Hari-hari berikutnya Kia membantu ibunya untuk menunggui toko Sembako yang ada di depan rumah. Ada kalanya Kia ikut memasak dan membersihkan rumah. Acara kajian tetap jalan, karena memang dilingkungannya sering diadakan pengajian mingguan dan kajian senja. Lambat laun Kia pikiran Kia tentang Ardi mulai terkikis karena kesibukannya untuk memperbaiki diri bersama dengan keluarganya.
“Astagfirullah nduk ibu lupa minta tolong ayah untuk membeli stok gula di toko grosir langganan kita, padahal ada pesanan Sembako dari ibu-ibu jamaah untuk santunan” ucap Ibu Kia saat melihat stok gula ditokonya mulai menipis.
“Ya udah bu, biar Kia saja yang beli sama Zaki, mumpung Zaki lagi libur. Sekalian Kia mau beli Surabi Solo yang ada di depan toko Sembako bu” ucap Kia
“Udah ndak udah, nanti aja nunggu ayah pulang, lagian gulanya masih butuh 2 karuh, belum lagi Mie instan sama kopi instannya juga habis. Takutnya kamu keberatan”
“Ibu ini lho apa ya lupa ? kan disana ada tukang panggul lagian aku sama Zaki kan bawa mobil bak-nya ayah. Bisalah... Nanti kalau nunggu ayah pulang, apa ibu nggak kasian ayah cape lho bu” ucap Kia. Akhirnya Ibu Kia menyetujuainya dan membiarkan Kia pergi ke toko grosir langganan dengan Zaki.
Ibu Kia memberikan list belanja yang habis dari toko mereka. Lumayan banyak tapi karena mereka menggunakan mobil bak jadi sekalian belanja semua keperluan toko. Sebenarnya Zaki sangat malas karena harus menyetir mobil di hari Minggu karena sudah dipastikan jalanan akan sangat ramai.
“Mba Kia ini lho suka banget ngganggu ketenanganku tau ndak” gerutu Zaki
“Halah dari pada kamu main game terus nggak ada faedahnya mending nyetirin mba sambil bantuin ibu”
“Alah mba Kia itu modus og palingan mau beli surabi yang di depan toko kan. Pakai alesan bantuin ibu” Kia hanya bisa nyengir karena memang perkataan Zaki benar adanya.
Kia dan Zaki hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ketok grosir. Mereka langsung memberi list belanja pada karyawan toko, kemudian mereka akan dengan sendirinya menyiapkan pesanan dan sekalian membawanya ke atas mobil bak mereka. Setelah semua pesanan ibu naik ke mobil bak dan Kia sudah setelah memebeli Surabi kesukaannya, mereka langsung pulang.
“Astagfirullah mba Kia, itu beli surabi dua kantong keresek buat siapa to ?” ucap Zaki Saat Kia menenteng dua kantung penuh dengan surabi.
“Buat stok Za, sama nanti temennya mba Kia mau kesini. Mereka kan pada suka serabi ini”
“Mba-mba Cuma buat 3 orang aja belinya buanyak e pol udah kaya mau lamaran aja”
“Ha...ha..ha lamaran gundulmu, ya kali ada yang mau sama mba mu ini, sekalinya mau malah ngajak berbuat dosa ya mba tolak lah. Eh tapi nanti kalau mba beneran di lamar orang semua keinginanmu bakal mba turuti” ucapnya kepada Zaki
“Beneran mba ?” ucap Zaki nggak percaya, kemudian diangguki Kia
“Ya Allah semoga ada orang yang bakal ngelamar mba Kia” ucap Zaki sambil menengadahkan tangannya ke atas dan membuat Kia takut.
“Astagfirullah dek tanganmu ! kamu mau buat kita celaka ? doain si doain tapi jangan pas nyetir gitu dong” omel Kia pada Zaki
“Ya maaf mba refleks og”
Zaki kembali memfokuskan diri untuk menyetir sedangkan Kia masih fokus dengan surabi yang sedang dia makan. Saat mulai dekat dengan rumah Kia melihat 3 motor berjajar di depan rumahnya.
“Ki itu kayaknya teman-teman mba udah pada dateng deh” ucap Kia sambil menunjuk motor yang berjajar.
“Weh kok 3 ? emang mas Dika bawa motor sendiri ? tapi kok motornya itu ? apa baru ya motornya ? Keren bener, nanti mau pinjam deh” ucap Zaki mengingat sebelumnya pasti Dika boncengan dengan Riko sedangkan Zahwa selalu bawa motor sendiri.
“Wah iya Za kayaknya motornya si Dika baru nih. Alhamdulillah bakalan dapet traktiran” ucap Kia girang. Setelah ada di depan toko, Zaki dengan sigap menurunkan barang dibantu oleh seorang pegawai toko sembakonya. Kia yang senang langsung membawa dua kantong plastik serabi dan langsung masuk rumah.
“Assalamu’alaikum ya sahabat kurang azemku, aku bawain su...rabi” ucap Kia memelankan kalimat terakhirnya karena melihat seseorang yang bukan temannya ikut duduk bersama mereka.
“Wa’alaikumsalam ya Zau... awww” ucap Riko yang terpotong karena injakan kaki orang asing yang kini berada di dekatnya.
“Kok kamu di sini si ?” ucap Kia sinis “Siapa nih dalang yang ngajak nih orang asing kesini ?” ucap Kia mencak-mencak.
“Astagfirullah Mba Kia... ada apa to teriak-teriak ? ibu sampek kaget loh ini” ucap Ibu Kia yang tiba-tiba masuk mendengar Kia teriak-teriak.
“hehe maaf bu. Kia Cuma keget aja ini ada tamu nggak diundang ikutan dateng ke sini” ucap Kia melirik sinis ke arah orang tersebut.
“Loh dia udah izin ayahmu lewat telepon tadi malem”
“Ha ? gimana-gimana tadi bu ? izin ayah ? kok bisa ?” ucap Kia kebingungan.
“Yo bisa to nduk, lagian kamu bilang nggak diundang ? terus apa tadi orang asing ? kamu aja sering cerita tentang mas Rasyid kok bilang orang asing” ucap Ibu Kia yang membuat Kia melotot karena kaget dengan kata-kata ibunya. Orang yang Kia bilang asing itu ternyata adalah Rasyid, tunggu dulu ? telepon ayah ? kok bisa ? batin Kia bertanya-tanya.
“Ibu....” ucap Kia berbisik sambil melirik ke arah ibunya.
“Udah-udah ibu ke warung dulu sambil nunggu ayah pulang. Anak-anak ibu tinggal dulu ya” ucap Ibu Kia kemudian kembali ke warungnya.
“Bu tunggu dulu, tadi Ibu bilang telepon ayah ? kok bisa ? dia bilang apa aja ke ayah bu ? pasti dia jelek-jelekin Kia kan bu ?” Ibu Kia hanya geleng-geleng mendengar serbuan pertanyaandari anaknya.
“Ck nduk jangan suudzon, dia kesini ada keperluan sama ayah ada sesuatu yang harus dia bicarakan katanya” Kia mengertutkan keningnya ingin bertanya lagi tapi sepertinyaada p3langgan toko yang memanggil beliau.
“udah ibu mau l@yanin pembeli dulu, kamu sana main sama teman-temanmu aja” Ucap Ibu Kia kemudian pergi.
Ketika teman-teman Kia sedang asyik dengan permainan yang biasanya mereka mainkan, Kia yang kesal dengan kedatangan Rasyid langsung mendekati Rasyid dan menatapnya dengan tatapan sengitdan kedua tangannya di pinggang.
“Kakak ngapain si ngikutin temen-temenku kesini ? bikin badmood aja”
“Maaf Ki, kalau aku bikin kamu nggak nyaman”
“Nah itu tau, kenapa nggak langsung pergi aja si ?” ucap Kia ketus
“Ki maaf ya bukan aku mau ceramah atau gimana, aku cumamau ngingetin kamu tentang menerima tamu dalam Al-Qur’an Surah Al-Hijr ayat 51-54 yang artinya ‘Dan kabarkanlah kepada mereka tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan Salaam. Ibrahim lalu berkata “sesungguhnya kami merasa takut padamu” mereka berkata “janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu (kelahiran seseorang) anak laki-laki (yang akan menjadi orang yang alim”. Ibrahim berkata “apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakan (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?’ nah dari sini kita tau kalau wajib hukumnya menerima tamu apalagi jika seorang tamu membawa kabar gembira”
“Lah maaf ya kak, Alhamdulillah kalau kabarnya gembira. Tapi kalau kakak yang kesini aku yakin kabarnya pasti buruk. Udah deh kak, sebenarnya kakak kemari tujuannya apa ?”
“Maaf Ki, aku ada urusan sama ayah dan ibumu. Aku terikat janji sama seseorang yang pernah aku buat patah hatinya karena perbuatanku” ucap Rasyid dengan nada seperti orang yang menyesal.
Kia semakin dibingungkan dengan kata-kata Rasyid, apa tadi ? patah hati ? siapa yang dia buat patah hati ? lalu apa hubungannya dengan ayah dan ibuku ? batin Kia bertanya-tanya.
“Terserah kakak deh udah males banget aku” ucap Kia kemudian pergi dari hadapan Rasyid.
“Aku kesini karena pesanmu waktu itu Ki” lirih Rasyid menatap Kia nanar.