Bagian 1 – Luka yang Menggantung
Sirene ambulans meraung di jalan malam itu. Jakarta seperti berhenti sejenak ketika kendaraan putih itu melaju menembus keramaian. Di dalamnya, tubuh Alena terbujur lemah di atas tandu, darah masih mengalir dari luka tembak di dadanya.
Arsen duduk di sampingnya, menggenggam tangan yang semakin dingin. “Bertahanlah, Lena. Jangan tinggalkan aku…” suaranya serak, nyaris pecah.
Dokter di dalam ambulans bekerja cepat, memasang infus, menekan luka dengan perban. “Kita sudah kehilangan banyak darah! Tekan lebih kuat!” seru salah satu perawat.
Alena sempat membuka mata, samar, memandang Arsen yang wajahnya basah oleh air mata. Bibirnya bergetar, mengeluarkan suara lirih. “Ars… jangan menangis… aku… masih di sini.”
Arsen menunduk, mencium keningnya penuh gemeta