Setelah berdiskusi Rasyid meminta perwakilan dari FEBI Peduli menemaninya untuk menemui ketua Rohis FT. Dan yang diajukan oleh sang ketua FEBI Peduli adalah Kia, alasannya karena Kia adalah satu-satunya diantara mereka bertiga yang sudah selesai jam kuliah. Sedangkan Dika dan Riko masih ada kuliah pengganti.
Kia berjalan di belakang Rasyid dengan jarak satu meter, mereka memilih jalan kaki karena memang jarak kantin yang mereka tempati dengan fakultas Teknik cukup dekat. Hanya butuh lima belas menit jalan kaki. Sepanjang perjalanan Kia menggerutu karena keputusan Riko dan Dika menyuruhnya menemani si kakak tingkat resep ini.
“Sahabat nggak ada akhlak emang, mana boleh orang yang bukan mahram jalan berduaan gini. Kalau sama Kak Ardi si nggak apa-apa lah ini sama es serut. Males banget Astagfirullah” gerutuan Kia samar-samar di dengar oleh Rasyid. Rasyid menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
“Kalau jalan yang ikhlas, lagian kita nggak berduaan kok. Kamu nggak liat banyak orang di sekitar kita ha ? sama satu lagi yang namanya khalwat itu tetep aja nggak boleh, baik sama orang yang kamu suka maupun sama orang yang kamu nggak suka. Makanya kalau ikut kajian itu jangan tidur biar nggak setengah-setengah menyerap ilmunya” kata Rasyid kemudian membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya.
“Nye..nye..nye... iya aku tau kok, tapi kalau di banding jalan sama kamu gini mendingan aku ketemu sama orang gila tau nggak” ucap Kia memanyunkan bibirnya seolah mengejek perkataan Rasyid. Tapi kali ini Rasyid tak mendengar kata-kata Kia.
“Awas aja nanti pasti aku aduin ke Zahwa, aku bakal bilang kalau kamu nggak baik, nggak layak jadi suami” ucap Kia sambil mengomel.
“Astagfirullah, nggak-nggak, Astagfirullah nggak boleh gitu Kia. Kalau Zahwa beneran suka sama dia kan kasian pasti Zahwa sakit hati. Nggak lah, selama Zahwa nggak tanya aku akan diam saja. Tapi awas aja kalau nanti dia jadi suami yang cuek dan masih kaya es serut aku yang akan turun tangan langsung” ucapnya menggebu sambil memandangi punggung Rasyid.
“Mendingan kamu diem deh, berisik tau nggak. Atau kalau nggak bisa diem paling nggak jangan mengganggu orang lain” ucap Rasyid dingin. Kia mencebikkan bibirnya, merasa kesal dengan sikap Rasyid. Kia memutuskan jalan melewati Rasyid, kemudian melangkahkan kakinya ke Masjid yang ada di seberang jalan.
“Eh mau kemana ?” tanya Rasyid
“Sholat, nggak denger emang kalau tadi udah adzan” jawab Kia ketus. Sedangkan Rasyid yang di lewati memandangnya gemas.
“Ck astagfirullah kenapa dia beda banget si, mengingatkan dalam hal kebaikan. Ya meskipun judes tapi kayaknya cocok jadi is.. Eh astagfirullah, nggak-nggak sholat Rasyid sholat” Rasyid menggelengkan kepalanya kemudian berjalan mengikuti Kia menuju Masjid.
Beruntung, saat selesai wudhu belum ada iqomah, jadi Kia bisa menyempatkan diri untuk berdoa dan dzikir terlebih dahulu. Betapa beruntungnya Kia karena salah satu waktu yang mustajab dalam berdoa adalah diantara Adzan dan Iqomah. “Sungguh berdoa antara adzan dan iqomah tidak tertolak, maka pergunakanlah waktu untuk berdoa” (HR. Ahmad). Kalau di pikir rugi nggak si kalau kita sengaja menunda waktu sholat, padahal ada waktu yang sangat mustajab untuk berdoa yaitu diantara Adzan dan Iqomah Kia membatin. Kia Kemudian berdzikir dengan jari tangannya, sesuai dengan anjuran Rasulullah dalam HR.Abu Dawud & At-Tirmidzi yang bertunyi “Saya melihat Rasulullah bertasbih dengan jari-jari tangan kanannya”.
Dzikir Kia tiba-tiba berhenti ketika kedua telinganya mendengar suara merdu seorang ikhwan (laki-laki) yang sedang membaca mushaf Al-Qur’an.
“Subhanallah merdu sekali suaranya, mirip seperti hamba Allah yang selalu adzan subuh di masjid deket kos” batinnya sambil tersenyum manis. Iqomah membuyarkan lamunannya dan otomatis membuat sang pelantun menghentikan bacaannya dan merapatkan shaff untuk mendirikan sholat.
Sholat adalah sarana komunikasi bagi manusia dengan sang pencipta. Sholat memiliki kedudukan yang sangat penting dan mendasar dalam islam. Sholat tidak bisa di sejajarkan dengan ibadah-ibadah lainnya, bahkan sholat sering kali di sebutkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya di Surat Taha ayat 14 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang Hak) selain aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingatku”. Selain itu ada surat Al-Ankabut ayat 45 yang artinya “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitap (Al Qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (Sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Setelah Sholat, Kia menunggu Rasyid di depan masjid. Kia melihat Rasyid sedang berbincang dengan seseorang yang dia kenal dan tengah berjalan mendekatinya.
“Eh kok itu kaya Mas.. eh Kak.. Ar” gumam Kia sambil memperhatikan laki-laki di sebelah Rasyid.
“Kia ? kok kamu di sini ?” tanya Ardi yang kini sudah ada di depannya. Rasyid mengernyit heran dengan interaksi kedua insan di depannya ini.
“He? eh iya mas eh Kak?” Arti tersenyum, lagi-lagi Kia terlihat gugup saat berbicara dengannya.
“Panggil mas aja nggak apa-apa” ucap Ardi.
“Iya mas, Kia kesini nemenin Kak Rasyid” Ardi mengernyit kemudian mengalihkan padangannya pada Rasyid meminta penjelasan. Jujur saja, hati Ardi terada ada yang tergores ketika Kia mengatakan bahwa dia menemani Rasyid.
“Itu lho Ar yang aku ceritain tadi. Eh Jadi kalian udah saling kenal ?” tanya Rasyid heran.
“Oh jadi Kia ini perwakilan FEBI peduli ?” Rasyid mengangguk menanggapi pertanyaan Ardi.
“Jadi Mas Ardi sama Kak Rasyid udah saling kenal ?” tanya Kia.
“Iya, kita satu angkatan dulu pas tingkat tiga kita satu organisasi BEM Univresitas, sampai sekarang juga masih aktif tapi Cuma jadi anggota biasa”
“Wah keren” tanpa sadar Kia menatap Ardi penuh dengan kekaguman. Sontak hal ini membuat hati Rasyid sedikit tersentil, padahal kan dia juga anggota BEM Universitas kenapa hanya Ardi yang dia kagumi begitu kira-kira batin Rasyid.
“Ehem.. bukannya sudah jelas di Surah An-Nur ayat 30 sampai 31 bahwa umat muslim harus menjaga pandangannya ?” Perkataan Rasyid membuat Kia tersadar dan beristigfar.
“Eh em.. gimana kalau kita langsung cari ketua Rohis FT aja yuk, takut kesorean” kata Kia mengalihkan pembicaraan. Di waktu yang sama Ardi dan Rasyid saling berpandangan. Dengan kedipan mata Ardi yang merupakan kode untuk Rasyid agar tetap diam.
“Oh iya boleh, yuk langsung ke PKM FT aja” ajak Ardi
Sesampainya di PKM, Ardi mempersilahkan Kia dan Rasyid duduk di bangku yang ada di ruangan Rohis, sedangkan Ardi berpamitan untuk bertemu dengan wakil Rohis untuk membahas kelanjutan kerja sama mereka. Di sepanjang perjalanan ke PKM tadi, Kia sedikit bingung dengan Rasyid yang selalu membicarakan kerja sama mereka kepada Ardi bahkan Rasyid juga menawarkan Ardi untuk ikut. Kia berpikir bahwa Rasyid juga akan mengajak BEM Universitas untuk ikut gabung acara mereka jadi Kia memilih diam dan tidak bertanya.
“Kak ini ketuanya mana si ?” tanya Kia berbisik kepada Rasyid. Rasyid menanggapinya dengan malas.
“Ck kamu ini polos apa bodoh si ? itu di sana kan terpampang struktur organisasi, kenapa nggak dibaca ?” jawab Rasyid yang masih kesal karena kekaguman Kia pada Ardi. Apalagi panggilah ‘Mas’ yang sengaja Kia sematkan untuk Ardi, yang tentu saja membuat Rasyid semakin kesal tanpa alasan.
Kia yang di katakan bodoh sontak langsung merasa sangat kesal dengan Rasyid bahkan detik itu juga Kia mengikrarkan diri untuk membenci laki-laki di depannya itu
“Astagfirullah, Kasar banget si. Ayah dan ibuku aja nggak pernah kek gitu ke aku. Dasar Es balok, es serut, bongkahan es” gerutu Kia dalam hatinya.
Kia menoleh ke arah papan struktur organisasi, betapa terkejutnya Kia ketika melihat nama beserta foto Ardi berada di jajaran atas.
“Loh jadi mas Ardi Ketua Rohis ?” Rasyid memutar bola mata malas mendengar kalimat tanya Kia yang menurutnya itu adalah kata sanjungan untuk temannya itu.
“Biasa aja dong kagumnya, aku dong Ketua BEM FISIP, Kadep organisasi Sastra Tulis, dan anggota BEM Univ” kata Rasyid dengan nada sombongnya. Rasyid sendiri heran kenapa dia memamerkan semua itu kepada Kia padahal jelas-jelas di depan orang lain dia selalu menutupinya.
Kia yang mendengar nada sombong Rasyid menoleh dengan pandangan yang sulit di artikan. Rasyid yang dipandang Kia cukup senang, ‘Akhirnya dia kagum sama aku’ batin Rasyid.
“Bukannya sudah jelas di surah Al-Baqarah ayat 264 kalau orang beriman itu di larang riya’ ?” kata Kia kemudian mengalihkan pandangannya ke papan struktur organisasi lagi. Sedangkan Rasyid membelalakan matanya karena merasa tertampar dengan kata-kata Kia. Bahkan Rasyid baru sadar kalau dia telah melaukan berbuatan riya’
‘Ini pertama kalinya aku tertarik pada salah satu hambamu ya Allah, tapi ternyata hatinya belum siap untuk Hamba tempati. Jika memang dia jodohku maka dekatkanlah, tapi jika tidak maka jodohkan aku dengan orang yang sepertinya, sifat, sikap dan fisiknya. Atau biar lebih mudah dia saja ya Allah” ucap Rasyid dalam hati sambil memandang langit di luar jendela dengan ekspresi sedihnya dan terkesan memaksa.
Wah semakin sengit ya persaingan antara Kak Es balok dan Mas Sandal Jepit ? Kira-kira nih siapa ya yang berhasil menjadi garis takdir seorang Zazkia ? di tunggu di episode selanjutnya ya...
Tapi sepertinya untuk episode selanjutnya ada di platform lain deh ya... Chek akun w@ttp@d ku @pmumtaza89