Waktu berjalan begitu cepat, meskipun menurut Kia waktu berjalan sangat lambat. Setelah hari itu Kia lebih menyibukan diri dengan selalu mengikuti kajian yang di adakan diluar kampus. Bukan tanpa alasan, Kia ingin menghindari Ardi yang sudah pasti selalu ikut kajian yang diadakan oleh pihak kampus.
Semenjak kejadian itu juga Kia tak pernah membalas pesan atau mengangkat telfon dari Ardi. Saat Ardi datang ke Kos pun Kia tak pernah mau menemuinya. Semester depan Ardi akan melakukan pertukaran pelajar di luar Negeri. Hal ini dikatahui Kia dari pesan chat yang selalu Ardi kirimkan untuknya. Meskipun tanpa ada balasan, Ardi selalu memberi kabar kepada Kia hampir setiap saat. Hingga setelah UAS, menjelang liburan semester Kia mengganti nomor ponselnya. Kia hanya memberi tahu nomornya kepada sahabat-sahabatnya yaitu Ana, Zahwa, Riko, Dika, teman Kos dan teman serombelnya.
Meski berat untuk mengikhlaskan, tapi Kia berusaha untuk menjauh sejauh-jauhnya dari Ardi. Bukan karena tidak sayang, justru karena sayang Kia kepada Ardi sangat besar membuat Kia bertekat untuk melepaskan Ardi.
Hari ini Kia akan pulang kampung, bertepatan dengan Ardi yang akan terbang ke luar negeri untuk memulai pertukaran pelajar selama 1 tahun. Sudah dipastikan bahwa Ardi akan lulus di semester 9 atau sepuluh. Hal ini karena setiap mahasiswa yang menjalani pertukaran pelajar dianggap mengambil cuti.
Kia, Zahwa, Riko dan Dika janjian untuk bertemu di stasiun mereka akan pulang kampung bersama. Karena memang mereka satu kabupaten dan urusan mereka mengenai nilai dan administrasi lain selesai maka mereka memutuskan untuk pulang bersama.
“Beb kok kamu sekarang diem si ?” celetuk Riko
“Beb...beb opo... beban ?” ucap Kia dengan nada kesal
“Nah ini baru Kia yang aku kenal” ucap Dika
“Ki, aku tadi dapat WA dari Ana, katanya ada....”
“Weh tuh keretanya udah sampai, kuy lah naik” ajak Riko.
Mereka akhirnya menaiki kereta menuju rumah mereka. Riko duduk dengan Dika di depannya ada Kia dan Zahwa. Kia melihat Zahwa yang tertidur sejak beberapa saat naik kereta, Kia menengok belakang dan melihat Riko tengah tertidur. Sedangkan Dika, entah dimana dia sekarang karena bangkunya kosong. Kia ingin pergi ke toilet untuk membasuh mukanya, tapi saat melewati gerbong tiga, Kia melihat Dika sedang menatap luar jendela dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Assalamu’alaikum” salam Kia mengagetkan Dika terlihat dari lonjakan kecil di bahunya.
“Wa’alaikumsalam, nggak tidur Ki ?” Kia menggeleng kemudian mengambil tempat duduk di depan Dika.
“Kalau udah mantep, udah yakin langsung lamar. Jangan kaya aku” ucap Kia menatap luar jendela mengikuti pandangan Dika.
“Susah Ki, hatinya masih ada orang lain” ucap Dika dengan nada lirih.
“Dik tau nggak ? yang ngasih kabar tiap hari akan kalah yang datang ke rumah dan memberikan mahar dan menjadikannya istri” Kia menghela napas.
“Jangan sampai mengungkapkan perasaan sebelum waktunya, jangan seperti aku... bahagia di awal tapi akhirnya menyedihkan” ucap Kia sambil tersenyum mengejek dirinya.
“Tapi feeling ku ya, aku nikahnya setelah kamu deh” Kia mengerutkan dahinya.
“Yah... mana ada ? ada juga kamu dulu yang udah mantep. Jangan sampai keduluan orang” ucap Kia
“Iya aku yakin kok kalau aku nikahnya nanti setelah kamu nikah” Kia memutar bolamatanya malas kemudian beranjak ke kamar mandi.
“Udah aku mau kekamar mandi mau cuci muka” ucap Kia
“Allah udah menyiapkan seseorang yang terbaik buat kamu Ki, aku turut bahagia buat kamu. Dan aku janji akan menyusul ketika kamu sudah sah jadi seorang istri” ucap Dika setelah Kia menghilang dari hadapannya.
***
Setelah kurang belih 2 jam, Kia dan teman-teman sudah sampai di stasiun tujuan mereka. Di stasiun tersebut sudah ada keluarga yang menjemput mereka. Kia yang di jemput oleh ayahnya langsung berpamitan dengan teman-temannya.
Sampai di rumah Kia mencium tangan ibunya dan memeluknya. Kurang lebih 3 bulan sudah Kia tidak pulang kampung karena tugas, dan urusan organisasi yang tidak bisa ditinggal. Kini Kia merasa sangat bahagia karena akan menghabiskan 1 bulan waktu liburnya bersama ayah,ibu serta adiknya.
“Alhamdulillah anak ibu yang paling cantik udah pulang” ucap ibu Kia yang langsung memeluk Kia.
“Alhamdulillah bu, maafin Kia ya bu nggak bisa menyempatkan waktu buat pulang”
“Iya nggak apa-apa kamu udah sampai rumah sekarang ibu udah bersyukur”
“Alah ibu bohong mba, orang tiap malam ibu mengigau panggil namanya mba Kia” kata Zaki adik Kia.
“Iya lho nduk ibu mu sering sekali mengigau manggil kamu. katanya ibu, kamu hampir jatuh ke jurang” saut ayah Kia. Kia kemudian memandang ibunya dan memeluknya kembali.
Ikatan batin seorang anak dan ibu memang sangat kuat bahkan hingga terbawa mimpi. Kenyataannya memang Kia hampir saja terjerumus ke dalam dosa, dan Kia bersyukur karena Allah menyadarkan Kia lewat Rasyid.
“Kenapa nduk kamu nggak apa-apa to, apa ada yang sakit ?” tanya Ibu Kia saat melihat anaknya memeluk erat dirinya.
“Mba nggak apa-apa kok bu, oh iya ibu masak apa ? Kia kok lapar ya bu”
“Iya ibu masak makanan kesukaanmu, ada sayur sob ayam, tempe krispi, sambal kentang sama udang juga ada” ucap ibu Kia.
“Iya deh kalau mba Kia di rumah selalu jadi ratu” ucap Zaki dengan nada merajuk.
“Ya udah, besok mba masakin makanan kesukaan Zaki” ucap Kia pada sang adik yang sekarang kelas 2 SMA
“Serius mba ?” Kia menggangguk dan disambut teriakan girang dari Zaki.
“Eh bu, biar mba Kia bersih-bersih dulu to. Masak langsung makan. Masih bau asem tuh badannya” ucap ayah Kia
“Oh iya, kan Kia jadi lupa gara-gara masakan ibu si. Kia bersih-bersih dulu ya bu, yah” Ucap Kia yang diangguki Ibu dan ayah Kia.
Kamar Kia berada di lantai bawah, karena memang rumah Kia hanya terdiri dari satu lantai, ayahnya seorang pegawai swasta dan ibunya sebagai ibu rumah tangga yang memiliki warung Sembako di depan rumah. Meskipun dari keluarga yang sederhana, Kia merasa bahagia karena ke dua orang tuanya selalu mengajarkan untuk selalu bersyukur dan menyempatkan waktu untuk berbincang. Itulah sebabnya, keluarga Kia sangat dekat satu sama lain.
****
Setelah makan malam, entah mengapa Kia ingin sekali menceritakan semua masalahnya. Kia terlihat mondar-mandir di dalam kamar padahal di depan ayah, ibu serta adiknya sedang menonton ceramah yang di siarkan oleh stasiun TV lokal. Dengan langkah ragu Kia keluar kamar dan duduk diantara ayah dan ibunya.
“Mba Kia kenapa nduk ?” tanya ibu Kia ketika melihat anaknya yang sedang gelisah.
“Anu.. bu itu... emt...”
“Alah mba..mba gitu aja bingung to.. am...em.. ona...anu mbok ya yang jelas gitu kenapa” ucap Zaki yang terlihat geregetan melihat sang kakak yang tak kunjung bicara.
Kia menghembuskan napas panjang dan mulai menceritakan semua tentang Ardi hingga dia sadar akan kesalahannya karena ceramah Rasyid.
“Astagfirullah nduk, ayah jauh dari kamu nggak bisa jaga kamu. Maafin ayah ya. Ternyata perasaan ibumu benar kalau kamu sedang ada masalah. Tapi ayah selalu menenangkan ibumu dan bilang kalau kamu baik-baik saja. Maafkan bapak ya nduk” ucap ayah Kia kemudian memeluk anaknya.
“Ndak ayah... ini salah Kia, Kia yang terlalu terbuai dengan kesenangan dunia, hingga Kia nggak memikirkan ayah nanti ketika dimintai pertanggung jawaban atas Kia. Kia minta maaf sama ibu dan ayah sama Zaki juga. Kia hampir saja menyeret kalian ke tempat yang paling buruk” ucap Kia dengan mata berkaca-kaca.
“Iya nduk ibu juga bersyukur, secara tidak langsung teman kamu itu menyadarkan kamu. Walaupun kata-katanya cukup pedas” ucap Ibu Kia
Malam itu menjadi malam terbaik bagi Kia karena bisa dengan leluasa mengungkapkan kesalahannya kepada kedua orangtuanya. Bukan amarah yang dia dapat, tetapi nasihat, petuah, bahkan permintaan maaf yang seharusnya tidak mereka lakukan. Kia sangat bersyukur memiliki orang tua yang baik, tidak pernah menghakimi anaknya, selalu mendukung dalam hal kebaikan dan tak lupa selalu sabar dalam menghadapi dia dan adiknya. Kia sadar bahwa cinta yang halal untuknya saat ini hanyalah cinta keluarga dan sahabatnya.
“Alhamdulillah ya Allah kau berikan keluarga yang sangat sempurna padaku” ucap Kia dalam hatinya.
***