Tiga hari setelah acara lamaran, giliran keluarga Kia yang berkunjung ke rumah Rasyid. Kalau di Jawa adat ini namanya adalah Bales Lamaran. Dalam acara ini si pengantin wanita dan keluarga datang ke rumah calon mempelai wanita dengan membawa jajanan khas daerah sebagai balasan saat lamaran. Dalam acara ini juga akan ditetapkan dimana akad akan dilakukan dan menegaskan hari pernikahan. Semua persiapan telah dilakukan oleh keluarga Kia. Tidak banyak yang ikut, hanya ketiga sahabat Kita, kedua orang tuanya serta adik tersayangnya. Ayah Kia sengaja tak mengajak banyak orang karena lokasinya jauh takut para tetangga mengeluh akan hal itu. Di dalam mobil Kia duduk dengan Zahwa sambil berpegangan erat. Setelah lamaran waktu itu, Kia menceritakan semua keluh kesahnya kepada Zahwa termasuk ketakutannya akan sang calon ibu mertua.
"Tenang Ki, meskipun nanti uminya kak Rasyid ketus tapi masih ada abinya kak Rasyid yang kelihatan sayang banget sama kamu" ucap Zahwa menenangkan.
"Tapi wa, aku takut nanti kalau aku tinggal sama mereka dan ibunya masih ketus kan aku serba salah" ucap Kia. Di Jawa biasanya anak terakhir akan tinggal bersama kedua orangtuanya setelah menikah. Menurut orang tua jaman dahulu anak terakhir atau biasa disebut wuragil harus tinggal dengan orang tua untuk mengurus mereka.
"Lah emang kamu harus tinggal sama mereka ? Apa gak lebih baik tinggal sendiri ?" Ucap Zahwa yang memang tidak tahu kebiasaan di Jawa meskipun rumahnya ada di Jawa.
"Ya gak gitu dong wa, Kak Rasyid kan anak terakhir otomatis kak Rasyid harus tinggal sama orang tuanya. Apalagi di keluarga kak Rasyid anak laki-laki satu-satunya, ya udah pasti kami akan tinggal sama umi dan Abi" penjelasan Kia hanya dibalas anggukan oleh Zahwa.
Di rumah Rasyid sedang ada persiapan untuk menyambut kedatangan keluarga Kia. Semua kakak Rasyid ikut sibuk membantu persiapan tapi tidak dengan yang umi yang terlihat acuh tak acuh. Umi Rasyid hanya sesekali keluar kamar dan melihat persiapan lalu kembali ke kamar.
"Abi... Gimana umi masih marah ?" Tanya Rasyid kepada sang Abi.
"Nggak kok umimu hanya kelelahan sama kebanyakan pikiran"
"Apa Abi batalin aja ya bi pernikahannya ?"
"Hussh... Ngomong apa kamu Rasyid... Itu namanya kamu mempermainkan hati wanita. Abi nggak setuju. Kia itu anak yang baik, Sholehah dan yang paling penting kamu yakin kan sama dia ?"
"Tapi bi... Kalau umi nggak merestu..."
"Umi merestui kalian, cuma umi takut kamu ninggalin umi setelah menikah makanya umi kamu murung dan terlihat gak bersemangat"
"Apa Rasyid bicara sama umi aja ya bi, Rasyid bilang kalau Rasyid akan tinggal sama Abi dan umi"
"Rasyid seperti yang Abi bilang kalau pernikahan perlu komunikasi, nanti setelah menikah kamu bicarakan sama istri kamu. Kalau dia mau tinggal sama kami Alhamdulillah. Tapi kalau nggak ya tidak apa-apa itu pilihan kalian"
"Maaf Bi, Rasyid hanya takut kalau Kia tidak nyaman tinggal sama Abi dan umi" ucap Rasyid lirih.
"Sudah tidak usah minta maaf, kamu fokus aja sama acara ini. Biar Abi yang urus umi. Kamu tenang ya" ucap sang Abi sambil menepuk bahu Rasyid.
Setelah berbincang dengan sang Abi, Rasyid mencoba menghubungi calon ayah mertuanya. Meskipun Rasyid sudah resmi melamar KIA, bahkan sudah ditetapkan tanggal akad mereka, Rasyid tetap tak berani menghubungi Kia secara pribadi. Prinsipnya adalah tidak akan ada namanya sentuhan, komunikasi berdua sebelum ada akad nikah.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, nak Rasyid ini ayah dan rombongan sebentar lagi sampai. Abi sudah mengikuti map yang kamu kirim. Tapi sepertinya kami salah gang ini nak"
"Oh iya ayah. Rasyid jemput aja ya. Sekarang posisi ayah ada dimana ?" Ucap Rasyid yang terlihat khawatir karena sepertinya mereka salah jalan.
"Ini di sebelahnya ada sawah dan sebelahnya lagi ada taman kanak-kanak. Ayah tidak tau ini jalan apa"
"Baik ayah Rasyid paham, kalian tunggu disana Rasyid akan kesana. Rasyid tutup dulu yah, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Rasyid segera mengambil kunci motornya dan meluncur ke tempat dimana rombongan Kia berada.
Sedangkan di seberang sana terjadi perdebatan sengit antara Riko dan Zahwa. Zahwa menyalahkan Riko Karena memberikan arahan yang salah kepada Dika yang menyetir mobil.
"Kamu itu bisa nggak si Rik, sekali aja gak bikin sesat" ucap Zahwa kesal kepada Riko
"Kebiasaan kamu ya wa, selalu nyalahin aku. Kenapa nggak kamu aja si yang baca mapnya. Ohh... Aku tau kalau Kamu gak bisa baca Map kan. Aku jadi ingat kita selalu kesasar kalau kamu yang baca map"
"Heh apa bedanya sama kamu cumi.. ini liat kita ada di tengah sawah sekarang. Itu salah siapa hah ? Salah kamu" ucap Zahwa. Melihat temannya kembali beradu mulut Kia hanya bisa memijit pelipisnya.
"Kalau ini bukan salah aku, emang gangnya aja yang sempit jadi gak kelihatan. Makanya nyasar"
"Alah ala..."
"Stooooppp..." Ucap Dika geram dengan perdebatan mereka yang tak pernah usai.
"Udah ya itu kak Rasyid udah datang.. nggak usah salah-salah lagi oke" ucap Dika lagi setelah melihat kedatangan Rasyid.
Setelah putar balik akhirnya sampailah mereka di rumah Rasyid. Rumah yang terkesan sederhana tetapi sangat nyaman karena pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah Rasyid. Rasa tenang menyambut Kia, rasanya seperti dia ada di rumah sendiri. Rumahnya yang nyaman dan penuh dengan kasih sayang.
"Sepertinya aku akan betah tinggal disini" batinnya memandang rumah Rasyid sambil tersenyum.
Semua keluarga Rasyid menyambut rombongan Kia dengan baik. Mereka membicarakan tempat pelaksanaan akad, pernikahan menurut adat, serta acara setelah akad. Kalau di Jawa setelah hari pernikahan akan ada acara yang namanya ngunduh mantu. Itu adalah acara dimana pengantin putri akan diboyong ke rumah mertua setelah melaksanakan akad dan pernikahan adat di rumah mempelai wanita.
Setelah pembahasan acara selesai acara dilanjut dengan acara makan siang bersama. Acaranya cukup sederhana tetapi sarat akan makna. Pertemuan setelah lamaran ini bertujuan untuk mengakrabkan kedua keluarga. Semua keluarga makan, kecuali umi Rasyid yang memilih meninggalkan tempat dan menuju ke dapur. Rasyid yang melihat sang umi berdiri segera mengikuti pergerakannya. Umi Rasyid duduk di meja makan yang ada di dapur sambil menatap kosong kearah jendela dapur. Perlahan Rasyid mendekati yang umi yang sepertinya hatinya sedang gundah.
"Umi makan dulu ya biar Rasyid yang suapi umi" ucap Rasyid ketika melihat uminya yang muram sejak acara pertemuan dilaksanakan.
"Umi nggak lapar" ucapnya datar
"Umi bilang sama Rasyid.. Rasyid harus gimana biar umi merestui Rasyid sama pilihan Rasyid"
"Siapa bilang umi nggak merestui ? Umi merestui hanya saja umi nggak sanggup kalau Rasyid anak laki-laki umi yang paling ganteng ini pergi dari rumah ini. Umi nggak bisa bayangkan hidupnya umi tanpa kejahilan kamu" ucap sang umi sambil terisak. Tangan Rasyid terulur dan memeluk sang umi. Tanpa mereka sadari ternyata Kia melihat semuanya. Kia ikut menitihkan air mata.
"Umi nggak akan kehilangan putra hebat umi" ucap Kia lirih