Bagian 1 – Rencana yang Disusun dalam Gelap
Rafael duduk di ruang hotelnya, cahaya kota yang berkilau menyorot wajahnya yang penuh amarah. Ia menatap peta jaringan bisnis Digantara Group di layar laptopnya, setiap cabang, setiap aliran dana, setiap titik kelemahan. Baginya, ini bukan sekadar bisnis—ini medan perang.
“Anak itu sudah merenggut semua yang kuciptakan selama puluhan tahun,” gumamnya, meremas gelas anggur hingga hampir pecah. “Tapi dia belum tahu, aku masih punya jalan.”
Nadine, yang duduk anggun di kursi seberang, menyesap minumannya dengan santai. “Rafael, kau terlalu emosional. Balas dendam tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru. Kalau kau ingin menjatuhkan Arsen, buatlah dia runtuh bukan hanya di perusahaan, tapi juga di hati orang-orang yang dia cintai.”
Rafael menol