“Terserah kakak deh udah males banget aku” ucap Kia kemudian pergi dari hadapan Rasyid.
Kia melangkah mendekati Zahwa dan Riko yang tengah bermain catur. Dan mendudukan diri di sebelah Zahwa dengan kasar.
“Siapa si yang ngajak dia kesini ?” ucap Kia dengan nada ketus sambil melirik Rasyid yang duduk dan sedang berbincang dengan Dika.
“Ya si Dika lah, masak aku yang ngajak” ucap Riko sambil memindahkan letak bidak putih miliknya.
“Terus ngapain di ajak si ? kalian kan tau aku lagi males banget sama tu orang”
“Katanya Dika, kamu yang nyuruh dia kesini” ucap Zahwa sambil melajukan bidak hitam miliknya
“Aku ? kapan ? ngarang banget si” ucap Kia mengarah kepada kedua temannya yang masih serius memainkan catur.
“kalian dengerin aku nggak si” ucap Kia kesal
“Denger...” ucap Riko dan Zahwa bersamaan tapi mata dan tangan mereka masih aktif menggerakan bidak-bidak catur milik masing-masing.
“iiihhhh nyebelin banget si kalian” ucap Kia kemudian mengambil paksa papan catur yang sedang dimainkan Zahwa dan Riko.
“Astagfirullah Kia...” ucap Zahwa dan Riko berbarengan lagi. Zahwa memberikan kode lewat mata kepada Riko, entah kode macam apa yang dia berikan tapi sepertinya Riko mengerti kode yang di berikan Zahwa. Riko langsung berdiri dan mengambil gitar yang bersandar di tembok yang ada di belakangnya.
“Kia jangan marah-marah....” Suara Riko menyanyikan lagu yang tengah viral dengan menggunakan gitar.
“Kia jangan marah-marah” diikuti Zahwa sebagai suara dua.
“Takut nanti lekas tua” Lanjut Riko
“Nanti lekas tua” diikuti Zahwa
“Abang setia orangnya.. takkan pernah mendua...”
“Stooopppp...” ucap Kia dengan suara keras kemudian berdiri dihadapan Riko dan Zahwa.
“kalian bener-bener ya.. bisa aja bikin aku darah tinggi tau nggak”
“Istigfar Ki...Istigfar Cuma bercanda kok. Lagian kamu gangguin kita lagi main si iya nggak Rik ?” ucap Zahwa mencari pembelaan dan hanya diangguki Riko
“Ta’awudzdulu baru istigfar. ‘audzubillahiminassyaithonirrajim. Astagfirullah ‘aladzim..maafkan hamba ya Allah” Kemudian Kia duduk sambil beristigfar.
“Kenapa diem Ki ?” tanya Riko
“Riko... gitu aja nggak tau. Kalau orang lagi marah ya dia diam”
“masa ? emang ada haditsnya?” tanya Riko dengan nada mengejek sedangkan Zahwa memutar bola matanya malas
“Ck.. gitu aja nggak tau.. nih ya kalau marah lebih baik diam itu ada di hadis riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘jika kalian marah diamlah’ terus lagi kenapa dia duduk ? haditsnya ada di hadis riwayat Ahmad juga tapi dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa salam menasehatkan ‘apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk...”
“Karena dengan itu marahnya hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur” sahut Riko sebelum Zahwa melanjutkan bicaranya.
“Kalau itu aku udah tau, kan aku Cuma tanya kenapa Kia diem nggak tanya kenapa dia duduk” ucap Riko mengejek
“Udah deh nggak usah debat terus, heran aku sama kalian selalu aja bikin aku hipertensi. Dari zaman masih SMA sampai sekarang masih... aja selalu saingan, selalu bertengkar, selalu berdebat. Dan satu lagi selalu kompak bikin aku sama Dika pusing” ucap Kia yang membuat Zahwa yang ingin membalas ejekan Riko terdiam.
“Maaf..” ucap Zahwa dan Riko berbarengan.
Disisi lain Dika sedang berbicara serius dengan Rasyid tampak dari raut wajah mereka yang sangat serius.
“Serius bang kamu udah yakin ?” ucap Dika
“InsyaAllah Aku yakin, Setelah mendapat pesan dari Kia waktu itu aku mulai salat istikharah dan aku udah yakin sekarang” ucap Rasyid sambil tersenyum memandangi Kia terlihat sedang memarahi Riko dan Zahwa.
“Dia chat kamu ?” Rasyid mengalihkan pandangan ke arah Dika dan mengangguk.
“Duh anak itu.. malu-maluin aja” ucap Dika sambil mengusap wajah dengan telapak tangannya.
“Nggak lah Dik, justru karena dia chat begitu aku jadi sadar dan mulai memahami perasaanku yang sebenarnya. Aku juga nggak mau menyesal dikemudian hari karena aku yang nggak bisa gerak cepat”
“Bang.. abang beneran yakin sama Kia ? liat tuh kelakuannya ? dengerkan tadi dia teriak-teriak ? bang Rasyid nggak malu nanti kedepannya ? Nanti nyesel loh bang” ucap Dika memandang Kia dari kejauhan.
“Ya nggak lah Dik, justru itu yang membuat aku tertarik. Dari awal aku ketemu sama dia entah kenapa dia seperti magnet, tapi aku masih bisa menahan diri. Saat kedua kali kami bertemua aku semakin kagum karena ternyata dia adalah orang yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi” ucap Rasyid sambil tersenyum melihat Kia yang masih menceramahi Riko dan Zahwa yang masih saja berdebat.
“Iya tertarik sih tertarik bang.. tapi itu matanya tolong ditundukkan dulu lah. kan belum mahram” mendengar perkataan Dika, Rasyid menjadi salah tingkah dan mengusap tengkutnya sambil nyengir kuda.
“Astafirullah, maaf ya Dik nggak sadar tiba-tiba matanya selalu tertuju pada satu titik”
“Ck iya deh... tapi bang, kapan bang Rasyid mau ngomong sama ayahnya Kia ?”
“Insya’Allah pas nanti Ayahnya Kia pulang aku langsung bilang”
“wezeh... gercep banget bang. Yakin Kia mau sama abang ? dia baru aja broken Home... eh maksudnya broken heart loh”
“Iya aku tau Dik, tapi lebih baik mencoba kan dari pada nggak sama sekali. Kalau di terima ya Alhamdulillah berarti Allah memang menakdirkan Kia untuk aku. Kalau nggak, ya udah nggak apa-apa mungkin aku kurang baik buat Kia. Lagian aku datang kesini dengan kesiapan diterima dan ditolak kok” ucap Rasyid mantap dan Dika memberi tepukan bahu kepada Rasyid karena merasa bangga dengan laki-laki di depannya.
“Abang emang panutanku” ucap Dika
“Salah kamu Dik, panutan kita semua itu Rasulullah Saw”
“hehe iya... eh bang itu ayahnya Kia udah pulang. Mau langsung ?” ucap Dika ketika melihat Kia berdiri dan menyalami ayahnya.
Kia yang semula memarahi Riko dan Zahwa seperti anak kecil kemudian bangkit ketika ayahnya mengucap salam. Kia, Zahwa dan Riko ikut memberi salam kepada ayah Kia, kemudian disusul Dika dan Rasyid yang mendekat dan memberi salam.
“Wah ternyata kalian semua kesini, oh...ini ya yang namanya nak Rasyid ?” ucap Ayah Kia sambil mengusap bahu Rasyid sedangkan Rasyid hanya mengangguk dan tersenyum.
“Ayah kok bisa udah kenal kak Rasyid ?” ucap Kia dengan mata memicing. Ayah Kia yang gelagapan berusaha mengalihkan pembicaraannya.
“Eh mba, bisa nggak tolong beliin ayah martabak yang ada di alun-alun biar Zahwa sama Riko yang anterin” ucap Ayah Kia
“Lah siang-siang mana ada martabak yah ? adanya paling penjual gorengngan” ucap Kia
“Udah sana cariin. Tolong ya Nak Riko sama Zahwa temenin Kia” ucap Ayah Kia dengan memberikan kedipan mata sebagai kode untuk Riko dan Zahwa. Zahwa dan Riko yang tanggap langsung membawa Kia untuk pergi membeli martabak yang biasanya hanya ada di sore hingga malah mari.
“Huh... hampir saja saya keceplosan” ucap Ayah Kia setelah Kia, Riko dan Zahwa pergi.
“Oh iya, Nak Rasyid silahkan duduk anggap rumah sendiri ya” ucap Ayah Kia mempersilahkan Rasyid untuk duduk
“Saya nggak disuruh duduk pak” ucap Dika
“Alah Dik, kamu itu lho udah biasa kesini, udah sering nyelonong sampek kedapur, udah seperti pemilik rumah masak duduk aja disuruh” ucap Ayah Kia membuat Dika menyengir kuda.
Setelah Rasyid mengambil tempat duduk di depan ayah Kia dan Dika ada disampingnya. Rasyid mulai menarik napas untuk meredakan degup jantungnya yang tak menentu sejak ayah Kia menginjakkan kakinya di depan rumah.
“Jadi ada apa ini ?” ucap ayah Kia semakin membuat jantung Rasyid tak bisa diam.
“Bentar pak, biar bang Rasyid minum dulu, minum bang” ucap Dika sambil menyodorkan minuman kepada Rasyid. Setelah minum, Rasyid kembali menatap Ayah Kia kemudian menarik napas dalam-dalam.
“Ma..maksud kedatangan saya kemari, saya ingin menkhitbah Zazkia Nur Asyifa, putri bapak untuk menjadi pendambing hidup saya” ucap Rasyid mantap meskipun pada awal kalimat sempat tersendat karena gugup. Sedangkan Dika yang ada disampingnya menahan tawa karena mendengar perkataan Rasyid yang terbata-bata untuk pertama kalinya.
“Kalau ceramah aja los.. nggak ada hambatan giliran di depan camer kicep” lirih Dika tapi masih dapat didengar Rasyid, alhasil Dika mendapatkan pelototan maut dari Rasyid.
Diamnya ayah Kia membuat Rasyid semakin tak menentu dan tidak nyaman karena ayah Kia menatapnya dengan tatapan intens dan sulit diartikan.
“Ja..jadi gimana pak ?” ucap Rasyid setelah memberanikan diri karena ayah Kia masih diam. Ayah Kia terdengar menghela napas.
“Saya sangat tersanjung dengan niat dan keberanian kamu melamar putri saya, tapi apa kamu sudah tau kalau Kia pernah...”
“Ya pak saya tau. Saya hanya menyampaikan niat saya, setelah salat istikharah saya semakin yakin bahwa saya ingin menjadikan Kia sebagai wanita yang pertama dan terakhir saya. Saya ingin menjaga Kia, melindungi Kia dan saya juga ingin membuat Kia selalu bahagia. Saya sangat sakit ketika melihat Kia menangis waktu itu, saya juga nggak mau Kia kembali terjerumus dalam dosa lagi” ucap Rasyid mantap dan membuat Dika menatapnya sengat tatapan kagum.
“Saya yakin kamu pria yang baik, bahkan sangat baik. Tapi semua keputusan ada di tangan Kia karena Kia yang akan menjalani semua. Kalau saya sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk Kia”
“Tapi sebelumnya maaf pak, sebelumnya bisa saya meminta sesuatu ?” ucap Rasyid membuat Dika dan Ayah Kia heran.
***