Lagu tentang pelangi yang berputar dari pemutar musik mobil baru saja selesai. Elora bertepuk tangan riang dari kursi belakang, meminta Hana untuk memutar lagu itu sekali lagi. Jalanan pinggir kota menuju taman bermain baru terlihat lebih lengang dibandingkan jalur protokol yang mereka lewati tiga puluh menit lalu. Sinar matahari siang terasa agak menyengat, memantulkan bayangan semu yang bergoyang di atas aspal hitam yang panas.
Hana melirik jam digital pada dasbor mobil yang menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Tangan kirinya bergerak menyentuh layar pemutar musik untuk mengulang lagu kesukaan putrinya.
"Satu kali lagi ya, Elora. Setelah ini kita sudah sampai di taman bermain," kata Hana seraya melemparkan senyum hangat melalui kaca spion tengah.
"Dua kali lagi boleh tidak, Ibu? Lagu ini seru sekali," tawar Elora dengan nada manja. Anak itu menggoyang-goyangkan boneka kelinci rajutannya seirama dengan ketukan musik yang mulai kembali terdengar.
Hana tertawa kecil, mengangguk tanda setuju. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Mobil minibus putih itu melaju dalam kecepatan sedang, sekitar lima puluh kilometer per jam. Membelah jalur dua arah yang dipisahkan oleh marka jalan berwarna putih putus-putus. Di sisi kiri jalan, deretan pohon angsana yang rimbun sesekali memberikan keteduhan buatan yang menyegarkan pandangan.
Dari arah belakang, sebuah truk kontainer berukuran besar tampak melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hana memperhatikan spion kanan, merasakan getaran halus pada bodi mobilnya saat truk tersebut mulai berpindah ke jalur kanan untuk mendahului kendaraan mereka. Suara raungan mesin diesel yang berat dan deru angin yang timbul akibat kepakan lambung truk, sempat membuat celoteh Elora terhenti sejenak karena agak takut.
"Tidak apa-apa, Elora. Truknya hanya mau lewat duluan," ucap Hana menenangkan. Dia sedikit menggeser posisi mobilnya ke arah kiri, memberikan ruang yang lebih luas bagi kendaraan besar itu untuk melintas.
Setelah truk kontainer itu berhasil mendahului mereka dan kembali ke jalur kiri. Pandangan Hana ke arah depan sedikit terhalang oleh bodi belakang truk yang tinggi dan lebar. Jarak aman antara mobil Hana dan truk tersebut berkisar sekitar tiga puluh meter. Semuanya tampak berjalan normal dan terkendali.
Persimpangan jalan besar di depan mereka sudah mulai terlihat. Lampu lalu lintas di persimpangan itu masih menyala hijau. Truk di depan Hana terus melaju tanpa mengurangi kecepatan, bersiap untuk langsung melewati persimpangan sebelum lampu berubah warna.
Namun, tepat saat truk kontainer itu baru saja melewati garis marka persimpangan, sebuah mobil bak terbuka bermuatan besi bangunan nekat menerobos lampu merah dari arah kanan dengan kecepatan tinggi.
Pengemudi truk kontainer yang terkejut langsung menginjak rem secara mendadak hingga memicu suara decitan ban yang sangat memekakkan telinga. Bodi truk yang besar itu tergelincir, bergoyang hebat ke arah kanan dan kiri sebelum akhirnya berputar melintang. Menutup seluruh badan jalan di persimpangan secara instan. Beberapa batang besi dari mobil bak terbuka yang tertabrak mencuat ke udara, berhamburan jatuh ke atas aspal seperti hujan tombak yang mematikan.
Hana tersentak hebat, matanya melebar menangkap pemandangan mengerikan yang terjadi hanya beberapa puluh meter di depan moncong mobilnya. Waktu seolah berjalan sangat lambat di dalam kepala Hana. Insting pertahanannya langsung mengambil alih kendali tubuhnya.
"Elora, pegangan yang kuat!" teriak Hana dengan suara yang melengking panik.
Hana menginjak pedal rem sedalam yang dia bisa dengan kedua kakinya. Ban mobil minibus putih itu mencicit keras, bergesekan hebat dengan aspal panas hingga memicu asap tipis berbau karet terbakar. Tubuh Hana terdorong kuat ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang mencengkeram dadanya hingga terasa sesak.
Sistem pengereman mobil bekerja maksimal, tetapi momentum dan jarak yang terlalu dekat membuat mobil Hana terus meluncur ke arah bodi truk kontainer yang melintang di depan. Hana memutar roda kemudi ke arah kiri dengan sekuat tenaga, mencoba mengarahkan mobil ke bahu jalan yang kosong untuk menghindari benturan langsung dengan lambung truk.
Tindakan cepat Hana hampir berhasil menyelamatkan mereka. Namun, salah satu truk tangki air dari arah berlawanan yang juga mencoba menghindari kecelakaan utama, justru terpelanting ke arah yang sama dengan mobil Hana.
Benturan keras tidak dapat dihindarkan.
Suara dentuman logam yang beradu terdengar sangat memekakkan telinga, bersahutan dengan bunyi kaca yang pecah berhamburan. Bagian belakang samping kanan mobil Hana dihantam dengan kekuatan yang sangat besar oleh moncong truk tangki. Mobil minibus putih itu berputar dua kali di atas aspal, sebelum akhirnya terlempar keluar dari bahu jalan dan menghantam sebuah pohon angsana besar dengan posisi terbalik.
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti tempat kejadian perkara selama beberapa detik. Asap putih mengepul dari kap mesin mobil Hana yang sudah hancur tidak berbentuk. Bau bensin dan cairan radiator yang bocor menyengat udara di sekitar sana.
Hana membuka matanya dengan sangat perlahan. Dunianya terasa berputar hebat, diiringi oleh rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Cairan hangat berwarna merah kental mengalir dari pelipis kanannya, membasahi sebagian wajah dan menetes ke langit-langit mobil yang kini berada di bawah posisinya. Hana terengah-engah, mencoba mengumpulkan sisa kesadarannya yang terus meredup akibat benturan di kepala.
"Elora," bisik Hana dengan suara yang hampir tidak terdengar. Tenggorokannya terasa sangat kering dan perih seperti terbakar.
Hana mencoba menggerakkan tangan kanannya yang terasa sangat kaku dan linu. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia melepas pengait sabuk pengaman yang menjepit tubuhnya, hingga dia terjatuh ke atas tumpukan pecahan kaca jendela di langit-langit mobil. Hana mengabaikan rasa sakit yang menusuk telapak tangannya saat dia merangkak berbalik ke arah kursi belakang.
Pemandangan di bagian belakang mobil membuat jantung Hana seolah berhenti berdetak seketika.
Bagian kanan belakang mobil, tepat di tempat kursi khusus anak milik Elora terpasang, mengalami kerusakan paling parah akibat hantaman langsung dari truk tangki. Bodi mobil merangsek masuk ke dalam, menjepit kursi mungil tersebut. Elora berada di sana dengan posisi kepala yang terkulai lemas ke samping. Mata bulat yang biasanya berbinar cerah itu, kini terpejam rapat. Wajah polosnya terlihat sangat pucat, bersih dari luka luar yang besar, namun ada aliran darah tipis yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.
Boneka kelinci rajutan kesayangan Elora tergeletak tidak jauh dari sana, tercelup ke dalam genangan darah yang mulai melebar di atas karpet mobil.
"Elora, bangun sayang. Ini Ibu," panggil Hana dengan suara yang bergetar hebat. Air mata mengalir deras, bercampur dengan darah yang mengering di pipinya.
Hana mencoba menjangkau tubuh Elora, tetapi kakinya sendiri terjepit oleh patahan dasbor bagian depan yang melesak ke dalam. Dia tidak bisa bergerak maju lebih dari tiga puluh sentimeter. Hana mencengkeram sandaran kursi tengah, menariknya dengan frustrasi hingga kuku-kuku jarinya patah dan berdarah.
"Tolong! Siapa saja di luar, tolong anak saya!" teriak Hana histeris ke arah jendela mobil yang hancur. Suaranya terdengar parau, dipenuhi oleh keputusasaan yang teramat sangat.
Di luar, terdengar suara langkah kaki orang-orang yang berlarian mendekat, diikuti oleh sayup-sayup teriakan panik dari para pengguna jalan lain yang mencoba memberikan pertolongan. Beberapa pasang tangan kekar mulai mencoba menarik pintu mobil Hana yang sudah ringsek dan terkunci mati.
Hana tidak memedulikan orang-orang di luar. Fokus matanya hanya tertuju pada d**a Elora. Dia menunggu dengan napas tertahan, berharap bisa melihat gerakan naik turun yang menandakan bahwa putrinya masih bernapas. Namun, d**a mungil itu tetap diam, tidak bergerak sedikit pun di balik sabuk pengaman kursi khususnya.
"Elora, jangan tinggalkan Ibu. Tolong bangun, sayang. Ibu mohon," ratap Hana sambil terus mencoba menggapai ujung sepatu beruang yang dikenakan Elora.
Seorang pria berjaket kulit hitam berhasil memecahkan sisa kaca jendela belakang dengan menggunakan balok kayu. Dia melongokkan kepalanya ke dalam, terbatuk-batuk karena asap mesin yang semakin tebal merayap masuk ke dalam kabin.
"Mbak, bisa dengar saya? Pegang tangan saya, kita harus keluar sekarang sebelum mobil ini terbakar!" teriak pria itu sambil mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Hana.
"Selamatkan anak saya dulu! Tolong ambil anak saya di belakang!" jerit Hana sambil menunjuk ke arah Elora dengan pandangan mata yang liar penuh kepanikan.
Pria itu melihat ke arah posisi Elora, lalu terdiam sejenak. Wajahnya berubah menjadi sangat pucat, saat menyadari kondisi bagian belakang mobil yang sudah menjepit tubuh anak kecil itu sepenuhnya. Dia berteriak ke arah orang-orang di luar, meminta bantuan alat pemotong besi karena situasi di dalam sangat darurat dan berbahaya.
Dua orang warga lain ikut masuk melalui celah jendela yang hancur. Mencoba memotong sabuk pengaman yang menjepit kaki Hana terlebih dahulu, untuk mengeluarkannya dari area kemudi. Hana berontak dengan sisa tenaga yang dia miliki, menolak untuk ditarik keluar sebelum Elora diselamatkan.
"Lepaskan aku! Biarkan aku bersamanya! Elora!" teriak Hana dengan histeris, saat tubuhnya mulai diseret paksa keluar dari dalam mobil oleh para penolong.
Tepat saat tubuh Hana berhasil dikeluarkan dan dibaringkan di atas rumput tepi jalan yang kering. Terdengar suara sirine mobil ambulans dan pemadam kebakaran yang meraung-raung dari kejauhan. Kesadaran Hana sudah berada di ambang batas. Pandangannya mulai memburuk, kabur oleh air mata dan darah. Hal terakhir yang dia lihat sebelum semuanya berubah menjadi kegelapan total adalah, boneka kelinci rajutan milik Elora yang dilemparkan keluar dari mobil oleh salah seorang petugas penolong, tergeletak sendirian di atas aspal yang berdebu.