Malam-malam di mansion Vasiliev selalu sunyi. Tapi bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang membuat jiwa bergetar ketakutan.
Elya terbangun di ruang bawah tanah dengan rasa sakit di punggungnya masih menyengat dari hukuman kemarin. Ia ingin mengeluh. Ia ingin menjerit. Tapi tak ada yang akan mendengar. Dan lebih dari itu… tak ada yang akan peduli.
Ia bukan manusia di tempat ini.
Ia b***k.
---
Hari yang Berubah Arah
Pagi itu Elya kembali bekerja. Tangannya mulai kasar dan luka-luka. Saat menyapu lantai utama, seorang pria muda—salah satu anak buah Leonhart—menyenggolnya dengan kasar hingga ia jatuh tersungkur.
“Tch. Gadis kampungan. Bahkan sapu pun lebih berguna darimu,” cibir pria itu sambil tertawa bersama dua orang lainnya.
Elya menggertakkan gigi. Ia bangkit pelan, ingin membalas, tapi ia tahu tempatnya. Di rumah ini, dia tak punya hak bicara, apalagi membela diri.
Namun tanpa diduga—tawa para pria itu terhenti saat langkah berat bergema dari tangga.
Leonhart.
Ia berdiri di puncak tangga, jasnya rapi, matanya gelap.
"Ada apa di sini?" suaranya tajam, menusuk seperti pisau.
Tak satu pun anak buahnya berani bicara.
Leonhart turun perlahan, lalu berjalan melewati mereka, langsung menuju Elya yang masih menunduk sambil menggenggam sapu patah.
Ia mengangkat wajah Elya dengan ujung jarinya. Gadis itu menahan napas. Matanya memohon, namun mulutnya tetap diam.
“Siapa yang mendorongmu?” tanya Leonhart pelan.
Elya diam.
Leonhart menatapnya beberapa detik, lalu memutar tubuh. Ia mendekati salah satu pria—yang tadi paling keras tertawa—dan tanpa peringatan, menembak lututnya.
DOR!
Jeritan pria itu menggema di seluruh mansion. Darah mengalir deras di lantai marmer putih.
Elya terpaku. Tubuhnya gemetar. Bukan karena ketakutan… tapi karena terkejut. Ia tidak pernah melihat seseorang dibela. Bahkan oleh iblis sekalipun.
Leonhart berbalik menatapnya. “Jangan pernah diam saat seseorang menyakitimu. Aku mungkin iblis, tapi aku benci kelemahan yang diam.”
Lalu ia berjalan pergi seolah-olah yang baru saja ia lakukan hanyalah menumpahkan teh.
---
Benih yang Tumbuh dari Darah
Elya kembali ke ruang bawah tanah malam itu dengan pikiran kacau. Apa maksud semua ini? Kenapa Leonhart melindunginya? Apakah itu perlindungan… atau hanya pelajaran tentang kekuasaan?
Di lantai atas, Leonhart berdiri di ruang kerjanya. Di tangannya masih ada pistol berasap. Tapi pikirannya tidak berada di ruangan itu.
Ia teringat mata Elya. Mata yang keras kepala namun penuh luka. Mata yang mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu.
Ibunya.
Seorang wanita miskin dari desa kecil yang mati di tangan ayahnya—mafia tua kejam yang dulu menganggap manusia hanya sebagai alat.
Leonhart memejamkan mata. Ia tidak ingin ingat. Ia tidak ingin peduli.
Tapi… ia sudah mulai peduli.
Dan itu membuatnya marah.
---
Siksaan Baru
Keesokan harinya, siksaan datang bukan dalam bentuk pukulan… tapi manipulasi.
Leonhart memanggil Elya ke ruang tengah. Ia memerintahkan gadis itu berdiri di depan semua anak buahnya.
"Mulai hari ini, kau akan belajar bagaimana menjadi pelayan pribadi aku," ucapnya.
Semuanya terdiam. Beberapa tampak jijik. Yang lain… penasaran.
Leonhart memerintahkan Elya untuk menyuapinya. Menuangkan minumannya. Mengikat dasinya. Jika ada yang salah, bahkan sedikit… seluruh staf akan menyaksikan hukumannya.
Satu kesalahan kecil saat menuang anggur, dan Leonhart langsung menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya ke meja.
BUGH!
“Bodoh,” katanya dingin. “Kau tak punya otak atau hanya terlalu takut untuk menggunakannya?”
Darah menetes dari dahi Elya. Tapi gadis itu tetap berdiri. Ia menatap Leonhart langsung.
“Kau bisa membunuhku kapan saja… tapi itu tidak akan membuatmu menjadi manusia.”
Untuk sesaat… waktu seolah berhenti.
Ruangan hening.
Leonhart hanya menatapnya, dalam diam. Tatapannya berubah—sedikit, nyaris tak terlihat. Tapi ada sesuatu yang bergolak di balik matanya yang beku.
Sesuatu yang seperti… luka lama.
---
Malam Panjang Dua Jiwa Terpenjara
Malam itu, Leonhart tidak bisa tidur.
Ia berdiri di balik jendela kamarnya, menatap hujan salju yang terus turun tanpa henti.
Sementara di bawah sana, di ruangan gelap dan beku, Elya duduk bersandar ke dinding, tangannya membelai luka di kepalanya.
Dua jiwa. Dua luka. Dua dunia.
Namun keduanya terhubung oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar p********n atau kekuasaan.
Sesuatu yang perlahan… akan tumbuh menjadi cinta.
Tapi cinta di dunia seperti ini… tidak datang tanpa darah dan air mata.