Setelah menerima telepon entah dari Ayah Kia, mata Rasyid berbinar terlihat raut wajah bahagia tergambar jelas di wajahnya. Rasyid langsung bersyujud syukur sambil menggumamkan Alhamdulillah. Umi dan Abi Rasyid tentu heran melihat anak bungsunya tiba-tiba mengucap syukur berkali-kali.
“Lho Bi, itu dek Rasyid abis dapat Hadiah ?” tanya Umi Rasyid yang membuat yang Abi hanya bisa mengendikkan bahunya. Rasyid adalah anak bungsu jadilah dia dipanggil adik oleh semua penghuni dirumahnya. Rasyid berjalan mendekati sang Umi mencium tangan dan kedua pipi beliau bergantian. Kemudian Rasyid beralih kepada sang Abi dan memeluknya.
“Kamu kenapa to le ?” ucap Abi Rasyid
“Umi...Abi kemarin kan Rasyid bilang kalau Rasyid akan membawa calon mantu, InsyaAllah lusa Rasyid mau melanjutkan proses ta’aruf yang waktu itu” ucap Rasyid dengan mata berbinar-binar
“Jadi yang kamu bilang mau nikah itu beneran le ?” tanya Umi Rasyid sekali lagi.
“Iya..Umi makasih ya udah doain yang terbaik buat Rasyid”
“Abi boleh liat foto calon menantu Abi le ?”
“Hehe maaf Bi tapi Rasyid nggak punya fotonya, Rasyid kenalnya di Kampus dia adik tingkat Abi. Namanya Zaskia Nur Syifa dia baik, cantik, peduli sama lingkungannya, berjiwa sosial tinggi dan insyaAllah sholehah” ucap Albi mendeskripsikan sosok Kia dengan sempurna.
“Berarti dia masih semester 3 le ? kamu yakin sama dia ? ayahnya juga membolehkan ?” tanya sang Abi
“semester ini Kia semester 4, Rasyid sangat yakin sama Kia. Dan yang paling penting ayahnya juga merestui Bi. Malah ayahnya mendukung dan terlihat senang sekali” ucap Rasyid sumringah mengingat respons calon mertuanya saat dia menyampaikan niatnya untuk mengkhitbah Kia.
“Alhamdulillah kalau gitu Abi ikut seneng”
“Umi jadi penasaran. Berarti lusa umi dan Abi ikut kamu ?” tanya Umi Rasyid
“Iya umi, tapi maaf ya umi rumah Kia ini di Jawa Timur sekitar 4 sampe 5 jam dari Kudus”
“Calonmu orang mana le ?” tanya Abi
“Orang Bojonegoro Bi. Oh iya kalau umi mau ngajak keluarga mending ajak Kak Icha sama Kak Hana aja ya jangan semua dibawa. Kebanyakan nanti” ucap Rasyid
“Lho nggak apa-apa to le malah bagus” ucap sang Umi
“Jangan dong Umi sayang ini kan baru lamaran, jangan diumbar-umbar dulu nggak baik. Kita undang mereka pas Rasyid nikah aja ya ?”
“Iya-iya”
Semua persiapan telah dilakukan termasuk membeli cincin, seserahan untuk melamar, dan makanan-makanan khas Kudus untuk di berikan kepada calon istri Rasyid. Karena jarak rumah Rasyid dan Kia jauh, jadilah keluarga Rasyid berangkat setelah melaksanakan sholat subuh. Mereka membawa 2 mobil, mobil pertama berisi Rasyid, Umi, Abi dan seserahan, mobil kedua berisi keluarga kedua kakak Rasyid. Sejak mendapat kabar khitbahnya diterima Rasyid selalu menghafalkan kata demi kata untuk melamar Kia secara langsung.
Di tempat lain, Kia merasakan perutnya yang selalu mulas karena hari ini orang tua calon suaminya akan datang untuk melamar. Kia bolak-balik kamar mandi yang membuat Zahwa selaku orang yang merias Kia geram dengan tingkah temannya.
“Kia bisa nggak si kamu nggak usah loncat sini, loncat sana kaya cacing kepanasan”
“Ck... wa kamu si nggak tau rasanya tiba-tiba dilamar. Baru aja aku setuju kemarin lah hari ini udah main lamar-lamar aja” gerutu Kia karena setelah jawabannya waktu itu sang calon malah mengajukan hari untuk melamar Kia.
“haha nikmati aja Ki, Ambil enaknya aja. Kalau punya suami pasti apa-apa sama suami. Makan bareng, belanja bareng, semua bareng-bareng. Oh iya sama pasti nanti diabantuin pas buat skripsi...huaaa pengen nikah..”
“ya udah kamu aja yang gantiin aku” ucap Kia spontan
“beneran ? kamu nggak nyesel ? ini dia penghafal loh, sholeh, baik, pendakwah. Aku si mau-mau aja ya” ucap Zahwa menggoda Kia
“eh...emt ya..ya jangan lah ihhh kan aku bercanda. Lagian kamu masa nggak peka si ?” Zahwa yang memoles wajah Kia kemudian berhenti dan ikut mendudukan diri di samping Kia
“Nggak peka gimana ? bukannya kamu yang nggak peka ya ki ?”
“Lah kenapa jadi aku ? kamu masak nggak ngerasa kalau si...” belum sempat Kia melanjutkan perkataannya pintu kamar Kia sudah di ketuk. Zahwa segera melakukan sentuhan terakhir yaitu memberikan sedikit polesan lipstik tipis-tipis pada bibir Kia yang membuatnya semakin cantik.
“Jangan tebal-tebal wa...”
“Hihh jangan dihapus lagi nanti gak selesai-selesai. Ini juga udah tipis kok” ucap Zahwa jengkel karena Kia selalu menangkis tangannya ketika lipstik Pink akan menyentuh bibirnya.
Setelah setelah Kia langsung keluar kamar. Karena rumahnya hanya satu lantai, saat keluar Kia langsung bisa melihat siapa tamu yang sedang ada di rumahnya. Terlihat disana ada sepasang Suami istri yang mungkin adalah calon mertuanya, ada juga sahabatnya Riko dan Dika serta Zaki yang ada di sebelah ayahnya. Kia heran karena disana tidak ada pria muda yang mungkin adalah calon suaminya. Mata Kia mengitari seluruh ruangan tapi hasilnya nihil. Kia berjalan sambil matanya menyusuri ruangan, karena sangat penasaran dengan rupa calon suaminya.
“Ini adalah Zazkia Nur Syifa anak pertama kami” Kia menangkupkan tanganya di depan d@da ketika ayahnya memperkenalkannya pada sepasang suami istri yang ada di seberang tempat duduk sang ayah.
“Subhanallah, pantas saja anak kita yakin sekali ya bi ?” ucap seorang wanita paruh baya kepada sang suami yang hanya dijawab dengan anggukan. Kia duduk di sebelah Zaki yang duduk di samping sang ayah.
“Sebentar ya nak Kia, Azhar masih di mobil katanya ada yang ketinggalan” ucap pria paruh baya yang ada di hadapan Ayah Kia.
“Nah itu dia” ucap sang pria paruh baya sambil menunjuk kearah pintu. Kia yang penasaran langsung melihat kearah pintu. Betapa terkejutnya Kia ketika melihat seorang pria berumur sekitar 30 tahun sedang menggandeng istrinya yang sedang hamil.
“Astagfirullah, apa aku akan dijadikan madunya ?” batin Kia sambil menatap ke arah pintu dengan penuh kekecewaan.
“Itu kakaknya Azhar, Hana namanya dia sedang hamil dan itu suaminya. Lalu yang sedang menggendong anak itu dia adalah kakak sepupu Azhar Icha namanya disampingnya yang menuntun anak kesil itu suami Icha” ucap pria paruh baya itu yang ternyata belum menyelesaikan ucapannya. Kia masih setia memandang pintu dan mencari keberadaan sosok Azhar yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
“Kenalkan saya Icha kakak sepupu Azhar dan itu kak Hana kakak kandung Azhar” ucap Kia memperkenalkan diri.
“Bentar ya Kia, Azhar masih mencari sesuatu katanya sangat penting. Sabar ya.. pasti kamu penasaran kan sama Azhar” ucap Icha menggoda Kia. Sontak perkataan Icha membuat seluruh ruangan tertawa, sedangkan Kia hanya bisa menunduk karena mukanya sudah memerah malu. Kia tidak lagi berani menatap pintu karena takut akan menjadi bahan ledekan orang-orang yang ada disana. Kia terus menunduk sambil mendengarkan Ayah serta ibunya berbincang dengan Abi dan Umi Azhar.
Sepasang sepatu yang Kia yakini adalah milik Azhar mendekat, terdengar dari suara langkahnya yang semakin menggema di telinga Kia. Meskipun suasana ramai, Kia masih dapat mendengar dengan jelas langkah kaki itu. Jantung Kia mulai tidak teratur, Kia menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya yang dia yakin sudah tidak normal sejak mendengar langkah kaki Azhar.
“Jantung... jangan bikin aku tambah gerogi dong... minta kerjasamanya ya” ucap Kia bermonolog sambil terus menunduk memegangi dadanya tanpa berani menatap orang yang terdengar mendekat.
“Assalamu’alaikum” ucap pria itu. Kia yang semula memejamkan matanya sambil menunduk, langsung mendongakkan kepala ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya.
“Kak Rasyid...” ucap Kia ketika bola matanya bertemu dengan sosok Rasyid, Azharasyid Fariq adalah Rasyid kakak tingkat yang menyadarkannya dari dosa-dosanya beberapa bulan yang lalu.
“Ke..kenapa ba..baju kalian sama ?” ucap Kia tergagap karena otaknya masih tidak bisa berpikir dengan kejadian ini.
“Ini Azharasyid Fariq anak kami yang terakhir, dan dia ini yang mengkhitbahmu tempo hari” ucap Abinya Rasyid yang membuat Kia tambah terbengong melihat Rasyid yang menurutnya lebih bersinar dari biasanya.
“Ja..jadi ?” Kia mengalihkan pandangan pada ayah, ibu serta para sahabatnya dan mereka semua mengangguk sambil menahan senyum melihat Kia terkejut. Ya ini adalah kejutan spesial untuk Kia di hari ulangtahunnya yang ke 20.
Kia yang terlalu terkejut kemudian berlari keluar rumah dan tentu ini membuat semua orang yang ada di ruangan panik termasuk Rasyid. Dengan sigap Rasyid langsung menyusul Kia sesaat setelah Kia melarikan diri dari rumahnya.
“Kia...Zazkia..” terdengar panggilan dari Rasyid tapi Kia tidak mengindahkannya dan tetap lari menuju keluar ke jalan raya.
Rasyid mempercepat langkahnya dan menyusul Kia sebelum dia sampai ke jalan raya. Kia terlihat berhenti untuk mencopot sepatu haknya, Rasyid memanfaatkan hal ini untuk menghadang Kia.
“Ki kenapa lari ?” Kia diam dan masih mencari celah untuk menerobos penghalang di depannya yaitu Rasyid.
“Minggir aku mau lewat” ucap Kia ketus
“Nggak ! kamu nggak boleh pergi” ucap Rasyid tak kalah tegas
“Kak Rasyid maunya apa si ?” ucap Kia
“Aku maunya kamu jadi istriku” ucap Rasyid dengan nada keras dan langsung membuat pipi Kia memerah karena tatap orang-orang sekarang tertuju pada mereka.
“Kak tolong jangan bikin Kia malu” ucap Kia jengkel dengan kelakuan Rasyid.
“Aku nggak akan bikin kamu malu kalau kamu mau kembali kerumah, tolong Ki aku kesini berniat baik”
“Kak Rasyid sadar nggak si kalau udah bikin aku jantungan ? semalaman aku nggak tidur Cuma mau ketemu calon suamiku..”
“Iya aku kan ?” ucap Rasyid memotong perkataan Kia.
“Kenapa kak Rasyid nggak tanya aku dulu si ? kenapa langsung ke ayah ku ? Udah gitu ngapain namanya disamarkan nggaka da fotonya juga pasti sengaja kan ?”
“Karena aku mau menjaga kamu Ki....” ucapak Rasyid membuat Kia sadar bahwa memang yang dilakukan Rasyid benar sedangkan yang dia lakukan salah, sangat salah.
***
Wah gimana kira-kira ya ? kalau kalian jadi Kia kabur nggak kalau ngeliat ternyata calonnya dalah Rasyid ? Spam komen ya...