“Makanya jangan mikir jodoh mulu, fokus...fokus” hardik Dika sambil menunjuk pelipisnya sendiri.
Kia mencebikkan bibirnya dan menatap Dika nyalang, tentu saja interaksi mereka tak terlewatkan dari pandangan Rasyid.
Rasyid berdeham dengan maksud menyadarkan mereka bahwa ada dia diantara mereka.
“Maaf boleh kita tidak membahas urusan rumah tangga kalian dulu ?” tanya Rasyid datar.
“Eh.. bukan kak bukan, kita Cuma temenan kok” kata Kia dengan tangan digerak-gerakkan menyilang.
“Kalau iya juga gak apa-apa kali Ki” kata Dika jahil dan langsung mendapat tatapan tajam dari Kia.
“Kita lanjutkan aja pembahasan kita tadi aja ya ?” Kata Kia mengalihkan pembicaraan yang semakin melantur itu.
“Oh iya kak, kalau untuk rapat perdana kira-kira rencana kapan ? dan mau dimana ?” tanya Kia
“kalau dari organisasi kalian setuju, rapat akan kita adakan malam ini ba’da isya’ di kafe Asna yang ada di depan fakultas teknik ya” Kia dan Dika setuju. Kemudian Rasyid berpamitan untuk melanjutkan tugasnya, sedangkan Kia dan Dika berencana ke kantin untuk bertemu Riko si ketua organisasi.
Diluar dugaan ternyata yang dimaksud Rasyid melanjutkan tugas adalah, melanjutkan tugasnya untuk mengintai Kia dan Dika yang kini tengah berjalan berdua menuju kantin fakultas mereka. Rasyid berjalan pelan dan jauh dari mereka tapi Rasyid dapat melihat dengan jelas bahwa sepanjang perjalanan Kia dan Dika tampak berbicara dengan senyuman mengembang di bibir keduanya. Bahkan beberapa kali Kia tampak tertawa lepas.
“Sebahagia itukah kamu dengan dia yang kamu bilang sahabatmu” gumam Rasyid yang hatinya terasa teriris melihat interaksi mereka berdua.
Dika dan Kia berjalan mendekati meja Riko yang tadi melambaikan tangan ke arah mereka ketika ada di depan kantin. Rasyid yang semula berada jauh dari mereka melebarkan langkahnya dan langsung mengambil tempat duduk tidak terlalu jauh dari mereka. Ya saat ini Rasyid mirip sekali bahkan pantas disebut sebagai penguntit temporary.
“Assalamu’alaikum ya ahli kubur” ucap Dika sambil cengengesan
“Astagfurullah tega ya kamu”
“Assalamu’alaikum pak ketua yang guantengnya ngalahin genteng rumahku” balas Kia meralat salam dari Dika. Riko yang semula tersenyum kemudian berdecak kesal karena ucapan terakhir Kia.
“Wa’alaikumsalam ya ukhti pujaan hati” balas Riko kemudian mempersilahkan Kia duduk di dekatnya. Rasyid yang mendengar kata terakhir yang di ucapkan oleh lelaki itu merasa risih. ‘Ck nggak tau malu banget si di muka umum mengeluarkan kata-kata manis, kelihatan banget tuh kalau buaya’ tanpa sadar Rasyid menggerutu sendiri.
“Jadi ada keperluan apa nih kita ketemu bertigaan gini ? kita nggak lagi reuni SMA kan?” tanya Riko. Riko juga merupakan teman Kia dari SMA. Singkatnya mereka bersahabat sejak Kia belum menggunakan jilbab hingga sekarang.
“Ya nggak lah Ko, kita mau bicara tentang kolaborasi antara organisasi FEBI peduli dengan BEM FISIP” kata Kia.
“Iya aku tadi udah bicara panjang lebar dengan ketuanya, dan mereka juga udah ngajuin proposal ke pak Yoga dan beliau setuju” tambah Dika.
“Menurut kamu acaranya bagus nggak Ki ?” Kia mengangguk antusias.
“Ya udah oke kita langsung setuju aja” ucap Riko dengan cepat.
“Lah udah gitu doang ?” kata Kia melongo dengan keputusan dari Riko.
“Ya terus gimana ?”
“Ck kenapa kamu nggak tanya acaranya gimana ? teknisnya seperti apa atau apa gitu misalnya” ucap Kia.
“Ya Allah My sweety gak usah, kalau kamu bilang acaranya bagus pasti aku setuju” Kia memanyunkan bibirnya karena muak dengan kata-kata manis yang terlontar dari mulut sahabatnya itu. Kia terbiasa dengan panggilan nyeleneh dari mereka berdua, jadi Kia menganggap semua yang mereka katakan hanya gurauan semata. Beda cerita ketika Rasyid yang mendengarkan kata-kata itu, dia merasa bahwa Riko ini lebay, apalagi kenyataan yang dia dengar bahwa Riko adalah ketua FEBI Peduli. Sebagai ketua, sikap Riko sama sekali tak mencerminkan kewibawaan sama sekali, malah terkesan pecicilan dan kegenitan.
‘Bisa-bisanya organisasi sebagus itu, pemimpinnya modelan permen lolipop kaki kaya gini si” batin Rasyid.
“Sudah kuduga kalau Riko pasti setuju kalau Kia setuju, yang aku bingung kenapa yang jadi ketua Riko si kalau semua keputusan ada di kamu Ki ?” Kia mengendikkan bahunya.
“Tau, tanya aja sama sahabat gendengmu ini”ucap Kia ketus.
“Aku kan gandeng karena kamu Kia, hahaha” Dika dan Riko sama-sama tertawa. Sejak dulu menggoda Kia adalah hobi mereka dan tak akan pernah hilang. Apalagi melihat respons Kia yang sudah seperti orang muntah karena menelan kata-kata manis dari sahabatnya.
“Jadi gimana keputusan kalian ?” mereka bertiga terdiam ketika Rasyid tiba-tiba ada di depan meja mereka dan langsung mengambil tempat duduk di depan Kia. Mereka bertiga yang masih terkejut saling melemparkan pandangan sambil bertanya melalui telepati ‘Kok dia ada di sini ?’ sedangkan yang lainnya mendawab dengan mengendikkan bahu mereka.
“Ehem.. jadi gimana keputusan kalian ?” Rasyid berdeham dan mengulang kembali perkataannya.
“Eh ini...anu..itu.. Ck” Kia yang gelagapan meminta bantuan Riko dengan menginjak kakinya.
“Astagfirullah” Riko menatap Kia dengan tatapan tersenyum menahan kesakitan. Kia memandang Riko dan melirik ke arah Rasyid yang kini sedang memandangi mereka. Aksi kode-kodean mereka terhenti ketika Rasyid kembali berdeham.
“Iya...iya saya setuju untuk berkolaborasi dengan kalian. Hmm selain dari FEBI Peduli, apa ada organisasi lain yang kalian ajak ?” Rasyid mengangguk.
“Tentu saja ada, organisasi saya juga mengajak organisasi Rohis Fakultas teknik untuk ikut” Dika mengernyit bingung kenapa Organisasi Rohis juga ikut.
“Lah kenapa nggak organisasi sosialnya aja ? kenapa malah ngajak anak Rohis-nya FT ?” tanya Dika.
“Jadi gini, kalian kan tau kalau Rohisnya FT selalu berhasil membuat acara-acara mereka sukses besar, mereka juga pernah melakukan penggalangan dana dengan melakukan konser amal tahun lalu. Aku ngajak mereka andil dalam acara ini supaya nanti acara ini lebih menarik dan spektakuler” jelas Rasyid.
“Eh tapi kita itu mau buat acara amal apa mau bikin konser bertakjuk bintang si ?” dengan polosnya Kia bertanya kepada Rasyid.
“Iya bener tuh, kalau menurutku konser amal itu cukup dengan menarik minat pengunjung dengan sesuatu yang kini sedang tren. Misalkan kita mengundang salah ustad Hanan Attaki atau Handi Bony kan beliau lucu tuh, pasti para mahasiswa-mahasiswi akan tertarik. Apalagi kalau acaranya hari Minggu. Dari pada mereka maksiat mending ikut kajian, iya nggak ?” ucap Riko. Ide Riko ini langsung mengenai mental Rasyid. Rasyid yang awalnya berpikir bahwa Riko ini tidak berwibawa dan pecicilan sedikit takjup dengan pendapat Riko.
“Bener kata orang don’t judge book by cover” batin Rasyid.
“Iya pasti mereka punya kenalan untuk mengundang ustad-ustad gaul itu. Aku sih yes ya” ucap Dika kemudian menyeruput minumannya.
“Jadi kalian setuju kan kalau aku ngajak anak Rohis FT ?” tanya Rasyid. Mereka kemudian mengangguk.
“Oke setelah kalian selesai, aku minta salah satu dari kalian nemenin aku ketemu sama ketua Rohis FT. Bisa ?” Riko mengangguk
“Oke, Ki kamu ya yang nemenin kak Rasyid” perintah Riko yang membuat Kia tersedak minumannya.
“Kok aku si ?” kata Kia dengan nada protes.
“Kenapa emang ? aku nggak akan macem-macem sama kamu, toh jalanan juga rame, jaraknya juga nggak terlalu jauh kan ?” ucap Rasyid marah karena nada bicara Kia yang terkesan menolaknya.
“Gini Ki, aku sama Riko abis ini ada kuliah pengganti. Lagian ini juga termasuk hukuman dari pak Yoga. Kamu inget kan ?” Kia menghembuskan napas
“Bukannya nggak mau, aku males aja jalan sama es ser.. ups” Kia langsung membekap mulutnya ketika sadar akan ucapannya yang hampir saja mengatai Rasyid dengan sebutan Es serut.
“Apa maksud kamu ?” tanya Rasyid dengan nada yang jengkel.
“Ck udah deh, nggak usah berantem terus. Jodoh baru tau rasa kalian”
“Lah ogah, maaf nih ya. Aku udah punya pilihanku sendiri” jawab Kia cepat. Rasyid yang merasa hatinya tersayat langsung membalas perkataan Kia dengan perkataan yang diluar dugaan.
“Siapa juga yang mau sama kamu ? mendingan Zahwa kemana-mana lah” ucap Rasyid tanpa sadar.
“Pantesan kalau sama Zahwa kamu lembut banget, giliran sama aku kek es serut. Kak kalau suka itu ya di lamar. Jadi cowo kok cemen banget” ucap Kia kemudian memalingkan pangangannya dari Rasyid.
“Eh..eh udah-udah mendingan kalian berangkat sekarang deh, keburu sore. Aku sama Riko sekalian mau pamit Kuliah. Kalian hati-hati semoga berhasil. Jangan bertengkar di jalan nanti kalau jodoh hahaha” ucap Dika kemudian menarik Riko dan mengucapkan salam.
***