Cahaya remang dari bohlam tua di langit-langit ruang bawah tanah menjadi satu-satunya sumber terang ketika Elya terbangun. Tubuhnya kaku, tulang-tulangnya ngilu karena tidur di lantai dingin tanpa alas. Matanya sembab, kulitnya pucat, dan rasa lapar mulai menjerat perutnya dengan sakit yang mengiris.
Pintu besi terbuka dengan suara decit tajam.
Dua pelayan wanita berpakaian seragam hitam masuk, wajah mereka kosong seperti tak punya emosi.
"Bangun. Tuan memanggilmu," kata salah satu dengan dingin, lalu melemparkan sepotong roti kering ke lantai.
Elya ingin bertanya, tapi bibirnya terlalu kaku untuk membuka suara. Ia memungut roti itu, menggigitnya sedikit, lalu dipaksa keluar dan dibawa ke atas.
---
Penghinaan Pertama
Di lorong megah mansion itu, Elya merasa seperti tikus kecil yang tersesat di istana kegelapan. Setiap dinding dihiasi lukisan-lukisan mahal, dan kamera pengawas tersembunyi mengawasinya dari segala arah. Tak ada yang bicara padanya. Hanya tatapan curiga dan jijik dari para pelayan dan anak buah Leonhart yang berlalu-lalang.
Akhirnya ia tiba di ruang makan besar.
Leonhart duduk di ujung meja panjang, mengenakan kemeja putih dan dasi hitam. Di depannya hidangan lengkap terhidang: steak premium, anggur merah, dan roti hangat.
Elya berdiri terpaku di ambang pintu.
“Kau terlambat,” ujar Leonhart tanpa menoleh.
“A-aku... tidak tahu waktu, Tu—”
BRAK!
Sebuah gelas anggur melayang menghantam dinding di samping kepala Elya. Cairan merah mengalir seperti darah, membasahi lantai mahal itu.
“Di rumah ini,” ucap Leonhart, suaranya tenang namun mengandung racun, “kau tidak perlu bicara kecuali diperintah. Mengerti?”
Elya hanya mengangguk, menahan napas. Ia tak berani menangis. Tidak sekarang.
“Mulai sekarang, kau akan bekerja dari pukul lima pagi hingga tengah malam. Membersihkan rumah ini. Mencuci pakaian semua orang. Dan jika ada satu kesalahan...,” dia berdiri, perlahan mendekati Elya, lalu membisik di telinganya:
“...aku akan mematahkan jarimu satu per satu.”
---
Pekerjaan Neraka
Hari itu dimulai seperti neraka.
Elya disuruh menyikat kamar mandi pria-pria mafia yang bau dan kotor. Ia disuruh mencuci baju-baju berdarah. Kuku-kukunya penuh sabun, kulit tangannya melepuh. Saat makan siang, ia tidak diberi apa-apa kecuali sisa tulang ayam yang dilempar ke lantai.
Dan setiap kali ia hampir jatuh karena kelelahan, pelayan tua bernama Magda akan menamparnya.
“b***k tidak boleh lemah. Kalau kau pingsan, kami tinggal buang kau ke hutan.”
---
Siksaan yang Nyaris Mematahkan
Sore hari, Leonhart memanggilnya kembali. Kali ini ke ruang latihan, tempat anak buahnya biasa berlatih menembak.
Di sana, ia menyuruh Elya berdiri diam sambil memegang baki di atas kepala—selama satu jam penuh—tanpa boleh bergerak sedikit pun. Jika baki jatuh, ia dipukul dengan tongkat kayu.
Baki jatuh tiga kali.
Dan setiap kali pukulan mendarat di punggungnya, tubuh Elya terhuyung, bibirnya berdarah karena digigit agar tidak menangis.
Leonhart duduk di sudut ruangan, memperhatikannya seperti binatang dalam kurungan.
“Kenapa tidak menangis?” tanyanya pelan.
Elya menatapnya dengan mata basah tapi penuh kemarahan. “Karena aku tahu air mata tidak akan membuatmu berhenti.”
Untuk pertama kalinya, wajah Leonhart tak lagi datar. Ada sesuatu di sana—ketertarikan kecil, mungkin rasa penasaran.
---
Malam Sunyi
Ketika malam tiba dan semua pekerjaan selesai, Elya dipaksa kembali ke ruang bawah tanah. Kakinya gemetar, punggungnya perih, tangannya terluka. Tapi ia tidak menangis malam itu.
Ia hanya duduk di sudut ruangan, menatap dinding gelap, dan berbisik pada dirinya sendiri:
“Jika aku hidup sampai besok... aku akan bertahan sampai lusa.”
Di atas sana, di lantai atas mansion, Leonhart berdiri di balkon, menatap ke arah bulan. Di tangannya, segelas anggur merah bergetar.
Entah kenapa, pikirannya tidak bisa lepas dari gadis kecil yang dipanggil ‘b***k’.
Ia seharusnya biasa dengan manusia menderita. Tapi Elya... berbeda.
Dan justru itu yang membuatnya marah.