Bagian 1 – Luka yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh
Malam itu, langit Jakarta dipenuhi mendung kelabu. Angin berhembus kencang seolah membawa bisikan masa lalu yang belum selesai. Arsen berdiri di depan jendela apartemennya, menatap keluar tanpa benar-benar melihat.
Alena melangkah pelan mendekat. Tangannya menyentuh lembut punggung Arsen.
“Kau masih memikirkan dia, kan?” bisiknya.
Arsen menoleh, menatap Alena dengan mata lelah. “Aku tidak bisa begitu saja berhenti memikirkan luka yang ditinggalkan ibuku. Semua yang kulakukan sampai hari ini… ada kaitannya dengan janji yang kubuat di atas pusaranya.”
Alena menggenggam tangan Arsen erat-erat. “Janji itu yang membuatmu kuat. Tapi kau juga harus sadar, Arsen, bahwa hidupmu bukan hanya tentang masa lalu. Ada aku di sini, ada kita. Jangan b