid tak lepas dari mereka berdua hingga tubuh mereka hilang di telan pintu karena sudah masuk ruang kelas yang tadi dia masuki.
“Assalamu’alaikum pak” ucap Kia dengan nada agak ragu karena sekarang Pak Yoga sedang memasang mode garang di wajahnya.
“Wa’alaikumsalam” Pak Yoga mengalihkan pandangannya kepada Kia dan Dika.
“Jelaskan sama saya tadi kalian ngapain ?” ucapnya dengan tatapan tajam mengarah ke mereka.
“Anu...itu.. apa ta.tadi saya kasih tahu Dika buat memperhatikan kelas bapak, karena tadi dia....”
“Ketiduran pak” ucapan Kia di potong langsung oleh Dika. Bukan tanpa alasan Dika berbohong, kalau sampai pak Yoga tahu dia main game di jam pelajaran beliau, pastilah dia akan mengulang mata kuliah di semester selanjutnya. Kia langsung menatap Dika dengan raut muka yang memerah karena ketakutan.
“Benar itu Kia ?” tanya Pak Yoga sambil memicingkan matanya. Kia mengangguk sebagai jawaban. Dia tak mau menjawab karena pasti suara yang di keluarkan akan bergetar karena efek ketakutan.
“Oke kalian untuk kali ini saya maafkan, tapi saya ingin tanya sama kalian. Apa diantara kalian ada yang ikut organisasi FEBI peduli ?” Dika dan Kia mengangguk. Karena mereka memang bagian dari organisasi tersebut. Hampir seluruh mahasiswa FEBI mengikuti organisasi tersebut jadi tak heran sikap kekeluargaan diantara mereka cukup kental.
“Siapa ketuanya ?” tanya pak Yoga.
“Ketuanya Kak Fian mahasiswa semester lima pak dari prodi Management bisnis” jawab Kia.
“Ini ada proposal dari ketua BEM FISIP yang mau mengajak kalian bergabung kegiatan sosial mereka, saran saya sebagai Ketua Prodi sangat menyarankan acara ini, tadi saya lihat sekilas acaranya juga bagus. Saya sudah tanda tangan di proposal tersebut. Nanti kalian bicarakan lebih lanjut dengan Ketua BEM mereka secara langsung. Tugas kalian mensosialisasikan kegiatan ini pada para dosen di FEBI agar turut serta atau memberi dukungan dalam bentuk dana. Gimana kalian sanggup ?” Senyum bahagia tercetak di wajah Dika dan Kia.
“Baik pak kami sanggup, kami akan melakukan yang terbaik” ucap Dika kemudian menerima proposal yang di berikan Pak Yoga.
“Kami boleh pergi pak ?” tanya Dika dengan tidak sopannya.
“Iya kalian boleh pergi, sama satu lagi ya kegiatan diadakan bulan depan saya harap kalian bisa saling bekerjasama dengan baik” Kia dan Dika mengangguk.
“Baik pak, Assalamu’alaikum” ucap mereka. Pak Yoga memang killer dalam hal mata kuliah tapi sebenarnya beliau sangat baik, dan hatinya sangat lembut. Apalagi mendengar acara amal atau acara sosial seperti itu pasti beliau masuk garda depan pendukung acara tersebut. Beliau tidak seperti dosen-dosen pada umumnya yang menyarankan mahasiswanya untuk fokus ke akademik dan tidak mementingkan organisasi, beliau malah menyarankan mahasiswanya untuk mengikuti organisasi sebagai bekal untuk dapat langsung terjun ke masyarakat setelah mereka lulus nanti.
Kia dan Dika melangkah keluar dan menghampiri Rasyid yang masih dalam posisi duduk.
“Kak Rasyid, kakak nunggu proposal ini ?” tanya Kia memperlihatkan proposal pemberian pak Yoga. Rasyid mengangguk sebagai jawaban.
“Tadi pak Yoga sudah menjelaskan, dan beliau juga sudah menyetujui. Bahkan beliau bilang mau ikut andil dalam pendanaan bersama dosen-dosen lainnya”
“Terus dari FEBI Peduli gimana ?” tanya Rasyid
“Oh iya kak perkenalkan sebelumnya saya Dika, saya Koordinator kegiatan di FEBI Peduli” ucap Dika sambil menyodorkan tangannya ke arah Rasyid sebagai tanda perkenalan.
“Nanti saya akan Koordinasi lagi dengan ketua FEBI Peduli, kalau dari kegiatannya sepertinya kemungkinan besar akan di setujui apalagi Pak Yoga selaku Ketua Prodi sudah menyetujui”
“Baik saya tunggu ya, soalnya waktunya sedikit mepet mengingat acaranya lumayan besar. Saya harap nanti sore sudah ada persetujuan dari FEBI Peduli” Kia dan Dika mengangguk.
“Iya Kak, semoga kolaborasi aku dan kamu bisa berjalan dengan lancar” kata Kia tanpa sadar dan dengan senyum mengembang menatap Rasyid. Mata Dika dan Rasyid sama-sama membola menatap Kia yang masih tersenyum lebar. Tampaknya memang gadis ini belum sadar yang dia katakan.
Di tatap oleh kedua lelaki di depannya membuatnya langsung tersadar.
“Astagfirullah. Anu ..ini maksudnya kolaborasi kita.. em maksudnya organisasi aku dan organisasi kamu” kata Kia menyengir ala-ala kuda. Dika geleng-geleng kepala, dia tahu betul bahwa penyakit lemo temannya ini kumat, ketika sedang tidak fokus.
“Makanya jangan mikir jodoh mulu, fokus...fokus” hardik Dika sambil menunjuk pelipisnya sendiri.
Kia mencebikkan bibirnya dan menatap Dika nyalang, tentu saja interaksi mereka tak terlewatkan dari pandangan Rasyid.