Bagian 1 – Bayangan yang Retak
Suasana malam masih pekat ketika Arsen Digantara duduk di ruang tamu rumah tua itu. Sisa pertempuran semalam masih terasa—bau mesiu, kaca pecah, noda darah di lantai kayu yang belum sempat dibersihkan. Matanya kosong menatap jendela, tetapi pikirannya penuh dengan ribuan kemungkinan yang berputar.
Rafael berjalan masuk dengan langkah berat. “Aku baru saja selesai menghubungi beberapa orang. Informasi yang kudapat… tidak akan mudah untuk kau dengar.”
Arsen menoleh cepat. “Apa itu?”
Rafael menatapnya lama, lalu menyalakan sebatang cerutu. Asap mengepul di udara, menambah suasana muram. “Ada seseorang di lingkaran kita yang memberikan informasi pada mereka. Setiap langkah kita, setiap persembunyian… selalu mereka ketahui.”
Alena yang sejak tadi diam di pojo