“Karena aku mau menjaga kamu Ki, aku nggak mau memulai hubungan tanpa restu dari Allah, aku ingin kita disatukan dalam ikatan halal. Aku nggak mau merusakmu dengan mengajakmu pacaran”
“Iya aku tau, tapi kenapa kak Rasyid nggak pasang foto kak Rasyid di CV kakak ? dan..dan kenapa kakak suruh Ayah buat bilang kalau kakak nggak ganteng padahal kan ga...” Kia menutup mulutnya ketika hampir saja keceplosan bilang kalau Rasyid ganteng.
“Aku mau kamu yakin sama kemampuanku untuk jadi suami kamu”
“kak Rasyid sadar nggak si kalau kita sering bertengkar ? kita nggak mungkin bisa menajalani biduk rumah tangga. Kita saling memben...”
“Siapa yang membenci kamu ?” ucap Rasyid memotong perkataan Kia
“Kita lah, Kita nggak pernah akur dalam hal apapun” ucap Kia pandangannya memandang sekeliling yang masih melihat pertengkaran mereka.
“Dan aku hanya mau menikah sekali seumur hidup, aku nggak mau rumah tanggaku gagal karena aku salah pilih pasangan” ucap Kia lagi
“Kamu pikir aku nggak mau menikah sekali seumur hidup ? aku pilih kamu untuk menemani aku seumur hidup aku. Apa kamu mikir menempuh pacaran adalah jalan terbaik untuk memilih jodoh ?” ucap Rasyid keras dan mampu membuat orang-orang yang lewat berhenti melihat perdebatan romantis ala Kia dan Rasyid.
“Aku nggak bilang kalau pacaran jalan yang terbaik. Masalahnya aku benci sama kamu” cicit Kia dengan susah payah di akhir kalimatnya, sejujurnya dia tak bermaksud untuk berkata seperti itu dia hanya kaget. Rasyid terdengar menghela napas seperti menahan kekecewaan.
“Tapi...benci sama cinta itu memiliki perbedaan yang tipis setipis kulit bawang Ki. Kamu percaya kalau Allah maha membolak-balikkan hati ?” ucap Rasyid dengan nada lembut dan penuh kasih sayang. Kia mengangguk dengan mata berbinar karena ucapak Rasyid yang menurutnya sangat adem, seadem ubin masjid. Eaaa...
“Aku akan membuatmu jatuh cinta sama aku setelah aku menjabat tangan Ayahmu dan mengucapkan ijab qabul” ucap Rasyid meyakinkan Kia.
Kia meremas tangannya karena gugup dengan kata-kata Rasyid yang membuat hatinya luluh.
“Waduh kenapa dia semakin membuat aku mleyot ya Allah” batin Kia
“O..oke.. aku akan tanya sesuatu sama kakak, Kalau kak Rasyid bisa menjawab dengan benar aku akan terima kak Rasyid kalau tidak,, maaf aku nggak bisa” ucap Kia dengan gugup tetapi mampu membuat Rasyid tersenyum sumringah. Ternyata masih ada harapan untuknya diterima oleh Kia.
“Baiklah silahkan tanyakan apapun yang kamu mau, aku akan menjawabnya semampuku” ucap Rasyid yakin.
“Kak Rasyid punya apa sampai berani melamar Kia ?” ucap Kia. Senyum terbit dibibir Rasyid yang membuat Kia semakin terpesona dengan pemandangan di depannya. Dengan gerakan cepat Kia mengalihkan pandangannya sambil beristigfar.
“Aku akan menjawabnya di depan keluarga kita dan teman-teman kamu. Sekarang ayo kita kembali ke rumah Ayah” ucap Rasyid lembut.
“Ayah ? ayah yang kak Rasyid maksud itu ayahku!” ucap Kia
“Iya kan beliau akan menjadi mertuaku sebentar lagi” ucap Rasyid dengan penuh percaya diri
“Kak nggak usah terlalu percaya diri ya...ingat aku bahkan belum menerima kakak” ucap Kia sarkas kemudian meninggalkan Rasyid dengan menghentak-hentakkan kakinya.
“Astagfirullah, kenapa dia semakin kesini semakin menggemaskan si” gumam Rasyid kemudian mendahului langkah Kia.
“Kak Rasyid ngajak balapan ?” ucap Kia saat Rasyid menyalip langkah kakinya.
“Kia...laki-laki itu harus di depan ketika berjalan, jadi ketika ada apa-apa biar aku yang kena duluan bukan kamu. Lagian kamu mau aku lihat lekuk tubuhmu, kalau aku berjalan di belakangmu” ucap Rasyid tanpa menengok ke arah Kia. Kia yang hampir saja menyalip Rasyid langsung memperlambat langkahnya agar tetap di belakang Rasyid. Hati Kia menghangat seketika dengan perkataan Rasyid. “Hal sekecil ini saja dia perhatikan apalagi nanti saat kita menikah” batin Kia tanpa sadar mengucapkan kata pernikaan diantara mereka. Sontak Kia menggelengkan kepala sambil berkata “tidak” dan ternyata masih dapat di dengar oleh Rasyid.
“Apa yang nggak Ki ? kamu masih nggak percaya dilamar sama orang ganteng ?” ucap Rasyid jahil dan masih menatap ke depan.
“Ganteng ? kamu tuh kaya kulkas 50 pintu tau nggak dingin buanget !” ucap Kia sinis.
“Emang ada kulkas 50 pintu ? kayaknya maksimal 2 pintu deh”
“Ya kamu itu definisi kulkas 50 pintu” ucapan Kia membuat Rasyid memperlihatkan senyumannya.
“Ki kenapa si kamu mesti kabur ? apa karena tau calon suamimu aku ?” ucap Rasyid penasaran.
“ya...yaa ka..rena kaget lah. Gini ya sejak aku dikasih ayah CV kamu dan ayah bilang kalau calon suamiku nggak tampan, aku udah mulai menerima. Aku menanamkan pada diriku untuk melihat akhlak dan bekal dia membimbing aku ke surganya Allah. Aku lihat lagi CV kamu aku baca ternyata kelebihan kamu banyak dan semua yang kamu tulis dalam CV semuanya hampir sesuai sama kriteria aku. Jadi aku memantapkan diri untuk menerimamu apa adanya tanpa memandang fisik. Makanya aku kaget pas yang datang kamu...”
“Berarti secara nggak langsung kamu bilang aku ganteng ?” ucap Rasyid jahil.
“Nggak usah pede,... mending cepetan deh jalannya panas tau nggak” ucap Kia dengan nada jengkel
“Ya siapa suruh jadi jinak-jinak merpati”
“Maaf maksud anda apa ya ?”
“Lah iya kamu malu-malu tapi aslinya mau kan, apa coba kalau bukan jinak-jinak merpati ?”
“Bodoamat” setelah mengatakan itu, Kia lari ke dalam rumah karena ternyata mereka sudah ada di depan rumah. Rasyid tersenyum melihat punggung Kia yang melewatinya.
“Selalu ada kejutan baru, dan aku semakin yakin untuk menghalalkanmu Zazkia Nur Asyifa.”
Setelah masuk rumah kedua keluarga merasa lega, kecuali Umi Rasyid yang terlihat jengkel sekali dengan tingkah kekanak-kanakan calon menantunya. Semua teman Kia langsung mendekat dan memberindong dengan berbagai pertanyaan.
“Ki kenapa kamu kabur ? sengaja ya pengen di kejar ?” ucap Zahwa dengan penuh kejahilan.
“Lah iya... kamu mau praktek main film India ? nanti aja deh mending main kejar-kejarannya setelah halal. Sekarang mending langsung acara lamaran aja biar nggak ngerepotin semua orang” ucap Riko yang langsung diberi tatapan tajam dari Kia.
“Oh jadi kalian udah berkongsi sama dia ?” ucap Kia menatap curiga kearah ketiga temannya. Sedangkan temannya hanya menyengir kuda.
“Ya kita kan pengen yang terbaik buat kamu Ki. dari pada kamu terus menerus menggantungkan diri di ketidakpastian mendingan milih yang mau memberi kepastian” ucap Dika dengan kata-kata bijaknya. Kia hanya mendengkus kesal kemudian meninggalkan mereka bertiga dan duduk di samping ayahnya.
“Ayah.. kenapa bohong sama Kia ?” ucap Kia manja dan langsung memeluk ayahnya tanpa memperdulikan bahwa di depannya ada sang calon mertua.
“Mba Kia... jangan gini... nggak malu dilihat sama calon mertua. Udah mau punya calon suami loh” seketika Kia langsung menegakkan tubuhnya dan memasang senyum kearah umi dan abinya Rasyid. Dan ternyata Rasyid sudah duduk disamping mereka. Lengkungan senyum Kia luntur saat matanya bertemu dengan Rasyid. Kia tidak tau dengan perasannnya, di satu sisi dia sangat jengkel dengan Rasyid tapi di sisi lain dia juga senang mendapatkan jodoh yang ternyata sangat sesuai dengan harapannya.
“Mba Kia mau kan nikah sama Azhar ?”ucap Abi Azhar yang sepertinya langsung suka ketika melihat Kia.
“Maaf, sebelumnya Kia mau tanya sama Kak Rasyid emt... maksudnya Ma..mas Azhar...” Kia menarik napas untuk meredakan tenggorokannya yang merasakan tiba-tiba terasa kering karena tatapan dari Rasyid alias Azhar.
“Ma..mas Azhar punya apa sampai berani melamar saya ?” ucap Kia terbatas. Tentu perkataan itu membuat semua di ruangan tersebut langsung kaget. Apalagi Umi dari Rasyid yang sejak tadi diam tanpa kata setelah Kia tiba-tiba kabur. Sorot tajam mata beliau menatap kearah Kia tak suka. Tatapan yang sangat berbeda ketika pertama kali melihatnya keluar dari kamar tadi. Mendengar pertanyaan itu, hanya Rasyid yang terlihat tenang tanpa beban. Rasyid mengelus punggung tangan uminya karena tau sang umi sedang memendam sesuatu. Setelah tersenyum dan memadamkan amarah sang umi. Rasyid mengulas senyum kemudian menjawab dengan keyakinan.
“Aku nggak punya apa-apa dalam hidupku...” Rasyid menjeda kalimatnya yang membuat semua orang menatap ke arahnya.
“Waduh bakal nggak jadi nikah nih mereka” cicit Riko yang mampu di dengar oleh Zahwa.
“Riko.. ngomongnya dijaga ya... doain yang baik kek” ucap Zahwa dengan emosi yang tertahan karena suasana dingin menyelimuti ruang tersebut.
“Ssstt... kalian bisa tenang dikit nggak si ? selalu aja ribut, kalau mau ribut diluar sana jangan di sini” ucap Dika berbisik menahan jengkel dengan kedua temannya tersebut.
Rasyid terlihat menarik napas panjang bersiap untuk mengucapkan kata selanjutnya.
“tapi... aku punya Allah yang InsyaAllah membuatku punya segalanya” ucap Rasyid mantap.
Kia langsung berdiri ketika mendengar jawaban dari Rasyid. Matanya berbinar memancarkan kekaguman.
“Lusa kita nikah !” ucap Kia yang membuat semua orang membelalakan matanya tak percaya.