Kia, Zahwa dan Riko pergi menggunakan mobil bak milik Kia. Sejujurnya Kia merasa heran dengan ayahnya. Tumben sekali ayahnya ini memintanya untuk membeli martabak, padahal sebelum-sebelumnya ayahnya selalu mengomel ketika melihat Kia sering membeli martabak, apalagi martabak telur. Alasannya karena terlalu banyak minyak lah, nanti batuk lah, nggak baik buat kesehatan lah dan sebagainya.
“Kalian ngerasa ada yang aneh nggak si sama ayah ?” ucap Kia bertanya kepada Riko dan Zahwa. Tanpa Kia ketahui Riko memberikan tatapan mata seperti kode untuk Zahwa.
“Em..ma..masak si nggak lah biasa aja deh kayaknya. Iya kan Rik ?” ucap Zahwa mencari dukungan dari Riko.
“Iya beb biasa aja deh, biasanya bapak juga suruh kita beli makanan”
“Iya tapi aneh aja masak ayah nyuruh beli martabak, biasanya kan suruh beli pukis, kue putu, kue balok..lah ini martabak lho MARTABAK” Kia menekankan kata martabak untuk yang kedua kalinya.
“A..apa masalahnya Ki ? martabak enak kok” ucap Zahwa yang tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Masalahnya apa ? masalahnya ayah nggak pernah suka kalau aku makan martabak zahwa..”
“i..itu mungkin nyidam kali Ki, kamu mau punya adik lagi kali” ucap Riko asal kemudian mendapat pelototan mata tajam dari Zahwa.
“Ah...masak si” ucap Kia polos sambil mengingat-ingat tingkah bapaknya selama ia di rumah.
“Udah...udah tuh liat disana ada martabak telur tuh. Tapi martabak telur mini. Mau nggak ?” ucap Riko ketika melihat tukang martabak mini.
“Nggak apa-apa deh lagian beda kulitnya doang rasanya sama aja” ucap Kia. Riko kemudian meminggirkan mobil baknya dan Kia turun untuk memesan martabak mini. Di dalam mobil Riko dan Zahwa mulai berbincang.
“Rik ngaco kamu ya, masak bilang bapak nyidam. Mikir dong kalau nyidam itu ya ibunya Kia bukan ayahnya” omel Zahwa
“Lah dari pada kamu kelihatan banget gugupnya. Udah gitu gagap pula ngomongnya udah kaya Aziz gagap diacara lawak” jawab Riko dengan nada lebih mengejek.
“Terus ini gimana ? langsung balik ?” tanya Riko
“Lah emang kak Rasyid udah selesai ngomongnya ?” Tanya Zahwa yang hanya dijawab dengan mengendikkan bahu.
“Ck..ya sono ditelpon lah, masak iya aku yang telepon”
“Telpon kak Rasyid ?”
“Bener-bener otakmu kayaknya pindah ke dengkul deh Rik, ya kali telfon kak Rasyid. Kalau kak Rasyid lagi ngomong serius sama bapak terus kamu telepon kan nggak sopan. Ya telepon Dika lah, dodol banget” ucap Zahwa merasa geregetan
“Ck..biasa aja nggak usah ngegas..” ucap Riko tak kalah sengit.
Ketika Riko menelepon Dika, Zahwa selalu mengawasi gerak-gerik Kia takut kalau saat mereka menelfon Dika, Kia mendengarnya. Riko dan Zahwa memang sudah tau dari awal bahwa Rasyid memiliki niat untuk mengkhitbah Kia tapi atas permintaan Rasyid, Zahwa, Riko dan Dika memilih diam. Saat pertama tau, Zahwa adalah orang yang paling bersemangat karena menurutnya Kia layak mendapatkan kebahagiaannya tanpa harus kembali terjerumus dalam dosa. Begitu pula Riko dan Dika mereka juga mendukung niat Rasyid, meskipun awalnya mereka mengajukan ujian khusus untuk Rasyid sebelum melamar Kia. Setelah lulus ujian dari Riko dan Dika, akhirnya mereka bertiga membantu Rasyid untuk meminta izin kepada ayah dan ibu Kia. Dan tentu saja tanpa sepengetahuan Kia.
“Rik gimana udah selesai ?” tanya Zahwa ketika melihat Riko sudah menutup telponnya.
“Belum, katanya kita suruh mengulur waktu lagi setengah jam” ucap Riko berbisik.
“Astagfirullah, terus kemana abis ini ? itu Kia udah selesai tuh”
“Aduh...emm...gini aja gimana kalau kamu pura-pura pengen makan seafood. Kan susah carinya kalau siang” ucap Riko asal dan langsung disetujui oleh Zahwa.
Riko dan Zahwa kemudian pura-pura sedang bercanda, setelah melihat Kia semakin mendekat sambil membawa sekeresek martabak telur mini.
“Udah nih yuk pulang” ucap Kia
“Emm..Ki kok aku pengen makan seafood ya” ucap Zahwa kemudian langsung mendapat tatapan aneh dari Kia.
“Kenapa ? ada yang aneh ?” ucap Zahwa saat Kia menatapnya intens
“Ada yang aneh ? aku yang harusnya tanya seperi itu. Kenapa semua orang pada aneh si, apa ini hari kebalikan ?” tanya Kia. Riko yang sadar langsung menepuk jidatnya.
“Maksudnya ?” tanya Zahwa masih tidak sadar.
“Wa... kamu suka seafood sejak kapan ?” mendengar pertanyaan Kia membuat Zahwa langsung melotot kaget dan mengalihkan pandangan pada Riko dan memberi kode untuk meminta bantuan.
“Emm..anu Ki Zahwa salah ngomong bukan dia yang pengen makan seafood tapi aku. Aku kan suka seafood” ucap Riko kemudian, Zahwa menghela napas lega setelah mendapat bantuan dari Riko. Kia langsung memicingkan matanya melihat Zahwa dan Riko secara bergantian.
“Ada yang kalian sembunyiin ya ?” ucap Kia yang langsung mendapat gelengan keras dari Riko dan Zahwa.
“Hmmm... jangan-jangan kalian....mau nikah ya...” ucap Kia
“Nggak !” ucap Riko dan Zahwa dengan nada keras dan membuat Kia spontan langsung menutup telinganya.
“Astagfirullah kalian... selalu kompak dalam hal menyiksaku ya” ucap Kia kesal
“Lagian kamu ngomong hal yang nggak mungkin. Aku sama dia ?” ucap Zahwa sambil menunjuk dirinya sendiri dan Riko bergantian.
“OGAH” ucap Zahwa
“Siapa juga yang mau sama nenek lampir kaya kamu, mendingan sama Ki..” ucap Riko yang terpotong oleh Zahwa.
“Sadar dong.. Kia kan udah...” ucap Zahwa menggantung ketika mendapati Riko memberikan tatapan tajam padanya. Kalau saja Riko tidak memberikan tatapan tajam pastilah dia keceplosan.
“Udah apa Wa ?” tanya Kia
“emmt udah...udah..suka sama yang lain...iya..iya kan Ki ?” kemudian Kia mengangguk keras.
“bener banget tuh kata Zahwa, jadi Riko tolong banget jangan godain aku lagi, jangan panggil aku beb lagi oke?”
“Iya-iya paham. Udah yuk nyari seafood laper nih tadi dirumahmu nggak sempat makan”ucap Riko
“Lah salah sendiri, biasanya juga ngambil makan sendiri di dapur. Lagian jam segini mana ada seafood” ucap Kia
“Ya kita cari dulu Ki sambil jalan-jalan” ucap Zahwa
“Ini naik mobil Zahwa...bukan jalan-jalan” ucap Riko
“Bodoamat !”
“Nenek lampir emang susah dibilangin” ucap Riko
“Udah deh kalian bisa nggak si kalau nggak debat. Pusing tau nggak. Dirumah harus ceramah, dikampus suruh ceramah, di sini juga ceramah. Kalau ceramah temanya beda-beda nggak apa-apa, lah ini selalu aja ngasih nasihat jangan berantem tapi nggak pernah sekalipun kalian denger. Capek tau nggak” ucap Kia panjang lebar yang membuat Riko dan Zahwa kembali diam layaknya anak yang dimarahi oleh ibunya.
Setelah satu jam mencari toko seafood, ternyata hasilnya nihil. Semua warung seafood tutup karena belum waktunya buka. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Kia sekalian untuk sholat dhuhur. Sesampainya di Rumah Kia, tampak diteras sudah ada Ayah Kia, Rasyid, Dika dan Zaki yang sudah siap untuk berangkat ke masjid.
“Pak tungguin dong, aku mau wudhu sebentar” ucap Riko berlari setelah turun dari mobil bak.
Para lelaki hanya geleng-geleng melihat tingkah absurb Riko. Kia dan Zahwa turun dari mobil bak dan menghampiri ayah Kia.
“Yah ini martabaknya udah Kia beliin banyak”ucap Kia girang, karena martabak adalah kesukaannya. Mumpung ayahnya menyuruhnya membeli martabak, dengan senang hati Kia membeli dalam jumlah banyak. Tapi anehnya sang ayah marah mengernyitkan dahi heran.
“Loh siapa yang suruh beli martabak ?” tanya Ayah Kia
“Lah kan ayah suruh Kia beli martabak yang banyak t*i” ucap Kia santai
“Ngarang, mana ada ayah nyuruh gitu” ucap Ayah Kia mengelak.
“Astagfirullah. Ini orang-orang pada kenapa si. Aneh banget.. nggak ayah, nggak Zahwa, nggak Riko Semua aneh...” ucap Kia kemudian pergi kedapur meninggalkan para lelaki yang akan pergi ke masjid.
Tanpa menghiraukan ayahnya, Kia langsung duduk di ruang makan dan memakan martabak yang dibelinya dengan lahap. Dia sengaja beli lima buah khusus untuk dirinya dengan ekstra telur, keju dan tentunya ekstra pedas.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa makan. Lagian ini kan ayah yang nyuruh bukan keinginan aku. Mubadzir kalau nggak dimakan hehhehe”ucapnya bermonolog.
Setelah makan martabak mini, Kia mengajak sang Ibu dan Zahwa untuk sholat dhuhur berjamaah dirumah. Setelah itu, sambil menunggu para lelaki pulang, mereka menyiapkan makanan untuk makan siang yang tinggal dipanaskan saja. Setelah para lelaki pulang, Ibu langsung mengajak mereka untuk makan bersama. Rasyid tak henti-hentinya mendapat senggolan dari Dika, karena kepergok melihat Kia dengan pandangan penuh kekaguman.
“Bang dijaga dulu pandangannya, kalau ketahuan aku nggak bisa ngelindungin abang dari amukannya dia loh” ucap Dika berbisik Rasyid hanya berdeham sebagai jawaban.
Setelah makan mereka langsung berpamitan untuk pulang. Sebenarnya Kia nggak setuju bahkan Kia juga memberi mereka sebutan SMP (Selesai Makan Pulang). Tapi mereka tetap saja berniat untuk pulang.
“Alah Ki, Minggu depan kita kesini lagi kok. Kita akan datang dengan hadiah yang spesial” ucap Dika girang.
“Alah spesial, palingan mau bawa kue balok aja sombong amat” ucap Kia dengan nada sebal.
“Ya liat aja nanti...iya nggak Wa ?” kata Riko melempar pandangan kepada Zahwa
“Wah kalian berdua mau...” ucap Kia sambil memicingkan matanya kearah Riko dan Zahwa
“Nggak !” ucap Riko dan Zahwa bersamaan membuat gelak tawa pemilik rumah dan tamu-tamunya.
Mereka akhirnya berpamitan. Tapi saat Rasyid menjabat tangan Ayah Kia tampak Rasyid sedang membisikan sesuatu pada ayahnya.
“Sejak kapan ayah suka bisik-bisik ? udah gitu sama kak Rasyid lagi. Kapan mereka akrab ? Aneh” batin Kia memperhatikan gerak-gerik Keduanya.