“Lah selama nggak pacaran, nggak masalah lah. Teman saling mengingatkan dan berusaha menjadi lebih baik kenapa nggak. Lagian itu juga sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik” ucap Kia mengutarakan pendapatnya.
Diatas panggung Rasyid diam sejenak karena jawaban akan sangat panjang kemudian menarik napas dan mulai menjawab dengan penuh keyakinan.
“Jadi gini kak Za, islam sudah menentukan batasan-batasan pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan pada zaman Rasulullah ketika perempuan ingin berbicara kepada laki-laki harus berada di balik tabir atau kain seperti pembatas sholat kalau sekarang. Kalau masalah perasaan, Allah menurunkan perasaan cinta itu sebagai sebuah cobaan kalau menurut saya ya. Jadi ketika kita bisa mengendalikan diri maka cinta yang suci karena Allah akan datang, tetapi ketika kita dikendalikan oleh cinta maka nafsu yang akhirnya akan menguasai kita. Kalau misalkan suka atau tertarik pada lawan jenis hanya ada 2 pilihan yaitu halalkan atau tinggalkan. Lalu apakah kalau wanita yang jatuh cinta harus mengungkapkan juga ? Saya ingat cerita Khadijah yang datang ke Rasulullah dan melamar beliau, itu adalah salah satu contoh dari tindak lanjut jatuh cinta. Misalkan kita tak bisa, ya sudah diam layaknya Fatimah yang menyembunyikan perasaannya kepada Ali bahkan setanpun tak tau bahwa mereka saling jatuh cinta. Kalau masalah hubungan tanpa status, pacaran nggak, temenan juga lebih, apalagi satu sama lain sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, ini harus hati-hati. Bisa memicu terjadinya zina. Zina ini tak hanya bersentuhan, ada juga zina pikiran. Nah zina pikiran ini tentang apa ? ya itu memikirkan doi, chat-an setiap hari, senyum-senyum tak karuan hingga lupa dengan Allah yang maha cinta. Lalu kalau sudah terlanjur gimana ? ada caranya, memutuskan hubungan atau meminta kejelasan. Nah kalau jawaban si akhi misalkan nanti satu tahun lagi, dua tahun lagi dan selanjutnya, ya sudah tinggalkan. Berarti dia mendahului kehendak Allah, kenapa begitu ? karena yang tau masa depan kita hanya Allah. Iya kalau kita masih hidup setahun ke depan, nggak usah jauh-jauh belum tentu besok kita hidup iya kan. Makanya kalau bangun tidur kita diminta untuk berdoa. Bagaimana doanya ?”tanya Rasyid pada para jamaah.
“Alhamdulilladzi ahyaanaa ba’da mas amaatanaa wa ilaihin nusyuur” ucap para jamaah secara kompak.
“Iya benar sekali, yang artinya ‘segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan’ jadi kurang lebihnya seperti itu Kak Zafira. Intinya halalkan atau tinggalkan ya” tauziah berakhir dan di tutup dengan doa yang dipimpin oleh Rasyid.
Jawaban Rasyid tentu saja sangat menusuk hati Kia, tapi benar kata orang bahwa cinta itu buta. Bukannya sadar Kia malah merasa bahwa Rasyid adalah sosok yang menyebalkan. Bagaimana bisa dia dengan entengnya bicara tentang batasan pergaulan laki-laki dan perempuan sedangkan dia malah dengan berani menggendong Kia saat pingsan sebulan yang lalu, batin Kia. Wah parah ya Kia sepertinya benar-benar harus di riqyah.
Acara telah selesai dan kini saatnya para panitia membersihkan aula tempat diadakannya dakwah untuk berbagi. Lain dengan Kia, setelah acara, Kia langsung bergegas menghampiri Rasyid yang saat ini sedang ikut membantu sie perlengkapan membereskan perlengkapan sewaan.
“Kak Rasyid” panggil Kia setelah dekat dengan Rasyid.
“Iya Ki kenapa ?” tanya Rasyid
“Maksud kakak apa tadi ?” tanya Kia semakin membuat Rasyid kebingungan.
“Tadi ? kita baru ketemu sekarang Ki”
“Kak Rasyid kalau nggak suka sama aku bilang aja nggak usah pakai sindir-sindir. Kekanak-kanakan tau nggak”
“Apa si Ki, aku sama sekali nggak tau maksud perkataanmu. Menyindir ? menyindir apa ?” kata Rasyid semakin meninggikan nada bicaranya.
“Tadi jawaban Kak Rasyid yang terakhir” Rasyid kembali mengingat jawabannya
“Terus masalahnya sama kamu apa ? aku hanya menjawab pertanyaan mereka. Kenapa kamu marah sama aku ?”
“Y..ya ka..karena jawaban kakak itu menyebalkan” ucap Kia dengan nada sedikit gugup.
“Menyebalkan ? apa yang menyebalkan ?. Kan memang sudah jelas bagaimana islam mengatur pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan sudah ada di Al-Qur’an. Sekarang saya tanya sama kamu. Bulan lalu saat saya berniat nolong kamu membawa kamu ke ruang rawat dengan cara menggendong, kamu nangis kan setelah tau saya yang gendong kamu. Itu karena apa ? kalau kamu ingat, bahkan kamu juga menceramahiku tentang hukum menyentuh perempuan yang bukan mahram”
“Ya it..itu beda lah kan sudah menyentuh udah zina. Beda kalau perasaan kak, kita saling menjaga kok nggak bersentuhan sama sekali” ucap Kia masih kekeh dengan pendiriannya.
“Tunggu dulu, tadi kamu bilang beda ? saling menjaga ? Astagfirullah....bedanya apa Ki ? justru dengan tau perasaan satu sama lain setan akan dengan mudah membautmu berbuat lebih dari sekedar memikirkan, bersentuhan dan sebagainya. Ingat cerita seorang ulama yang memiliki ketaatan dan keistimewaan tetapi meninggal dalam keadaan kafir. Awalnya dia hanya berniat baik, tapi ketika dia mulai berzina mata, setan semakin mudah menggodanya hingga dia meninggal dalam keadaan kafir. Aku yakin Kamu udah cerita itu Ki. Aku harap kamu segera meninggalkan apa yang menurut islam salah. Dan iya.. Syari’at Allah tidak bisa ditawar Ki. Assalamu’alaikum” ucap Rasyid, Sungguh hatinya hancur ternyata Kia sedang ada posisi itu, yaitu Hubungan Tanpa Status dengan embel-embel kalimat nanti setelah.... aku akan menikahi kamu. Rasyid berdoa dalam hatinya semoga Kia bisa berpikir jernih dan mulai menjauhi apa yang salah.
“Wa...wa’alaikumsalam” ucap Kia lirih bahkan hampir tak terdengar oleh Rasyid. Kia masih terdiam, pikirannya menerawang saat pertama kali Ardi menyatakan perasaannya. Teringat saat itu diapun menanggapi perasaan Ardi. Memang mereka tak pernah bersentuhan barang seujung kuku, tapi hati mereka diselimuti nafsu yang berkedok rasa cinta.
“Harusnya saat itu aku langsung menyuruhmu menemui orang tuaku, bukan seperti ini” ucapnya lirih. Kia berjalan pelan, pandangan semua panitia tertuju padanya. Perdebatan antara Kia dan Rasyid membuat seisi ruangan memandang sinis padanya.
“nggak nyangka, ternyata alim gitu bisa pacaran”
“Sok alim banget, sok nggak mau disentuh ternyata pacaran juga”
“Apa gunanya selalu ikut kajian ilmunya nggak masuk dalam otak sama sekali, masih kegenitan sama lawan jenis, nggak tau batasan. Nyesel banget pernah ngefans sama dia.”
“Jadi selama ini Cuma buat kedok doang, biar dibilang alim. Hah nggak nyangka” begitulah kira-kira cacian yang mereka lontarkan.
Lalu dimana Ardi ? Ardi sedang mengembalikan peralatan milih fakultas teknik, jadi dia tak melihat apa yang barusan terjadi.
Kia masih terus melanjutkan langkahnya tanpa mau peduli dengan orang-orang yang secara terang-terangngan mengolok-olok dirinya. Sepanjang jalan air mata Kia tak bisa dibendung, kata-kata Rasyid membuatnya sadar kalau selama menjalin hubungan dengan Ardi, dia menjadi lebih sering memegang ponsel dari pada Al-Qur’an. Lebih sering membaca pesan dari pada mentadaburi Al Qur’an.
“Astagfirullah....” ucap Kia kemudian berjongkok sambil menangis ketika dia sudah berada di luar aula. Tubuhnya bergetar, Kia menangis sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Menyadari kesalahan yang sebulan ini dia lakukan. Istigfar tak henti terucap dibibirnya.
“Maafkan aku Ya Allah, aku tenggelam dalam rasa cinta semu oleh makhlukmu dan aku lupa terhadap cinta yang kau berikan padaku” ucap Kia lirih. Ardi yang baru saja sampai dari tempatnya mengembalikan barang terlihat kaget melihat Kia terduduk dilantai.
Dengan langkah cepat Ardi mendekati Kia dan mensejajarkan duduknya dengan Kia. Kia tak menyadari kehadiran Ardi karena masih merenungi kesalahannya.
“Kia kamu kenapa ?” tanya Ardi membuat Kia tersentak dan mendongakkan kepalanya. Ardi terlihat terkejut melihat Kia dengan mata sembab serta air mata yang masih membasahi pipinya. Reflek Tangan Ardi ingin menyentuh pipi Kia untuk menghapus airmatanya. Tapi Kia langsung berdiri ketika tangan Ardi sudah tepat berada di depan pipinya. Ardi yang menyadari kesalahannya langsung ikut berdiri.
“Maaf Ki aku tadi..”
“Kak boleh aku minta sesuatu ?” ucap Kia memotong permintaan maaf Ardi dan dalam posisi menunduk.
“Iya, tapi kamu kenapa ? siapa yang bikin kamu...”
“Kak Ardi bersedia menikahiku dalam waktu dekat” ucap Kia lagi-lagi memotong perkataan Ardi.
“APA ?” tanya Ardi mencoba menajamkan pendengarannya.
“Kak Ardi bersedia menikahiku dalam waktu dekat ?” ucap Kia mengulangi perkataannya.
“Aku akan menikah denganmu Ki dalam waktu dekat, setelah lulus aku langsung memintamu ke orang tuamu” ucap Ardi dengan penuh kesungguhan.
Ada rasa perih dalam hati Kia, rasanya seperti ribuan pisau menusuk jantungnya. Orang yang dia cintai ternyata hanya bisa mampu meninggalkan janji. Janji yang tak tau akan menjadi nyata atau hanya sekedar khayalan. Kia terdiam dan tersenyum miris mengejek dirinya sendiri yang terjerumus dalam kata-kata manis manusia yang mengatasnamakan cinta.