Napas Kenzo perlahan teratur. Rasa kantuk yang sudah lama ia rindukan akhirnya datang juga. Suara hujan di luar jendela tak lagi mengingatkan luka masa lalu. Kali ini ia menyatu dengan alunan suling, jadi irama yang menenangkan hati.
Keesokan harinya, langit Jakarta masih mendung. Hujan turun lebih pelan, tapi tak berhenti, membuat suasana kota terasa sejuk dan agak kelabu. Sejak siang, Kenzo sulit berkonsentrasi penuh di ruang kerjanya. Matanya sering melirik jam dinding, menghitung waktu sampai malam tiba. Jantungnya berdegup aneh — ada rasa penasaran, harapan, sekaligus sedikit ragu yang sudah lama tak ia rasakan.
Asisten dan rekan kerjanya merasa aneh. Biasanya Kenzo tegas, tajam, dan hanya bicara soal angka serta target. Hari ini ia sering melamun, suaranya pun tak setajam biasanya. Beberapa kali ia minta rapat ditunda, dan setiap ada langkah kaki lewat koridor, ia selalu menoleh seolah menunggu seseorang.
“Tuan Kenzo, apakah ada yang kurang enak badan hari ini?” tanya Pak Hendra, asisten pribadinya yang sudah melayani lebih dari sepuluh tahun. Ia hafal betul kebiasaan majikannya, dan perubahan ini terasa sangat jelas.
Kenzo hanya menggeleng pelan lalu menarik napas panjang. “Tidak apa-apa, Hendra. Hanya… cuaca hari ini bikin pikiran melayang ke mana-mana.”
Pak Hendra mengangguk saja, meski tahu jawaban itu tak sepenuhnya jujur. Tapi ia tak berani bertanya lebih jauh. Dalam hatinya ia mencatat: sejak gadis bernama Anisa datang, ada perubahan halus tapi nyata pada Tuan Kenzo.
Saat jarum jam tepat menunjuk pukul sembilan malam, pintu ruangan di lantai 88 diketuk pelan.
“Masuk,” panggil Kenzo, dan tanpa sadar detak jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Pintu terbuka. Berdiri di ambang pintu adalah Anisa. Ia berpakaian rapi tapi sederhana — kemeja katun krem dan rok panjang sopan, rambutnya disisir rapi lalu diikat ke belakang. Di tangannya tergenggam erat suling bambu kesayangannya. Wajahnya tenang, tapi matanya sedikit berbinar, seolah ia juga menantikan pertemuan ini.
“Selamat malam, Tuan Kenzo,” sapa Anisa lembut, suaranya terdengar jelas di ruangan yang luas dan hening.
Kenzo menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk. “Selamat malam. Silakan masuk, jangan sungkan.”
Malam itu, alunan suling kembali memenuhi ruangan. Lagunya berbeda dari malam sebelumnya — kali ini nadanya lebih lembut, mengalir seperti air sungai di tengah hutan. Menceritakan kedamaian, kesederhanaan, dan keindahan alam yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Dan sekali lagi, badai di hati Kenzo perlahan reda — seolah gadis itu punya kekuatan yang tak dimiliki obat atau dokter mana pun.
Kenzo memejamkan matanya sepenuhnya, membiarkan setiap nada masuk ke dalam hatinya. Ia bisa membayangkan suasana desa yang diceritakan Anisa — udara segar, kicau burung, ketenangan yang tak bisa dibeli dengan harta seberapa pun. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia tak lagi terjebak dalam pikiran gelap dan rasa sakit yang berulang.
Tanpa sadar, pertemuan yang awalnya hanya dianggap perjanjian biasa, perlahan menumbuhkan benih perasaan yang jauh lebih dalam — sesuatu yang tak bisa diukur dengan uang atau kekuasaan apa pun.
Saat nada terakhir perlahan berhenti, Kenzo merasakan matanya terasa berat — bukan karena lelah yang menyiksa, tapi karena damai yang membuatnya ingin terlelap.
Anisa menurunkan sulingnya, napasnya teratur. Ia menatap Kenzo yang masih memejamkan mata, tak berani bergerak sedikit pun. Tak ingin merusak ketenangan yang baru tercipta itu.
“Kamu boleh duduk,” suara Kenzo terdengar lembut, matanya masih terpejam. “Di sofa itu. Jangan pergi dulu.”
Anisa terkejut, tapi segera mengangguk. Ia berjalan menuju sofa kulit besar di sudut ruangan, lalu duduk sopan, menjaga jarak tapi tetap merasa aman. Ia menatap ke luar jendela, melihat hujan yang masih turun perlahan, dan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip.
Kenzo perlahan membuka matanya. Pandangannya jatuh pada gadis itu — sederhana, apa adanya, tapi membawa sesuatu yang tak bisa dibeli oleh kekayaannya. Di balik penampilan biasa, ia melihat ketulusan, kebaikan hati, dan kedamaian yang sudah lama hilang dari hidupnya.
“Besok malam datang lagi. Jam yang sama,” ujar Kenzo tegas tapi tidak memerintah, lebih seperti meminta.
“Baik, Tuan,” jawab Anisa pelan sambil mengangguk.
“Dan… terima kasih,” tambahnya pelan, hampir tak terdengar, seolah malu mengucapkannya.
Anisa tersenyum tipis — senyum tulus dan hangat yang menyinari seluruh wajahnya. “Sama-sama, Tuan. Semoga malam ini Tuan bisa beristirahat dengan tenang.”
Ia berdiri hendak pergi, tapi saat tangannya menyentuh gagang pintu, Kenzo bicara lagi: “Pak Hendra sudah menunggu di lobi. Jangan naik taksi sembarangan. Ia akan mengantarmu sampai depan rumah kos.”
Anisa menoleh, matanya terkejut dan berbinar mendengar perhatian itu. “Terima kasih banyak, Tuan. Saya sangat berterima kasih.”
Pintu tertutup perlahan. Kenzo duduk sendirian, masih merasakan sisa ketenangan di ruangan itu. Ia menatap ke luar jendela, melihat hujan yang masih turun — tapi malam ini ia tak merasa sendirian. Di dalam hatinya tumbuh rasa baru yang membuatnya merasa hidup kembali.
Di lantai bawah, di dalam mobil yang dikemudikan Pak Hendra, Anisa menatap keluar jendela dengan hati yang ringan dan damai. Ia tak tahu, pertemuan yang awalnya dianggap tugas tambahan, perlahan mengubah takdir mereka berdua, membawa mereka masuk ke dunia yang penuh rahasia, perasaan terpendam, dan cinta yang tak terduga.
Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, membiarkan pikirannya melayang. Ia sadar betul ada jarak yang sangat jauh antara dirinya dan Kenzo — beda status, harta, lingkungan, dan cara pandang hidup. Tapi malam ini ia hanya ingin menikmati kebahagiaan kecil ini, berharap bisa terus membantu pria yang terlihat begitu kuat tapi menyimpan luka yang dalam.
Saat mobil berhenti di depan rumah kosnya yang sederhana, Pak Hendra menoleh dan tersenyum ramah. “Hati-hati, Nona Anisa. Besok malam saya jemput lagi jam yang sama.”
“Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya sangat berterima kasih atas bantuannya,” jawab Anisa sambil membuka pintu.
“Tidak perlu sungkan. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Kenzo. Semoga Nona juga bisa istirahat dengan baik,” balas pria paruh baya itu sopan.
Anisa masuk ke kamarnya yang kecil tapi selalu ia jaga bersih dan rapi. Ia meletakkan suling bambunya di atas meja, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil memandang alat musik itu. Suling ini sudah menemaninya sejak usia dua belas tahun, pemberian kakeknya yang dulu pengrajin suling terbaik di desanya.
“Suling ini bukan cuma alat musik, Nak,” pesan kakeknya dulu. “Ia jembatan antar hati. Menyampaikan apa yang sulit diucapkan kata-kata. Pakailah untuk membawa kedamaian, bukan untuk menyakiti.”
Malam itu Anisa memegang suling itu erat-erat, mengingat pesan kakeknya. Ia bersyukur alat musik sederhana ini bisa menjadi obat bagi Kenzo, meski ia sadar ia tak akan pernah bisa masuk ke dunia yang sangat berbeda itu.
Sementara itu, di lantai 88, Kenzo akhirnya berbaring di tempat tidurnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia memejamkan mata tanpa rasa gelisah, tanpa kebisingan di kepala, dan tanpa takut pada malam yang panjang. Ia terlelap dengan tenang, membawa harapan baru bahwa hidupnya bisa kembali berwarna.
Keesokan harinya saat matahari terbit, Kenzo bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia membuka mata perlahan, sadar ia benar-benar tidur nyenyak sepanjang malam tanpa terbangun sedikit pun. Ia duduk, merasakan tubuh yang segar dan pikiran yang jernih — tak lagi berat dan gelap seperti biasanya.
Ia melangkah ke jendela, membuka tirai lebar-lebar. Sisa hujan semalam masih membasahi dedaunan, dan udara pagi terasa sangat segar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tersenyum tulus — bukan senyum formal di depan publik atau rekan bisnis.
“Ternyata masih ada hal yang bisa mengubah segalanya,” gumamnya pelan.
Ia segera memanggil Pak Hendra. “Siapkan surat perjanjian kerja tambahan untuk Anisa. Berikan gaji yang layak, dan pastikan ia tak merasa terbebani. Jaga juga keamanannya selama pergi pulang malam hari.”
Pak Hendra mengangguk, terkejut tapi senang melihat perubahan majikannya. “Baik, Tuan. Segera saya kerjakan.”
Sepanjang hari itu suasana kantor terasa berbeda. Kenzo kembali fokus bekerja, tapi kali ini dengan semangat dan tenaga baru. Ia tak lagi melamun atau terlihat lelah, melainkan bekerja efisien dan tegas seperti biasanya — tapi dengan aura yang lebih tenang dan tak lagi terasa dingin.
Saat sore menjelang, pikirannya kembali melayang pada malam nanti. Ia menunggu saat di mana ia bisa mendengar alunan suling itu lagi, saat ia bisa merasa damai dan menjadi dirinya sendiri tanpa memakai topeng kekuatan yang selalu ia kenakan.
Dan di tempat lain, Anisa juga menantikan malam itu dengan perasaan campur aduk — senang bisa membantu, hormat pada majikannya, dan sadar akan batas yang memisahkan dunia mereka. Keduanya belum sadar: pertemuan ini baru saja menjadi awal dari kisah yang akan mengubah takdir mereka selamanya.