Bagian 1 – Luka yang Membuka Jalan
Malam setelah hari yang kacau itu terasa panjang. Gedung pernikahan sudah kosong, lampu-lampu padam, hanya sisa-sisa bunga gugur berserakan di lantai marmer. Di sudut gedung, Alena duduk sendirian, gaunnya masih melekat di tubuhnya, wajahnya pucat karena lelah dan air mata.
Arsen menghampiri pelan. Jas hitamnya sudah terlepas, dasinya longgar, wajahnya letih, tapi tatapannya tetap kokoh. Ia duduk di samping Alena, tanpa berkata apa pun.
Alena menghela napas panjang. “Semua ini… tidak pernah aku bayangkan, Arsen. Aku bahkan tidak tahu harus merasa lega atau takut.”
Arsen menatap lurus ke depan, seolah menatap masa depan yang samar. “Aku juga tidak pernah merencanakan ini. Tapi aku tahu satu hal… aku tidak menyesal memilihmu.”
Kalimat itu membuat Alena