Beberapa hari setelah kunjungan teman-teman Kia, Ayah Kia mulai mendekati Kia dan mengajaknya berbicara mengenai perasaannya. Sejak mendengar kata-kata Khitbah dari Rasyid serta permintaan yang diajukannya, Ayahnya Kia mulai mencari tau tentang perasaan Kia.
Flasback
“Tapi sebelumnya maaf pak, bisa saya meminta sesuatu ?” ucap Rasyid membuat Dika dan Ayah Kia heran.
“Bang gila ya ? ini calon mertua loh masak kamu minta sesuatu. Emang bapak Jin” ucap Dika yang masih bisa di dengar oleh Ayah Kia
“Dik bapak masih bisa dengar loh” ucap Ayah Kia sambil menatap Dika. Sedangkan Dika hanya menyangir sambil mengusap tengguknya.
“Apa yang bisa bapak bantu nak ?” lanjut ayah Kia
“Jadi begini pak, setelah saya datang kesini tolong berikan CV saya ini kepada Kia. Dan kalau Kia tanya kenapa tidak ada fotonya.. tolong bapak bilang kalau dia adalah orang yang tidak tampan” Ayah Kia dan Dika semakin heran dengan kata-kata Rasyid. Apa tadi Dia bilang tidak tampan ? Astagfirullah, lihat alisnya yang tebal, kumis tipis, hidung mancung rahangnya kokoh itu masih dibilang tidak tampan, sungguh terlalu ya...
“Kenapa nak ?” tanya Ayah Kia, tapi hanya dibahas senyuman oleh Rasyid
“Biar Kia melihat saya hanya dari data diri saya, insyaAllah sudah lengkap dan sudah bisa dijadikan pedoman untuk Kia mau menerima saya atau tidak” ucap Rasyid dengan penuh keyakinan.
“Baiklah kalau itu keinginan kamu”
Flasback off
Setelah makan malam, seperti biasa keluarga Kia sedang duduk santai sambil menikmati siaran ceramah di acara Tv lokal.
“Kia, sini nak duduk dekat ayah. Ayah mau dengar cerita Kia hari ini” Ucap ayah Kia menepuk tempat duduk kosong yang ada di sampinya. Seperti yang biasa dia lakukan, mendengar cerita kegiatan anaknya. Hal ini dia lakukan agar tidak ada jarak diantara mereka.
“Oke ayah”
“Kata Ibu, Kia pengen punya usaha ya nak ?”
“Iya yah, Kia kan suka banget sama martabak nah Kia punya rencana buka usaha di tempat kuliah Kia. Usaha martabak yah” ucap Kia bersemangat.
“Kia tau kan kalau pesaingnya nggak sedikit ?”
“Iya yah tau, Kia udah punya inovasi kok, tapi Kia belum coba InsyaAllah besok Kia mau eksperimen menu dulu kalau berhasil, itu akan jadi menu andalan Kia”
“Kia tau kalau buka usaha itu capek ?”
“Tau lah yah, Kia udah persiapkan semuanya termasuk nanti cara Kia membagi waktu, sama rencananya Kia mau cari partner buat buka usaha ini. Kan nggak mungkin kalau Kia sendirian”
“Udah ada partnernya ?” Kia menggeleng
“Belum yah, temen-temen Kia pada nggak mau katanya takut nggak bisa bagi waktu”
“Mau ayah cariin partner ?” Kia mengangguk kegirangan
“Boleh banget yah, Alhamdulillah. Siapa yah partnernya ?” Ayah Kia berdiri dari duduknya dan mengambil sebuah map biru dan diserahkan kepada Kia. Kia yang penasaran langsung membuka map tersebut.
“Astagfirullah” ucap Kia kaget seraya melempar map tersebut ke meja
“Kenapa ?”
“Yah itu Cv mau ngelamar kerja apa mau ngelamar jadi suami si, kok lengkap bener ada makanan favorit, jumlah hafalan, istri idaman...trus apa lagi tuh tadi” ucap Kia protes pada sang ayah.
“Ya kan tadi bilangnya Kia cari Partner, ya itu kandidat dari ayah. Partner kerja, partner berkeluh kesah, partner saat senang, partner saat sudah dan paling penting partner untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah”
“Tapi kan yah... Kia masih semester 3 loh”
“kata siapa ? nanti pas masuk Kia kan udah semester empat” celetuk Zaki yang tadi hanya diam sambil mengemil makanan ringan.
“Heh bocah ikut-ikut aja... Kia belum lulus kuliah yah”
“Emang kalau kuliah nggak boleh sambil nikah ?” tanya Ibu Kia
“Ya boleh si bu, tapi kan ribet bu menurut Kia, dan Kia yakin kalau Kia nggak sanggup. Nih ya nanti pasti harus urus suami, urus keperluan rumah, urusin bisnis nanti kalau jadi, belum lagi kalau punya anak. Ribet bu malah nanti nggak bisa fokus kuliah”
“Kia... Kia tau kan kalau nikah itu sebagai penyempurna separuh agama kita ?”tanya Ayah Kia
“Iya yah Kia paham, tapi Kia belum siap”
“Kamu belum siap untuk ngelupain masa lalu, apa belum siap menjadi istri ?” Kia diam setelah mendengar pernyataan ayahnya. Karena memang sesungguhnya masih ada nama Ardi di dalam hatinya yang terdalam.
“Coba Kia baca dulu CV ini, sholat istikharah minta petunjuk Allah. Jangan pernah berharap pada manusia. Ingat ya, manusia bisa berencana tapi Allah yang menentukan. Kalau menurut ayah ya, dia orangnya baik, sholeh, dan yang paling penting dia minta langsung ke ayah untuk meminangmu tanpa kamu tau siapa dia. Ayah kira Kia juga udah siap, buktinya selama ini Kia aktif organisasi, sering ikut kajian, acara sosial juga jalan, bahkan Kia masih bisa jadi guru les dan Kia masih bisa unggul di akademik bukankah itu bukti kalau Kia mampu? Kia hanya nggak mau iya kan ?”
Dengan gerakan malas Kia menerima map tersebut dan membawanya ke kamar. Langkah Kia gontai menuju ke kamar, pikirannya kosong seolah menolak apa yang sedang terjadi padanya. Siapa orang yang berani-berani mengkhitbahnya apa dia nggak tau kalau Kia sedang menunggu seseorang yang jauh disana ? kesal Kia sambil menatap map yang kini sudah berpindah di meja belajarnya. Mau tidak mau Kia tetap membuka dan membaca CV tersebut dengan teliti karena semua itu adalah permintaan sang ayah.
“Azharasyid Fariq, keren si namanya cahaya kebijaksanaan dan baik” tak terasa senyum terbit di bibirnya padahal baru membaca namanya.
“Eh kok aku senyum-senyum nggak-nggak itu baru namanya belum tau kelakuannya. Kata ayah si soleh tapi bentar aku baca dulu” ucapnya bermonolog kemudian kembali membaca CV.
Semakin lama Kia membaca CV semakin Kia terhanyut dan senyum-senyum tidak jelas.
“Subhanallah, dia pandakwah ? kok bisa suka sama aku... udah gitu hafalannya udah banyak lagi. Malu dong nanti kalau nikah hafalanku baru sampek juz ama udah gitu nggak ada peningkatan lagi. eh... Astagfirullah apaan si kok aku mikirnya sampai nikah si. Kan aku mau nolak di Azhar-Azhar ini” ucap Kia meralat perkataannya.
“Tidak usah minder wahai calon istri, tak apa jika kamu tidak memiliki hafalan yang banyak. Saat kita berumah tangga nanti aku akan selalu setia mendengarkan setiap hafalan yang akan kamu bacakan didepanku. Dan aku akan selalu berusaha membimbing dan menjagamu selayaknya tulang rusukku.... huaaa ini kenapa isi CVnya kaya sedang ngeyakinin aku si... kok dia bisa nulis kaya gini di akhir CV... Astagfirullah belum apa-apa aku udah baper baca CVnya.... nih jantung dek-degan pula” ucapnya histeris ketika membaca kalimat terakhir dari CV tersebut.
“Eh bentar kok nggak ada fotonya si ? wah nggak beres ini” Kia kemudian keluar kamar dan langsung menuju ke tempat ayahnya sedang duduk.
“Ayaahhh... kenapa nggak ada fotonya ?” ucap Kia
“Maaf Kia tapi dia itu nggak tampan hanya saja dia sholeh, baik dan pekerja keras ? kenapa kamu nggak mau ?” tanya ayah Kia
“Subhanallah yah, baru baca CVnya aja Kia udah baper. Kia nggak bisa menilai orang dari penampilannya yah. Kia ingat cerita Bilal bin Rabah si hitam legam yang dimuliakan oleh Allah karena ketakwaannya. Jadi nggak ada alasan Kia menolak mas Azhar hanya karena dia nggak ganteng, gimana Kia mau nolak yah... liat CVnya aja Kia udah baper” ucap Kia kemudian berhambur ke pelukan ayahnya.
“Kia yakin nggak mau sholat istikharah dulu ?” tanya Ibu Kia
“Sebenarnya Kia udah sholat istikharah sejak Kia patah hati bu, Kia selalu minta dijodohkan sama orang yang baik, hafalannya banyak, yang sayang sama Kia apa adanya, seorang pendakwah dan kalau bisa yang ganteng. Dan menurut Kia ini jawaban Allah. Meskipun doa Kia yang terakhir nggak dikabulin tapi Kia yakin kalau mas Azhar-azhar ini jodohnya Kia” ucap Kia panjang lebar
“Alhamdulillah” ucap Ibu dan Ayah Kia yang merasa lega terhadap keputusan Kia.
“Mba Kia seriusan nggak mau sholat lagi ? mumpung masih ada waktu 3 hari lagi sebelum Mba ngasih jawaban” celetuk Zaki
“Kok kamu tau Ki ? emang kamu tau calonnya mba ?”
“Tau lah kan Mas Rrrr....Azhar pernah kesini” ucap Zaki memanjangkan R ketika mendapat pelototan tajam dari ayah dan ibunya karena hampir saja keceplosan menyebutkan nama panggilan Rasyid
“Tadi apa kok Rrrr... gitu ?”
“Nggak mba kan mas Azhar akhirannya R” kata Zaki sambil cengengesan
“Nggak nyambung” ucap Kia kesal
“Eh tapi yah, Zaki bilang tiga hari ? berarti tiga hari lagi Mas Azhar kesini ?” Ayah Kia hanya menjawab dengan anggukan dan seketika itu pula tangan Kia menjadi tremor akibat jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.
“Astagfirullah, k..k..kalau di..di tunda bisa nggak yah ?” ucap Kia gugup
“Nggak bisa dong sayang, dia udah janji seminggu setelah CV ini ada di ayah, Dia akan langsung kesini menanyakan keputusanmu lalu setelah itu membawa orang tuanya kesini”
“Seminggu ? yah ayah kan baru ngasih CVnya ke Kia tadi”
“Ya kan Kia juga udah langsung punya jawaban kan ?”
“Ya Allah ayah, ayah nyuruh nikah kaya nyuruh Kia beli pukis si” Seluruh keluarga Kia tertawa mendengar kalimat terakhir Kia. Bahkan dia langsung salah tingkah padahal belum ketemu orangnya, gimana kalau ketemu ya ?