“Kak Ardi bersedia menikahiku dalam waktu dekat” ucap Kia lagi-lagi memotong perkataan Ardi.
“APA ?” tanya Ardi mencoba menajamkan pendengarannya.
“Kak Ardi bersedia menikahiku dalam waktu dekat ?” ucap Kia mengulangi perkataannya.
“Aku akan menikah denganmu Ki dalam waktu dekat, setelah lulus aku langsung memintamu ke orang tuamu” ucap Ardi dengan penuh kesungguhan tapi Kia hanya tersenyum miris mengejak dirinya sendiri.
“Apa kak Ardi yakin dengan kata-kata Kak Ardi ?” Kia mendongakkan kepala dan menatap Ardi dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Maksudmu ?”
“Apa kak Ardi lupa bawasannya kita manusia menunggu giliran untuk menghadap Allah ? Apa Kak Ardi yakin masih ada di dunia ketika kakak lulus kuliah nanti ?” tanya Kia dengan nada yang cukup mengintimidasi.
“Kamu kenapa si Ki ? kenapa kamu jadi begini ? dari aku mengungkapkan perasaanku ke kamu aku udah bilang kalau aku akan menikahimu saat aku lulus dan kamu menyetujuinya apa kamu lupa ?”
“Aku tidak lupa kak, aku sangat ingat. Sangat amat ingat kebodohanku yang juga mengungkapkan perasaanku pada kakak. Aku sangat ingat bahwa selama itu aku telah menabung banyak dosa ketika bersama kakak. Aku juga ingat ketika ibadahku berakhir sia-sia karena dekat dengan kakak” ucapnya dengan nada bergetar menahan tangis karena menyadari kebodohannya.
“Karena aku ? kenapa ? aku selalu membangunkanmu saat sholat tahajud, aku selalu mengajakmu puasa sunnah, aku selalu mengingatkanmu sholat, lalu dimana salahku ?” ucap Ardi dengan tanpa merasa berdosa.
Kia tertawa miris mendengar pembelaan Ardi, kemudian kembali menatap Ardi “maaf kak aku lupa, semuanya salahku. Aku lupa bahwa ada Malaikat yang selalu membangunkanku untuk sholat tahajud, aku lupa ada hadist nabi yang mengajakku untuk puasa sunnah, dan aku lupa kalau ada adzan yang selalu mengingatkanku untuk sholat. Aku lupa kebesaran Allah, aku lupa cinta Allah sehingga aku berani-beraninya memberi cintaku pada laki-laki yang jelas-jelas bukan mahramku”
“Kamu sebenarnya kena...”
“Jauhi aku !” ucap Kia dengan nada dingin dan penuh dengan penekanan.
“Tap..”
“Please kak jangan buat aku semakin menambah dosa dengan terus dekat denganmu” ucap Kia dengan nada lirih
“Tapi aku serius denganmu Ki”
“Serius kakak bilang ? saat aku tanya tadi kakak akan menikahiku tapi bukan secepatnya tapi menunggu kakak lulus. Lalu berapa banyak dosa lagi yang harus aku tanggung hanya untuk memenuhi obsesiku menikah dengan kakak ? apa kakak yakin saat itu datang Allah mengizinkan kita bersama ? apa kakak bisa jamin kalau kakak akan melamarku lebih dulu dari pada malaikat izrail ?” ucap Kia dengan penuh amarah. Diam, Ardi hanya bisa diam mendengarkan setiap perkataan Kia yang memang benar adanya.
“Kak obatnya orang jatuh cinta adalah menikah, dan jika tak sanggup untuk menikah maka menjauh. Menjauh sebelum setan membisikan nafsu dan ego untuk berbuat lebih. Kalau kita jodoh insyaAllah kita akan dipersatukan oleh-Nya dengan cara yang nggak akan kita bayangkan. Aku pamit. Assalamu’alaikum” ucap Kia kemudian pergi dari hadapan Ardi.
“Wa’alaikumsalam” ucap Ardi setelah Kia menjauh darinya.
Hancur itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan hati Ardi saat ini. Ardi hanya bisa membeku menatap punggung Kia yang terlihat naik turun mungkin karena masih menangis. Ingin rasanya Ardi mendatangi langsung kedua orang tua Kia tapi lagi-lagi niatan tersebut terhalang oleh pemikirannya.
“Aku mau sekarang juga nikahin kamu Ki, tapi bagaimana nanti aku menafkahi kamu ? dimana kita akan tinggal setelah menikah ? aku hanya pekerja parttime gajiku nggak seberapa Ki. Aku hanya nggak mau buat kamu menderita karena nikah sama aku nantinya. Aku hanya ingin kamu menunggu aku sebentar saja” ucapnya lirih sambil menatap Kia penuh dengan keputusasaan. Ardi lupa bahwa Allah akan membantu umatnya yang memiliki niat baik untuk menyempurnakan separuh agamanya.
Kia terus berjalan menuju tempat dimana dia bisa menumpahkan semua kekecewaan, kekesalah, dan semua rasa yang berkecamuk dalam hatinya saat ini. Kia menuju masjid terdekat, dan berjalan kearah tempat wudhu.
“asyhaduallailaahaillallaahu wahdahulaasyarikalah, wa asyhadu Anna muhammadan’abduhu warasuuluhu” ucap Kia lirih sebelum menyalakan keran air untuk membasuh tangannya.
“Nawaitu wudhuu’a liraf’il hadatsil ashghari fardhallillaahi ta’aalaa” lanjutnya saat air keran yang sejuk mulai membasahi telapak tangannya. Tak lupa Kia memanjatkan doa memohon kebaikan terhadap anggota tubuhnya ketika terkena air wudhu.
Kia menengadahkan kedua telapak tangannya dan menghadap kiblat seraya berdoa “Asyhaduallaa ilaahaillallahu wahdahuu laasyarikalahu wa asyhadu Anna muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhuu, Allaahummaj’alnii minat tawwaabiina waj’alnii Minal mutathahhiriin”
Diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dalam hadist Bukhari, Rasulullah bersabda “Allah tidaklah menerima sholat salah seorang diantara kalian ketika ia berhadats sampai ia berwudhu” .
Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang, apakah dia akan melakukan sholat dhuhur ? jawabannya tidak Kia sudah sholat dhuhur ketika waktu isoma. Kia berniat untuk melakukan sholat taubat. Loh kok bisa ? bukannya sholat taubat harusnya dilakukan malam hari ya ? tidak, sholat taubat menjadi sholat dengan waktu yang mutlak pelaksanaannya artinya sholat taubat bisa dilakukan kapan saja selama tidak dalam waktu yang diharamkan untuk sholat. Apalagi bagi orang yang sudah tau kesalahannya maka dianjurkan untuk segera menunaikan sholat taubat tanpa harus menunggu datangnya malam.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 22 “sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.
Serta dalam surat At-Tahrim ayat 8 yang artinya “hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai” dari dua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa sholat taubat sangat dianjurkan untuk mensucikan diri.
Kia mulai melafalkan niat sholat taubat dua rakaat dengan suara yang bergetar karena mengingat setiap dosa yang dia lakukan. Kia membaca doa iftitah setelah takbir, surah Al-fatihah dan surah Al Gasyiyah untuk mengingatkannya akan adanya hari dimana amal akan mendapat balasan dan pada rakaat kedua membaca surah Al-Alaq untuk mengingatkan bahwa dia hanyalah segumpal darah yang hina dan diberi kehidupan atas izin Allah. Setelah salam Kia beristigfar dan bertasbih
“Astagfirullahalladzii laailaaha illahuwalhayyul qayyuumu wa atuubu ilahi” lirihnya hingga seratus kali. Air mata Kia lagi-lagi tak dapat dibendung, kilatan kebersamaannya dengan Ardi membayanginya hingga membuatnya terisak hingga orang yang tak sengaja mendengarnya ikut merasakah kepedihan hati Kia. Setelah berdzikir tak lupa Kia memohon agar Allah mengampuni semua dosanya, dan ia berjanji akan menjaga hatinya hingga tiba saatnya dia yang Allah tuliskan namanya di lauhul Mahfudz datang memintanya kepada orang tuanya.
Zahwa yang diam-diam mengikuti Kia-pun ikut mengangis melihat Kia bersimpuh dan menyesali perbuatannya. Sejak awal Zahwa tau bahwa Kia memang menjalin hubungan tanpa status dengan Ardi. Tapi ketika Zahwa mengingatkan Kia, dia malah menganggap Zahwa tak mengerti apa yang dia rasakan dan tak mernah menjadi sahabat yang mendukungnya dalam kebaikan. Jujur Zahwa marah dengan Kia. Rasa marahnya bersarang hingga saat Kia diolok-olok oleh teman-teman panitia saat di aula, Zahwa hanya diam walaupun sebenarnya dia ingin membela Kia. Tapi Zahwa menahan diri, dia sanyang pada Kia jadi Zahwa membiarkan hal itu terjadi dengan harapan Kia bisa tersadar dari kesalahannya. Zahwa juga melihat pertengkaran Ardi dan Kia tanpa terlewat sedikitpun. Zahwa tau semuanya. Setelah Kia selesai memanjatkan doa, Zahwa langsung memeluk Kia dari belakang.
“Ki..ki..kia ma..maafin aku tadi aku nggak bantuin kamu saat mereka semua mengolok-olok kamu”
“Zahwa ?” ucap Kia terkejut “Sejak kapan kamu di sini ?” lanjutnya.
“Aku tau semuanya, aku mengikutimu sejak kamu menghampiri kak Rasyid hingga sekarang kamu di sini. Aku...aku hanya ingin kamu sadar bahwa kamu salah ki”
“Iya Wa...aku sadar.. sangat sadar akan kebodohanku yang tak pernah mendengar nasehatmu. Yang tiba-tiba menjauhimu karena menganggapmu nggak sayang sama aku. Aku minta maaf” ucap Kia membalas pelukan Zahwa.
Pandangan tersebut tak luput dari Rasyid yang ternyata langsung ke masjid setelah pertemuannya dengan Kia di aula. Senang bukan main saat tau Kia sudah menyadari kesalahannya. Tapi dia juga sedih karena perempuan yang dicintainya merasakan patah hati yang sangat mendalam. Rasyid kemudian melanjutkan kegiatannya membaca Al-Qur’an setelah kegiatannya terhenti karena ketidak sengajaannya mendengar isakan yang begitu mengiris hati.
Kia masih memeluk erat Zahwa, sahabatnya yang selama beberapa Minggu ini dia jauhi. Maaf adalah kata yang terus dia ucapkan ketika memeluk erat sahabatnya itu. Kia menjauh dari orang-orang yang mau berjalan bersamanya ke jalan Allah dan malah mendekati orang yang membuatnya mendapatkan murka Allah. Orang yang dia cinta ternyata tanpa dia sadari membuatnya semakin berdosa.