Makan malam disajikan di ruang yang lebih kecil, namun tak kalah suram. Meja kayu panjang membentang, diterangi lilin yang nyalanya bergoyang setiap kali angin menyelinap dari celah jendela. Bu Sukma dan seorang pelayan muda bernama Tarjo menghidangkan sup labu yang masih mengepul, lalu mundur ke bayang-bayang.
Renjana duduk di tengah, memanfaatkan posisi untuk mengamati semua orang sekaligus. Tujuh tamu, termasuk dirinya. Selama beberapa menit hanya terdengar dentingan sendok dan desau kabut di luar. Akhirnya lelaki berkumis itu memecah keheningan.
"Karena tuan rumah kita yang misterius belum juga muncul," katanya, "barangkali kita bisa saling mengenal. Saya Bram Sasongko. Pengusaha properti dari Surabaya." Ia menepuk dadanya seolah nama itu seharusnya berarti sesuatu.
Satu per satu yang lain mengikuti, sebagian enggan.
Perempuan berambut pendek itu Kirana Maheswari, seorang perawat dari sebuah rumah sakit di kota. Pria berkacamata yang sedari tadi mencatat memperkenalkan diri sebagai Damar Pradipta, dosen sejarah. Perempuan berkalung mutiara, dengan suara selembut sutra, adalah Nyonya Anindya Wirasena, janda seorang konglomerat. Lelaki atletis yang bersandar tadi kini duduk dengan punggung tegak; namanya Gilang Saputra, mantan polisi yang kini bekerja sebagai pengawal pribadi. Dan pendeta tua itu, dengan suara serak namun jernih, memperkenalkan diri sebagai Romo Yohanes.
"Dan Anda?" Bram menatap Renjana.
"Renjana. Penulis." Ia memilih kata yang setengah benar. Mantan jurnalis terdengar terlalu mengundang pertanyaan.
"Penulis apa?" tanya Damar, pena masih di tangannya.
"Apa pun yang dibayar," jawab Renjana, dan beberapa orang tertawa kecil, kegugupan yang dibungkus humor.
"Pertanyaan yang lebih penting," potong Gilang, suaranya datar dan tajam seperti mantan polisi sejati, "adalah kenapa kita semua di sini. Saya menerima undangan tanpa nama. Aroma parfum. Satu kalimat tentang hal yang terkubur. Saya yakin kalian semua menerima yang sama."
Hening sejenak. Lalu, satu per satu, mereka mengangguk. Renjana merasakan bulu kuduknya berdiri. Dugaannya benar. Mereka semua dipancing dengan kail yang sama.
"Saya datang," kata Nyonya Anindya pelan, jemarinya mempermainkan kalung mutiara, "karena kalimat itu menyentuh sesuatu yang sangat pribadi. Sesuatu yang saya kira hanya saya yang tahu."
"Saya juga," bisik Kirana, wajahnya pucat.
Bram menggebrak meja, membuat lilin bergoyang liar. "Jadi ini semacam pemerasan! Seseorang tahu rahasia kita masing-masing dan mengumpulkan kita di sini untuk—untuk apa? Mempermalukan kita? Menuntut uang?"
"Kalau memang pemerasan," sahut Romo Yohanes tenang, "kenapa harus di tempat sejauh ini, dipisahkan kabut dan longsor? Pemeras ingin dekat dengan korban, bukan menguncinya bersama di satu ruangan."
Kata-kata pendeta itu menggantung di udara, dingin dan logis. Renjana merasakan logika itu menusuk. Ini bukan pemerasan biasa. Ini sesuatu yang lebih gelap.
"Mungkin," kata Damar perlahan, mendorong kacamatanya, "kita harus bertanya bukan apa kesamaan kita, tapi apakah kita pernah saling bersinggungan. Tempat yang sama. Waktu yang sama. Peristiwa yang sama."
Renjana mencengkeram sendoknya. Vila peristirahatan di pegunungan. Mawar. Tiga tahun lalu. Mulutnya hampir terbuka untuk bertanya, tapakah ada di antara mereka yang pernah mendengar tentang adiknya, ketika lampu di ruangan tiba-tiba berkedip.
Sekali. Dua kali. Lalu padam total.
Kegelapan menelan ruangan. Hanya nyala lilin yang tersisa, melukiskan wajah-wajah panik dalam guratan oranye. Seseorang—Kirana, sepertinya—memekik tertahan.
"Tenang," suara Gilang menggelegar di kegelapan. "Cuma listrik. Vila tua seperti ini pasti pakai genset. Bu Sukma!"
Tidak ada jawaban. Bu Sukma dan Tarjo entah ke mana.
Renjana meraba meja, menemukan tepiannya, lalu berdiri. Di tengah kepanikan itu, ia merasakan sesuatu yang aneh—angin dingin yang lebih kuat, seakan sebuah pintu terbuka di suatu tempat. Dan di balik desau kabut, samar-samar, ia mendengar suara langkah kaki di lantai atas. Langkah yang tak seharusnya ada, karena semua tamu duduk di ruang makan ini.
"Kalian dengar itu?" bisiknya.
"Dengar apa?" tanya Anindya, suaranya gemetar.
Sebelum Renjana menjawab, lampu menyala kembali. Cahaya membanjiri ruangan seketika, membuat semua orang menyipit.
Dan di kepala meja, di kursi yang semula kosong—kursi tuan rumah—kini tergeletak selembar kartu. Putih, polos, kecuali tujuh nama tertulis dengan tinta merah.
Bram. Kirana. Damar. Anindya. Gilang. Yohanes. Renjana.
Di bawah ketujuh nama itu, satu kalimat:
*Salah satu dari kalian sudah mati sebelum fajar.*