Bagian 1 – Janji di Balik Luka
Pagi itu, langit berawan, seakan menyembunyikan sinar matahari yang biasanya menyapa hangat. Hari yang seharusnya penuh sukacita bagi sebagian orang, bagi Arsen dan Alena justru bercampur dengan luka yang masih terasa.
Alena masih dalam masa pemulihan. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat, namun matanya memantulkan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Di kursi roda yang mendorongnya ke pelaminan sederhana itu, ia tampak seperti bunga yang bertahan mekar meski badai telah berulang kali mencoba mematahkan kelopaknya.
Arsen berdiri di depan altar kecil yang mereka siapkan di taman rumah sakit. Setelan jas hitam melekat sempurna, namun sorot matanya bukanlah sorot seorang CEO dingin yang dikenal banyak orang. Kini, ia hanyalah seorang pria yang menunggu separuh jiwa