Bunyi ombak membangunkan Reyna. Bukan bunyi alarm, bukan bunyi kendaraan, hanya gulungan air yang datang dan pergi tanpa tergesa-gesa, dan untuk beberapa detik ia lupa sedang berada di mana. Lalu ia melihat langit-langit kayu cottage, kelambu putih yang bergoyang tertiup angin, dan bahu telanjang suaminya yang membelakanginya di tepi ranjang.
"Kamu ngapain?" tanyanya dengan suara serak.
"Menutup cermin."
Reyna bangkit setengah duduk. Reynand berdiri di depan lemari rias, merentangkan handuk putih di atas cermin besar, lalu menepuk-nepuk sisinya sampai rata. Di kamar mandi, pintunya terbuka, dan cermin di sana sudah lebih dulu tertutup handuk yang lain.
"Rey, kita sudah tiba semalam jam satu, setelah macet panjang di tol dan satu ban kempis. Kamu sudah memeriksa semua cermin waktu itu. Aku lihat sendiri."
"Memeriksa sebelum tidur itu satu hal. Memastikan sesudah bangun itu hal lain." Ia menoleh dan tersenyum kikuk. "Alvin masih ingat sosok di cermin restoran waktu kita liburan. Aku tidak mau bulan madu kita ditonton dari balik kaca."
"Aku mau lihat wajahku sendiri. Sejak akad wajahku cuma ada di foto."
"Wajahmu bagus."
"Itu bukan jawaban."
Reynand mengambil handuk dari cermin rias dengan dua jari, seolah menarik kain dari kandang singa. Cerminnya hanya memantulkan wajah mengantuk Reyna, rambut berantakan, dan pipi dengan bekas bantal. Tidak ada yang lain. Reynand menghembuskan napas lega yang kedengaran sampai ke luar kamar.
"Puas?" tanya Reyna.
"Lumayan."
"Komandan."
"Ya, Bu Dokter?"
"Kita cuma punya empat hari. Jangan habiskan satu di depan lemari rias."
***
Cottage mereka menghadap pantai selatan yang sepi: pasir kelabu, karang hitam di sisi kiri, dan sebaris pohon pandan yang miring ditiup angin. Mereka menghabiskan pagi dengan berjalan kaki tanpa tujuan, makan ikan bakar di warung satu-satunya yang buka, dan tidur siang di bale-bale. Dua kali Reyna memergoki Reynand menatap ponsel yang sudah dimatikan di tas, dan dua kali ia menjauhkan tas itu dengan kaki.
Menjelang sore, mereka duduk berdampingan di pasir yang mulai teduh. Matahari turun pelan di ujung laut dan mewarnai air menjadi jingga tua. Reyna memeluk lututnya.
"Ceritakan," katanya.
Reynand tidak bertanya apa maksudnya. Ia meraih segenggam pasir, membiarkannya mengalir lewat sela jari, lalu menatap ombak.
"Dua tahun lalu aku di rumah sakit itu karena kasus. Korban kecelakaan, pemuda dua puluhan, aku menunggu keterangannya untuk berkas. Dokter bilang operasinya darurat dan aku boleh menunggu di lorong depan kamar bedah." Suaranya datar, seperti orang membaca laporan, tetapi jarinya meremas pasir. "Menunggu lama. Lampu operasi menyala sampai lewat tengah malam. Lalu lampunya mati, dan seorang perawat keluar tanpa bicara. Aku tahu artinya."
Reyna mendengarkan tanpa memotong.
"Aku berdiri mau pulang. Dan dari ujung lorong yang lain, yang arahnya gelap, aku mendengar jeritan. Bukan jeritan kesakitan. Seperti orang yang berteriak tanpa suara, tapi tetap terdengar." Ia menelan ludah. "Aku lari. Di sana ada dokter perempuan, berlutut di lantai, tanpa penutup kepala, rambutnya lepas. Tangan kirinya terangkat seperti ada yang menarik dari atas."
"Aku?"
"Kamu." Ia tersenyum tipis. "Dan di pergelangan tanganmu ada benang merah, tipis, seperti urat yang keluar dari kulit. Berdenyut. Aku belum pernah melihat yang seperti itu. Tapi aku tahu itu bukan benda biasa."
Reyna menatap pergelangan kirinya sendiri, di mana dua putaran garis tipis itu diam di bawah kulit.
"Aku tidak berpikir," lanjut Reynand. "Aku berlutut dan memegang tanganmu. Ketika jariku menyentuh benang itu, bunyinya seperti senar gitar putus. Pendek, tajam. Lalu benangnya hilang."
"Lalu?"
"Kamu menoleh. Matamu kosong. Kamu bilang satu kata saja, lirih sekali." Reynand menatapnya. "Ajaib."
Dada Reyna terasa sesak. "Cuma itu? Satu kata?"
"Cuma itu. Satu kata, lalu kamu terkulai. Aku menangkap kamu sebelum kepalamu membentur lantai."
"Terus?"
"Sebentar saja kamu tak sadar. Ada dokter jaga muda yang membantu menaikkan kamu ke brankar. Aku tidak mau mengingat wajahnya sampai Arman membisikkan itu di pelaminan." Ia menggeleng pada dirinya sendiri. "Konyol, kan? Dua tahun aku tidak suka mengingat siapa yang menolongku menolong kamu."
"Sedikit konyol."
"Sedikit." Ia tertawa kecil, tetapi tawanya tidak sampai ke mata. "Besoknya aku datang lagi. Aku tanya perawat di mana dokter yang kemarin. Mereka kasih namamu. Reyna Briliana Ardiaz. Aku kira kamu akan canggung, karena aku orang asing yang melihat kamu berlutut di lantai, sedang menangis. Tapi kamu menatapku dengan sopan dan bilang, 'Maaf, Pak, kita pernah bertemu?'"
Angin laut meniup rambut Reyna menutupi sebelah wajahnya. Ia tidak menyingkirkannya.
"Dan aku tidak ingat apa pun," bisiknya.
"Kamu ingat operasinya. Kamu ingat pasiennya. Tapi lorong itu, aku, benang itu, kosong. Seperti halaman yang dirobek rapi."
Reyna menggigit bibir. Ia ingin marah pada dirinya sendiri, pada ingatan yang membuang malam paling penting tanpa izin, tetapi yang keluar justru air mata. Satu jatuh, lalu satu lagi, dan ia menyekanya dengan punggung tangan dengan gerakan kasar.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Kamu menyimpan itu dua tahun sendirian dan aku..."
"Rey." Reynand menggeser duduknya hingga bahu mereka beradu. "Kamu tidak berutang apa pun. Kamu tidak berutang maaf, tidak berutang ingatan."
"Tapi itu malam kita."
"Itu malam kita." Ia mengangguk perlahan, dan suaranya merendah. "Dan karena kamu tidak ingat, aku yang menyimpannya. Setiap detiknya. Bau antiseptik, lampu yang berkedip, bunyi benang itu putus. Aku ingat untuk kita berdua."
Reyna menyandarkan kepala di bahunya. Ombak datang dan pergi dengan irama yang sama. Di kejauhan, matahari tinggal separuh, dan ia membiarkan air matanya jatuh tanpa malu sampai langit berubah ungu.
***
Malamnya mereka makan mi rebus di beranda, berselimutkan sarung yang sama, dengan lampu minyak kecil yang dipinjamkan pemilik warung. Reynand membuatkan teh dan menyerahkannya dengan dua tangan, gaya seorang pelayan restoran yang sangat serius.
"Tehnya terlalu manis," kata Reyna sesudah satu teguk.
"Itu gula untuk menebus air matamu tadi sore."
"Gombal."
"Itu laporan." Ia menyesap tehnya sendiri dan meringis karena sama manisnya. "Boleh aku tanya satu hal?"
"Sekarang kamu minta izin?"
"Aku belajar dari Ayahmu." Reynand meletakkan cangkir. "Kalau cerita tadi membuatmu ingin berhenti, bilang saja. Aku tidak akan mengejar."
"Tadi aku sengaja minta supaya kamu terus," jawab Reyna. "Aku cuma mau tahu satu hal juga. Setelah aku bilang 'Maaf, Pak, kita pernah bertemu', kamu jawab apa?"
Sudut bibir Reynand naik, pelan, dan wajahnya yang tadi muram berubah seperti langit sehabis hujan. "Aku bilang tidak, belum pernah. Tapi mudah-mudahan mulai sekarang."
"Dan aku?"
"Kamu tertawa. Kamu bilang aku sok puitis untuk seorang polisi." Ia menggeleng, masih tersenyum. "Besoknya aku kembali bawa pisang goreng, karena aku tidak tahu harus membawa apa untuk seorang dokter bedah."
"Pisang goreng."
"Dan kamu makan tiga."
Reyna tertawa, sungguh-sungguh, sampai bahunya berguncang dan selimut sarung melorot. Rasa sesak di dadanya belum hilang, tetapi kini ada sesuatu di sampingnya yang lebih hangat daripada rasa bersalah.
Menjelang tidur, ia berdiri di depan cermin rias yang masih tertutup handuk, menyingkapnya sedikit, dan memeriksa wajahnya sebentar. Hanya wajahnya. Di belakangnya Reynand sudah berbaring, pura-pura tidak mengawasi.
Reyna menutup cermin lagi, lalu naik ke ranjang dan menarik selimut. Ia melirik pergelangan kirinya, dan di bawah cahaya lampu tidur ia melihat garis tipis itu bergerak. Hanya sedikit, seperti makhluk kecil yang menggeliat dalam tidurnya, lalu diam kembali.
Reyna menyentuh lengan suaminya. "Rey. Benangnya bergerak."
Reynand membuka mata seketika, seperti tidak pernah tidur. Ia memandang pergelangan itu lama, lalu menutupnya dengan seluruh telapak tangannya yang hangat.
"Sudah diam?"
"Sudah."
"Kalau begitu kita catat, dan besok kita lihat lagi." Ia menarik Reyna mendekat. "Tidur. Aku yang pegang."